Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Sesion 2 part 1


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


"Rea, ayah Anton mohon. Boleh ya, ayah ajakin bunda Ria keluar," Anton memohon seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada dan memelas menatap gadis kecil berusia 7 tahun.


"No," gadis kecil itu menggelengkan kepalanya seraya menopang kedua tangannya di depan dada, Anton berdecak gemas.


"Please, Rea anak pintar, anak cantik, anak kesayangannya ayah Anton, bunda Ria, Papa Reno dan masih banyak lagi," Anton terus memohon, akan tetapi Rea masih keukeuh dengan penolakan nya. Ria hanya mengulum senyum melihat tingkah keponakan kesayangannya itu.


"Kenapa sih, kamu harus keras kepala kaya ayahmu, harusnya kamu itu lembut kaya alm mama Ara," kata Anton kelepasan, seketika wajah galak itu menunduk, tangan mungil nya menyeka airmatanya.


Rea memang mirip Reno, selalu lemah dan sensitif mengenai Ara. Ria memukul pelan lengan suaminya tersebut, matanya memberi kode jika sang keponakan kesayangannya sedang bersedih. Anton mendelik dan tersadar, kemudian ia meraih lengan kecil Rea yang langsung di tepis gadis kecil itu. Gadis kecil itu segera berlari meninggalkan Ria dan Anton yang merasa bersalah.

__ADS_1


"Sudah di bilang, jangan membahas Kak Ara," ujar Ria gemas lalu mencubit pinggang sang suami, "jadi sedih 'kan itu Rea," Ria kembali berujar dan ikut berlari menyusul ke kamar Rea, sedang Anton mengusap wajahnya berulang kali.


"Habis gue kali ini, bukan cuma Reno yang ngomelin gue. Bokap nyokap gue pasti juga akan ngomelin gue, ah, cantik, kenapa kamu harus kaya papa kamu sih," Anton kembali mengusap wajah kasar dan menendang angin.


Rencana hari ini Anton dan Ria yang sudah menikah dua tahun lalu setelah kepergian nenek karena sakit sakitan yang selalu memikirkan dan merindukan Ara, adalah kerumah mamanya karena sang mama rindu dengan menantunya.


Sebenarnya sang mama juga meminta Anton membawa Rea, kedua orang tua Anton begitu menyayangi dan mencintai gadis kecil itu sedari lahir. Mereka ikut merasa bersedih kala mendengar Ara tiada setelah melahirkan kedua anak anaknya, dan mereka berdua ikut mengerahkan semua orang dan anak buah mereka untuk mencari keberadaan putra dari Reno dan Ara yang telah di culik sebelum dua jam bayi itu lahir. Namun hasilnya sama saja, tidak ada yang bisa menemukan keberadaan bayi laki laki kembaran Rea tersebut.


"Bunda pergi saja sana sama ayah, Rea mau di kamar aja. Mau jadi anak baik biar kaya Mama Ara!!" ucapnya sambil berteriak, sekali lagi Ria mengumpat kebodohan sang suami yang sering berkata ceplas ceplos.


"Rea itu anak baik, ayah Anton saja yang nggak paham. Tadi ayah Anton udah bunda jewer telinganya kok, sekarang buka ya pintu nya," Ria kembali meminta, wanita itu menempelkan kepalanya di pintu berbahan kayu berwarna cokelat tua itu.

__ADS_1


"Bagaimana?" Anton yang baru menyusul bertanya, lelaki itu meringis karena Ria kembali mencubit pinggangnya. Selang beberapa menit terdengar deru mobil memasuki garasi, Anton benar benar panik dan takut jika Reno memukul dirinya.


"Reaaa, Sayanggg," terdengar suara menggelegar memanggil nama gadis yang sedang mengunci dirinya di dalam kamar, "sial," umpat Anton yang melirik Ria yang terlihat lebih tenang.


"Bantuin napa, Yank," Ria mencebik mendengar permintaan sang suami, "lho kalian ngapain di sini?" Reno yang sudah memanggil nama putrinya dan tak mendapat sahutan akhirnya menghampiri ke kamarnya, karena ia yakin sang putri berada di kamar.


"Tuan putri baru ngambek," kata Ria sambil melirik kearah Anton dan tersenyum geli melihat wajah pias sang suami.


Reno mengikuti arah mata Ria, dan kemudian ia berdecak. "Kamu apain dia lagi? Kemarin kamu janji mau ngajak dia jalan jalan belum jadi, trus sekarang apa lagi," ujar Reno terdengar kesal.


"Gue-" Anton melirik kearah istrinya meminta pembelaan.

__ADS_1


"Ayah bilang Rea anak nakal, Rea bandel kaya papa. Ayah bilang Rea harusnya mama Ara!!" Rea yang mendengar suara papanya segera turun dari tempat tidurnya dan berlari membuka pintu.


__ADS_2