Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 51


__ADS_3

"Maksudnya gimana, kenapa Fajar harus memecat mbak Santi?" Rara menatap Reno dan Fajar bergantian.


"Maksud tuan Reno, agar Mas Fajar menyampaikan pada bosnya untuk memecat teman anda itu. Orang yang bekerja seenak hati, itu maksud tuan Reno," Mas Seno menjelaskan maksud perkataan Reno.


Rara masih menatap Mas Seno, "ck, kenapa kau melihat dia seperti itu," Reno menarik kepala Rara dan menyembunyikan wajahnya di dadanya yang bidang, lagi lagi aroma parfum itu menghipnotis Rara.


Masih banyak pertanyaan yang ingin Rara lontarkan pada pria yang tengah memeluk dirinya saat ini, akan tetapi entah kenapa pelukan, dan dekapan ini terasa nyaman bagi dirinya dan pertanyaan yang hendak dia tanyakan menguar begitu saja.


Lampu ruang operasi padam, Rara segera menarik kepalanya dari dekapan Reno dan berdiri lalu berjalan cepat menuju kesana. Di susul Ria dan yang lainnya.


"Bagaimana operasi ayah saya, Dok?" tanya Rara begitu dokter yang mengoperasi ayahnya keluar, sang dokter mengulas senyum ramah.


"Ayah anda baik baik saja, Mbak Rara," Rara memegang dadanya dan bernafas lega, "sudah aku bilang 'kan ayahmu akan baik baik saja," bisik Reno yang berdiri tepat di belakang Rara, karena terkejut Rara mundur dan punggungnya menabrak dada Reno. Rara merasakan kepalanya di kecup oleh Reno.


"Syukur, Alhamdulillah ya Allah," Kak Fandi dan Om Ridwan mengucap syukur dan berterima kasih.

__ADS_1


"Kapan ayah saya akan di bawa ke kamarnya?" Rara begitu antusias, tidak terasa netranya mengembun. Bahagia akhirnya bisa melihat ayahnya akan pulih dan bisa melakukan pekerjaan seperti biasa.


"Sebentar lagi, Mbak Rara, sabar ya," tangan dokter itu menggantung di udara, niat ingin menghibur dengan mengusap lengan atau bahu Rara dia urungkan karena mendapat tatapan tajam dari Reno.


Beberapa menit kemudian brangkar yang mengangkut ayah Rara keluar dari ruangan operasi tersebut, ayah Rara masih memejamkan mata karena efek obat bius.


"Sudah aku bilang ayahmu akan baik baik saja," ucap Reno sambil memeluk Rara dari belakang, hidungnya yang mancung dia gesek gesekkan oada pipi Rara, saat ini mereka sudah berada di kamar tempat ayah Rara menginap. Dan hanya ada Rara, Reno dan ayahnya yang belum sadar.


"Eemm," Rara mencoba melepas pelukan tersebut, akan tetapi semakin erat yang Rara rasakan. Ada apa ini, kenapa kau memperlakukan aku seperti pacarmu yang asli, kita ini cuma berpura-pura pacaran! pekik hati Rara.


"M-m-mas, tidak enak jika di lihat orang," lirih Rara masih bergerak tidak nyaman.


'Dari dulu?' gumam Rara dalam hati, netranya menatap Reno yang memilih memejamkan mata dari pada memandang dirinya.


'Apa maksudnya dari dulu, aku memang begini. Apa aku mengenal dia?' berbagai pertanyaan bersarang di benaknya, namun tidak berani dia suarakan.

__ADS_1


"Masuk!" perintah Rara pada si pengetuk pintu, Ria masuk dengan muka di tekuk, di belakangnya ada Kak Fandi, Om Ridwan, Fajar dan Mas Seno mengikuti.


"Kenapa kami ngga boleh masuk sih, Kak?" protes Ria, netranya menatap sang ayah yang masih belum sadar.


"Hah? Maksud kamu gimana?" Rara benar-benar tidak paham akan perkataan adiknya, "ah sudah lah lupakan," kesal Ria, Rara melirik kearah Mas Seno meminta penjelasan.


"Syukurlah ayahmu berhasil, Ra," Fajar mendekat tapi sedikit memberi jarak, dan menatap Mas Seno sesekali.


"Iya," hanya itu yang keluar dari bibirnya.


"Semoga ayah kamu lekas pulih ya, Ra," doa dari Om Ridwan, Rara hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Udaranya panas, gue keluar dulu!" ketus Reno sambil menepuk pelan bahu Mas Seno, Rara mengernyit heran. Kenapa lagi dengan Om Reno, gumam Rara dalam hati.


Semua mengucapkan syukur atas berhasil nya operasi ayah Rara, entah kenapa pikiran Rara masih terpusat pada perkataan Om Reno tentang dirinya.

__ADS_1


Apa Rara mengenal Om Reno sebelumnya, tapi di mana, kapan? Sungguh Rara lupa dan tidak merasa mengenal serta pernah bertemu dengan Om Reno. Ah entahlah, biar saja nanti juga dia akan ingat jika dulu pernah bertemu dengan Om Reno.


Hai kawan, saya mengucapkan Minal Aidzin wal fa Idzin, Mohon maaf lahir dan batin. Selamat merayakan hari kemenangan ya, jaga kesehatan.


__ADS_2