Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 125


__ADS_3

Pak Gito berlari menyelamatkan dirinya sendiri, dan membiarkan teman temannya tertangkap polisi. Kini Pak Gito kebingungan harus bersembunyi di mana, tidak mungkin juga ia pulang dan bersembunyi di dalam rumah, para polisi itu pasti bisa menebak dan menangkapnya dengan mudah.


"Sial, kenapa Andri harus masih hidup sih. Dan kenapa dia terlihat baik baik saja, harusnya dia cacat atau hilang ingatan seperti anak bodohnya itu. Rani, kenapa kau di kelilingi orang orang yang menyebalkan," gerutu Pak Gito, kini lelaki paruh baya itu duduk bersembunyi di rumah kosong depan rumahnya.


Nafasnya naik turun dan tangannya memegang dada, sesekali mulutnya menghembuskan nafas agar udara yang masuk bisa keluar dan paru parunya terisi dengan udara dengan baik.


"Pasti bocah gemblung itu ikut bekerja sama dengan Andri," oceh Pak Gito masih mengerutu sedang hidungnya kembang kempis mencari udara, bocah gemblung yang ia maksud adalah Reno.


Tak berselang lama, pak Gito melihat mobil pajero berwarna hitam berhenti di depan rumahnya. Dan selang beberapa menit ada beberapa pria berpakaian biasa turun dari mobil itu, dan salah satunya ada pria yang telah menangkap kedua temannya tadi. Pak Gito bersyukur sekaligus memaki dalam hati, bersyukur karena bisa lolos dan memaki karena para temannya yang suka berjudi sudah tertangkap.


Di balik bangunan yang atapnya tidak utuh dan tidak ada jendela, Pak Gito melihat para lelaki itu mengetuk pintu rumahnya berulang kali bergantian, hingga tetangga sebelah terlihat datang dan menghampiri. Pak Gito tidak mendengar percakapan mereka, namun ia berpikir jika polisi itu pasti menanyakan keberadaan dirinya.


Pak Gito tersenyum lega kala melihat para polisi itu menaiki mobil itu dan meninggalkan rumahnya, "ck, aku harus kemana?" gumam Pak Gito bingung harus kemana untuk sekarang ini.


Flasback on.


Polisi yang menyamar menyerahkan secarik kertas pada temannya yang tadi membukakan pintu, Sapto Dan Tino temannya itu terlihat membaca alamat tersebut.

__ADS_1


Dan polisi itu terus mendesak jika itu adalah alamat yang diberikan pamannya, namun Tino bersikeras jika itu alamat yang ia cari. Hingga Sapto menengahi dan mengatakan jika di sini hanya ada mereka berdua dan Pak Gito, polisi itu masih keukeuh tentang alamat itu hingga adu mulut pun terjadi dan tiba-tiba polisi itu mengeluarkan pistol dan menodongkannya di kepala Tino.


Tino yang ketakutan berteriak minta tolong dan Sapto segera berlari keluar mencoba menyelamatkan diri, namun naas ada polisi yang sudah menghadang dirinya.


Mereka terancam, Pak Gito segera berlari keluar tanpa membawa ponselnya yang tadi ia letakkan saat baru datang.


Flashback off


"Dasar otak mesum, jika kalian tak kaya aku juga ogah berteman dengan kalian. Dan semoga hukuman kalian lama sehingga kalian lupa akan hutangku pada kalian, huh, ini semua gara gara anak sial itu, Ria. Kenapa dia harus kabur, jika dia tak kabur kan lumayan, dia bisa aku jadikan pemuas nafsu para hidung belang seperti si Sapto dan Toni itu.


Tap sekarang dia malah bekerja dengan teman bocah gemblung itu. Kalau sudah begini aku tidak bisa macam macam, bocah gemblung itu pasti sudah menyuruh anak buahnya menjaga Ria dan anak Andri itu."


"Tunggu," Pak Gito membuka mata saat ingat sesuatu, "tadi itu penangkapan atas kasus Ria atau apa?" maksud gumaman Pak Gito adalah kasus tentang ia dan kedua temannya yang melakukan penjualan soal anaknya atau penangkapan karena perjudian yang mereka lakukan.


Pak Gito belum tahu dan belum sadar jika penjara menanti dirinya dengan beribu kasus, pertemuan dirinya dengan Om Indra yang ia kira Ayah Andri masih membuat ia belum sadar jika mereka sudah tahu penyebab kecelakaan yang Ayah Andri alami bertahun tahun lalu, kemudian kasus rencana pembunuhan atas Rara dan Ara, atas penjualan Ria sebagai penebus hutangnya pada Sapto dan Tino, dan terakhir Om Ridwan yang kini juga tengah melaporkan dirinya atas kasus penipuan.


Ya Om Ridwan telah mendengar cerita yang mengalir dari mulut Kak Fandi, anaknya, tentang betapa jahat dan kejamnya lelaki yang ia anggap sahabat itu dan memutuskan akan melaporkan kelakuannya yang telah membuat ia rugi berjuta juta banyaknya.

__ADS_1


Om Ridwan begitu menyayangi putranya- Kak Fandi, sehingga ia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan putranya tersebut, termasuk saat Pak Gito menawari Rara atau Ara agar menjadi istri dari putranya, dan kebetulan Kak Fandi pun menyukai sosok Ara atau Rara pada pandangan pertama saat pertemuan Pak Gito akan di operasi, walau dulu sering bertandang kerumah Pak Gito saat Rara masih kecil, Kak Fandi belum memiliki perasaan cinta dan sayang seperti ini.


Pak Gito juga belum sadar jika akibat ulahnya, Om Amir harus merugi dan bekerja keras karena Reno memutuskan akan mengambil keuntungan yang agak banyak darinya akibat ulah Dion yang hampir melecehkan Ara waktu itu, jika tidak maka Dion akan masuk bui dengan tuduhan pelecehan, Om Amir yang semula tidak mau terpaksa harus tunduk dan mengalah demi putranya tidak masuk bui.


***


Di rumah sakit, Ayah Andri segera datang berlari saat Reno mengabari dirinya jika Ara sudah sadar dan bisa mengingat semua kejadian saat di desa, dan Ayah Andri dengan semangat empat lima segera meninggalkan kantor yang baru saja ia datangi.


Ayah Andri sudah meminta Reno membelikan bangunan kecil untuknya usaha, namun memberikan kantornya yang lama tidak terpakai, lebih tepatnya dulu bangunan itu ia sewakan saat Reno memutuskan akan bertahan di luar negeri karena mendengar kematian Ara nya, dan ia kembali ke negara ini karena lelah mendengar mamanya terus saja menjodohkan dirinya dengan anak sahabatnya.


Bangunan itu menganggur karena pengkontrak bangunan itu sudah habis dan ingin memperpanjangnya, semula Reno setuju namun saat beberapa minggu lalu ayah Andri mengabari menyuruhnya mencarikan gedung untuknya mengembangkan bisnisnya, Reno membatalkan perpanjanngan itu dan mengalihkan kegedung bangunan milik Anton.


Anton tak masalah karena ia sudah memiliki bangunan kantor yang lain maka ia mengizinkan si penyewa gedung Reno menyewa tempatnya, walau tidak sebesar milik Reno tapi bisa di gunakan sebagai kantor.


"Ra, kamu sudah sadar, Nak," Ayah Andri yang baru tiba segera berlari dan menghambur dan memeluk putrinya, "dia ayah kandungmu," Reno berkata karena Ara menatap bingung akan lelaki yang kini tengah memeluk dirinya.


Reno juga sudah mengenalkan Ria sebagai adiknya, Ara menerima walau belum biasa dan itu membuat sedikit rasa sakit pada gadis itu karena sang kakak tidak mengenalnya. Tapi tak apa, ia akan mengingatkan perlahan lahan kebiasaan mereka dulu saat kakaknya masih hilang ingatan.

__ADS_1


"


__ADS_2