Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 82


__ADS_3

Saat makan siang Reno memilih makan di sana, meminta wanita yang dia cintai untuk memasakkan apa yang ingin dia makan. Tentu saja Reno akan membayar jika sudah selesai.


"Ra, kenapa dari tadi kau melamun?" Reno meletakkan sendok di atas piring yang sudah berkurang setengah dari isinys tadi. Ara menarik nafas lalu menatap malas pada Reno, hal itu semakin membuat Reno penasaran.


"Ada apa, hmm? Ayah angkat kamu bikin ulah lagi?" cecar Reno dengan nada khawatir, Ara menggeleng pelan.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sama Fajar sepupuan?" Ara menatap tajam wajah pria yang kini kembali menyendokkan nasi dan sayur kedalam mulutnya.


"Kamu nggak tanya," sahut Reno santai, Ara mendengus kesal.


"Kalau aku tahu dia sepupumu aku tidak akan memberinya harapan dulu," suar Ara terdengar pelan, Reno menghentikan gerakan menyuapnya.


"Kamu menyukainya?" tanya Reno dengan nada cemburu, "iya," Ara menjawab sambil menunduk.


"Huft," Reno menghembuskan nafas melalui mulut, lalu berdiri mengambil dompet yang berada di sakunya. Mengeluarkan dua lembar kertas berwarna merah dan berjalan ke kasir, menyerahkan uang tersebut kepada mbak Siti yang kini menggantikan Ara duduk manis di sana.


Tanpa kata, Reno berjalan menghampiri Ara yang masih duduk dan menatap bingung dengan tingkah pria itu.


"Aku kembali ke kantor dulu," pamit Reno setelah mendaratkan kecupan singkat di kepala Ara bagian belakang, Ara diam saja tidak menjawab.


"Dia kenapa?" tanyanya pada dirinya sendiri, kemudian menepuk kening dan segera berlari menyusul Reno yang baru memasukkan anak kunci ke mobilnya.

__ADS_1


"Kak, tunggu!!" Ara berteriak, Reno menoleh lalu tangannya masih kembali membuka pintu mobil itu.


"Kamu marah?" tanyanya hati hati, di lihatnya pria itu kini tengah berdiri dengan gusar. Entah apa yang di pikirkan.


"Kak, kamu nggak mau ngajak aku pergi jalan jalan?" Ara masih menatap lekat wajah Reno, "maaf aku ada rapat," jawabnya terdengar kecewa dan segera memilih masuk kedalam mobil.


"Kak, aku mau bicara," Ara membujuk Reno yang sedang merajuk, "masuklah, aku kembali ke kantor," kata Reno yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


"Aarrggh, sakit," Ara memegang kepalanya dan mundur dari mobil Reno, berjongkok dan memegang kepalanya yang sebenarnya tidak kenapa napa.


"Ra!" Reno memekik kaget dan segera mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu itu lalu keluar.


"Ra," Reno memanggil Ara kembali, Reno heran karena sudah tidak terdengar suara mengaduh dari bibir Ara. Bahu Ara bergetar karena menahan tawa, telah sukses mengerjai seorang CEO yang dingin dan arogan seperti kekasihnya. Akan tetapi di mata Reno, wanitanya itu sedang menangis menahan sakit hingga tidak bersuara.


"Tuan Reno, mbak Ara kenapa?" mbak Siti yang melihat kekasihnya tuan mudanya berjongkok kemudian bertanya setelah mendekat.


Ara memekik kala tiba-tiba Reno mengangkat tubuh mungil nya dan memasukkan kedalam mobilnya, Reno tidak memperhatikan wajah Ara karena terlalu khawatir, di pikirannya kini hanya membawa Ara ke rumah sakit. Mbak Siti mengerutkan kening karena heran, heran melihat wajah khawatir tuan mudanya sedang Ara malah tersenyum sambil menatap pria itu.


"Mbak titip resto, saya mau bawa Ara kerumah sakit," pamit Reno tergesa, "tapi tuan, mbak Ara-" Reno meletakkan jari telunjuknya di bibir dan menggeleng, pertanda Mbak Siti harus diam dan menurut.


Mbak Siti mengangguk patuh sambil mengatupkan kedua bibirnya, Reno menyalakan kembali mesin mobilnya dan menjalankan kendaraan roda empatnya meninggalkan resto milik Ara.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, kita kerumah sakit dulu. Aku akan minta dokter memeriksa dan memberi vitamin yang terbaik untukmu," Reno fokus kejalan dan masih belum tahu jika Ara baik baik saja dan tengah memperhatikan dirinya.


"Sial," umpat Reno kesal sambil tangannya yang mengepal memukul setirnya, jalanan agak macet adalah penyebab pria itu marah.


"Sabar, Kak," Ara mengusap lembut lengan Reno yang berbalut kemeja berwarna putih tulang, "tapi kamu-" Reno menoleh dan menatap lekat wajah Ara.


"Kamu nggak papa?" Reno meletakkan punggung tangannya di kening Ara, "masih sakit nggak kepalanya?" Reno terus saja bertanya.


"Ke apartemen kak Reno saja ya," bukannya menjawab, Ara malah mengajak Reno ke apartemen nya.


"Ngapain kita kesana?" Reno kembali melajukan kendaraan roda empatnya karena sudah agak lenggang.


"Aku mau tidur," kata Ara santai, Reno mengangguk dan dengan cepat melajukan mobilnya kearah apartemen biasa dirinya tinggal.


Sesampainya di lantai kamarnya, Reno memarkirkan mobilnya dan keluar lalu membukakan pintu untuk Ara, wanita itu tersenyum sebagai ucapan terima kasih.


Satpam penjaga lantai ini menyapa Reno dan Ara, seperti biasa, Reno tak menanggapi sapaan tersebut.


"Kok ganti kak satpamnya?" tanya Ara penasaran, jika dia kesini pasti bukan yang ini.


"Entah," sahut Reno cuek, baginya tak penting keberadaan orang orang itu, hanya Ara dan Omanya saja yang paling penting. Ara cemberut mendengar jawaban acuh Reno

__ADS_1


Reno memasukkan beberapa nomor sebagai kata sandi agar bisa masuk setelah memasukkan kartu identitasnya. Ara segera berlari ke kamar Reno dan di susul Reno.


Sesampainya di kamar, Ara menghempaskan bobotnya di kasur biasa dirinya dan Reno tidur jika datang ke sini.


__ADS_2