Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 91


__ADS_3

Masih di hari yang sama, dering ponsel Reno membuat tas yang di bawa Ara bergetar, dengan sedikit kesal Ara mengambil ponsel itu dan melihat ID si penelepon, senyumnya merekah, nama Om Indra terpampang di sana.


Dengan segera tanpa Ara menggeser ikon bergambar telepon di aplikasi berwarna hijau tersebut menjadi video call.


"Halo, tante," suara manja menyapa indera pendengaran seorang wanita di sana, "Ara," sapa wanita yang Ara panggil tante yang tak lain adalah tantenya, tante Rina.


"Tumben tante telepon kak Reno?" tanya Ara heran, tak tahu saja dia, keluarga bundanya sering berkirim pesan juga bertukar suara guna memantau dirinya. Hanya satu yang Reno belum ceritakan, tentang Ria yang akan di jual. Seandainya pria itu bercerita, pasti mereka akan meminta Ara tinggal di desa dan Reno tak mau itu terjadi, karena sama saja harus berpisah.


"Tante rindu kamu," kata tante nya yang malah membuat Ara tergelak, netranya melirik seorang pria yang tengah duduk menyamping di sebelah tantenya.


"Om Indra," Ara memanggil pria yang tengah duduk di samping tantenya, pria itu menoleh dan Ara memekik kaget saat melihat wajah pria yang dia kira adik dari ayahnya.


"Om Indra kenapa? Om Indra jatuh?" netra Ara berkaca kaca, sedang pria di seberang yang sedang menatap wajah Ara netranya juga berkaca kaca, 'putriku,' gumamnya dalam hati.


"Ra, ada apa?" Reno yang baru masuk ruangan segera berlari dan menekuk lututnya di di depan perempuan yang sedang duduk di sofa kantornya kala melihat netra Ara basah oleh airmata.


"Kak, Om Indra kenapa?" tanyanya sambil mengalihkan kamera depan yang memperlihatkan wajah seorang pria dengan wajah separuh terluka, dan Reno tahu itu adalah ayah kekasihnya.


"Emm, Om jatuh. Dan pekan kemarin aku langsung kesana waktu mereka ngabarin, tapi...." Reno mengaduh kala lengannya di pukul bertubi tubi.

__ADS_1


"Harusnya kamu bilang, Kak!" Ara menjerit kesal, "dia adik ayahku, berarti dia ayahku juga," tumpah sudah airmata Ara, dengan segera Reno menarik perempuan itu kedalam dekapan nya perlahan tangan itu mengambil ponsel yang masih Ara pegang dan panggilan itu masih terhubung, "ini yang membuat aku ngga mau kamu tahu, kamu pasti akan sedih," Reno melirik ayah Andri yang juga tengah mengusap airmatanya.


'Sekuat itu tali ikatan darah di antara kami, hingga putriku juga ikut sedih kala melihat aku terluka, apa yang akan terjadi jika dia tahu aku bukan Indra, tapi Andri ayah kandungnya?' gumam ayah Andri di dalam hati.


Selang beberapa menit, hati Ara sudah membaik setelah menumpahkan rasa sedih nya.


"Oya, tante mau bertanya, kenapa ponsel nak Eno kamu yang bawa?" tanya tante Rina lembut, Reno hanya menggaruk keningnya yang tak gatal lalu melirik perempuan yang tengah duduk di sebelahnya dengan menatap sangar padanya.


"Ara sita tante," bukan Reno yang menjawab, akan tetapi Ara sendiri. Semua orang terperangah heran.


"Kok di sita?" kini sang nenek yang bertanya, Ara terkekeh mendengar pertanyaan dari nenek nya.


Sedang Reno mengaku tak mengenal perempuan itu, bahkan perempuan itu semakin gencar menelepon siang dan malam membuat Reno risih hingga akhirnya bercerita pada Ara dan berakhir membuat Ara cemburu hingga akhirnya ponsel Reno dia sita, masalah kantor biar Mas Seno yang menerima dan menyalurkan ke ponsel yang ada nomer Ara, intinya mereka bertukar ponsel dan nomernya juga.


Ara berceloteh dan menanyakan banyak hal, sedang Reno mengerjakan pekerjaan yang sedikit tertunda karena tiga hari kemarin sibuk menemani Ara mengurus restonya.


Sesekali terdengar gelak tawa yang keluar dari mulut Ara dan itu membuat ayah Andri merasa senang, walau tidak bicara dengan putrinya, akan tetapi mendengar suara dan tawanya mengobati rindu di hatinya selama beberapa tahun terakhir.


Benar kata ibu mertuanya dan adik iparnya, putrinya ini mirip istrinya, namun mata dan bibir itu mirip dirinya. Setelah beberapa menit bercanda, mereka menutup sambungan telepon tersebut. Tujuan utama memberi kabar Reno untuk menyiapkan tempat dan waktu operasi ayah Andri harus tertunda, karena tak mungkin mereka berkata di depan Ara.

__ADS_1


"Kak," Ara memanggil Reno yang tengah sibuk dengan laptopnya, Reno menghentikan kegiatan nya dan memutar badan menghadap kekasihnya.


"Kenapa aku merasa Om Indra tadi bukan seperti Om Indra yang pertama kali aku temui ya, saat melihat mata itu, aku seperti melihat mataku," tutur Ara seraya membayangkan wajah adik ayahnya dan memilih fokus ke mata itu, Reno menoleh dan menatap kearah lain sejenak.


"Ra, seandainya ayah kamu masih hidup, kamu bagaimana?" Ara terkejut dengan pertanyaan Reno, "bukankah ayah sudah meninggal sejak aku kecil, lalu bagaimana caranya ayah bisa hidup kembali?" tanya Ara bingung.


"Namanya seandainya, Ra," Reno terkekeh sambil mengusap poni Ara, bukan sekarang waktu nya perempuan ini tahu jika ayahnya masih hidup dan yang tadi dia lihat adalah ayahnya.


Tiba-tiba Reno kepikiran, untuk apa sang tante menelepon dirinya. Tak mungkin kan hanya kangen, biarlah nanti Reno menelepon mereka lagi.


*****


Di desa, "bagaimana, senang bisa melihat wajah Ara?" ayah Andri mengangguk sambil tersenyum, "dia tumbuh dengan cantik," ujarnya sambil tersenyum lagi.


"Mungkin nanti nak Eno menelepon lagi setelah tak bersama Ara," nenek Ara mengusap lembut punggung ayah Andri, pria itu mengangguk mengerti.


Walau tak sabar ingin memeluk putrinya yang baru saja dia lihat, akan tetapi harus ia pendam terlebih dahulu untuk memberi kejutan.


"Tenang saja, Bang. Kelak kau yang akan menjadi wali Ara saat keponakan ku itu menikah dengan pria itu," Om Indra yang baru datang menimpali, ayah Andri mengangguk. Berharap semua ini lekas membaik agar selamanya bisa hidup berdampingan dengan anak menantu dan calon cucunya kelak.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Kau melahirkan putri putri yang cantik, walau salah satunya harus ikut dengan mu," gumam ayah Andri lirih.


__ADS_2