Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 17


__ADS_3

"Beneran ini tempatnya, Pa?" Rea yang berjalan sembari mengapit tangan Reno memindai sekitar, "kelihatannya benar, Sayang," Reno kembali melihat alamat juga lokasi yang Mas Seno berikan lewat ponsel mahalnya.


"Permisi, benar anda Tuan Reno?" seorang gadis berusia 21 tahun memakai seragam bertuliskan restaurant tersebut menyapa Reno yang terlihat bingung, Rea dan Reno mengangguk bersamaan.


"Mari ikut saya, anda sudah di tunggu Tuan Fernandes," gadis itu mempersilahkan Reno menaiki tangga menuju ruangan tertentu, Rea dan Reno mengangguk kemudian berjalan sesuai arahan gadis itu.


Mereka berhenti di sebuah ruangan, gadis itu mengetuk pintu dan langsung membuka pintunya.


"Tuan, tamu yang anda tunggu sudah datang," ucap gadis itu yang langsung di angguki Tuan Fernandes, "silahkan masuk Tuan, Nona," gadis itu kembali mempersilahkan Reno dan Rea yang tadi berhenti di sampingnya untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


"Halo tuan Reno," Tuan Fernandes berdiri lalu menghampiri Reno yang berjalan kearahnya, lalu menyalami dan menyuruhnya duduk.


"Ini?" Tuan Fernandes menunjuk Rea yang mengekori ayahnya, Reno tersenyum lalu menjawab, "dia Tuan putri saya," tuan Fernandes langsung mengerti maksud dari perkataan Reno.


"Kelas berapa cantik?" Tuan Fernandes mengusap lembut kepala Rea, namun segera dia tarik karena melihat wajah tak ramah dari anak kliennya tersebut.


"Dia baru kelas 7," Reno yang menjawab, Tuan Fernandes mengangguk sambil tersenyum, netranya melihat bed yang bertuliskan nama di mana Rea sekolah, seutas senyum tercetak di bibirnya.

__ADS_1


"Duduk dulu," titahnya yang langsung mendapat anggukan oleh Reno, 'kenapa aku merasa gadis ini cocok dengan Raditya, keduanya terlihat angkuh tapi kelihatannya dia gadis yang manja.' Tuan Fernandes membatin, selang beberapa menit mereka duduk, beberapa wanita berseragam restaurant ini membawa nampan dan di atasnya berbagai menu masakan dan mereka letakkan di atas meja tak jauh dari mereka.


Rea tersenyum melihat menu makanan kesukaannya, Tuan Fernandes yang mencuri pandang tanpa sadar juga ikut tersenyum. Tuan Fernandes sempat melihat Rea berbisik yang langsung diangguki oleh Reno.


Kening Tuan Fernandes mengkerut heran saat Rea maju, lalu mengambil sambal goreng kentang dan nasi, lalu telur mata sapi sebagai lauknya, setelah itu Rea duduk kembali. Reno hanya mengusap lembut kepala putrinya, "Oya, Tuan, apa air putih dingin dan buah, terserah buah apa," ucap Reno tidak enak, Tuan Fernandes mengangguk lalu menelepon bagian kitchen dna meminta apa yang Reno minta tadi.


"Sudah mulai rapatnya?" seorang wanita berjalan dengan anggun, memakai gaun berwarna merah muda dan sepatu model pump berwarna hitam.


"Baru saja mulai kok, Sayang," Tuan Fernandes menjawab, netra Nyonya Fernandes melirik keberadaan Rea yang sedang asyik makan dan tampak tidak terganggu.


Saat Nyonya Fernandes duduk di samping suaminya, pintu terbuka dengan tergesa, "sorry mam, tadi-" Raditya tidak melanjutkan ucapannya saat netranya menangkap sosok gadis yang tengah sibuk makan tanpa melihat sekitar.


Tanpa sadar, kakinya melangkah menuju di mana Rea berada, duduk di sebelahnya lalu menatap gadis yang masih belum menyadari keberadaan, "enak?" Rea mendongak sebentar kemudian kembali menyuapkan sendok berisi makanan yang tadi ia makan.


"Maaf, dia memang begitu. Tidak akan perduli pada sekitar jika sudah menemukan sesuatu yang dia suka, sama seperti saya," lagi, Rea acuh dan masih memilih menghabiskan makanan yang tinggal sedikit.


"Tidak apa apa, Tuan Reno. Gadis seperti itu sudah langka," Rea menghentikan tangannya yang hendak menyuapkan makanan, kemudian menatap tajam pada Tuan Fernandes.

__ADS_1


Tuan Fernandes tertawa, "anda benar, dia mirip anda saat masih muda," Nyonya Fernandes juga ikut tertawa, sedikit banyak dirinya mengenal dan paham akan rekan bisnis sang suami, juga mengenal beberapa di antara mereka.


"Radit, kalau mau makan ambil saja dulu," Raditya tidak menoleh, entah kenapa melihat gadis ini ada keasyikan dan kesenangan tersendiri bagi dirinya.


Nyonya Fernandes dan Tuan Fernandes saling senggol, kemudian membisikkan sesuatu yang langsung di angguki Tuan Fernandes, "Tuan Reno, bagaimana kalau kita menjodohkan putra putri kita, ya sebagai penyambung kerjasama kita juga menyambung silahturahmi di antara kita," Tuan Fernandes berucap pelan.


Reno menunduk sebentar sambil melirik putrinya, "mereka masih kecil, Tuan," jawabnya yang langsung terkekeh, membayangkan putrinya meninggalkan dirinya rasanya Reno tidak akan ikhlas.


"Pa, Rea keluar dulu ya. Papa lanjutin aja ngobrolnya," Rea meletakkan piringnya yang sudah kosong, lalu menandaskan segelas air putih dan mengambil buah jeruk dan apel lalu berdiri.


"Kamu ngapain ngikutin akuuu!" kesal Rea karena Raditya mengekori dirinya, "ck, gue mau keluar dan jalan jalan," kilah Raditya yang sebenarnya ingin berjalan jalan dengan gadis yang unik ini.


"Ya sudah sana keluar dulu," ucap Rea angkuh, kemudian menghentikan langkahnya dan menopang kedua tangannya di depan dada, tuan dan Nyonya Fernandes menggeleng tidak percaya.


"Sayang," Reno menegur karena merasa tidak enak, "hish," Rea menghentakkan kakinya kelantai lalu kembali duduk di samping ayahnya, menatap kesal Raditya yang tidak juga keluar malah berdiri di sana dan menatap dirinya.


"Sana, katanya mau pergi!" ketus Rea yang membuat Raditya mendelik tak percaya, Reno menarik nafas perlahan lalu menarik kepalanya dan menyandarkan di bahunya yang lebar, "tuan putri Papa, Jangan marah marah," Rea mendongak lalu cemberut mendengar permintaan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2