Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 28


__ADS_3

Rara menggigit kuku-kukunya yang sedikit panjang, namun juga terawat.


Rara menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya, kakinya melangkah menuju resepsionis. Dia berfikir lebih baik sekarang saja bertanyanya, dari pada nanti-nanti. Lagi pula nanti siapa tahu tidak ada waktu, dan sekarang mumpung sang ayah ada yang menunggu dia kesana saja, begitu pikir Rara. Tanpa sadar gadia itu mengangguk mantap sambil mengukir senyum di bibirnya yang tanpa polesan lipstik.


"Permisi, sus," Rara nengetuk meja resepsionis, sang suster jaga mendongak dan melempar senyum pada Rara kemudian berdiri meninggalkan berkas entah apa yang Rara juga tidak tahu


"Ada yang bisa di bantu?" tanya suster jaga itu dengan sopan, Rara mengangguk.


"Begini, ayah saya kan di rawat di sini," sang suster mengangguk menanggapi ucapan saudara pasien.


"Nah, kebetulan lusa ayah saya mau di operasi, dan om saya mau ngirim biaya ke rekening sini langsung, apa bisa?" tanya Rara yang di balas senyum hangat oleh sang suster jaga.


"Bisa kak, sebentar saya tulis rekening rumah sakit ini," sang suster mengambil kertas yang polos dan dia menulis beberapa angka, hati Rara ketar ketir, takut kena tipu.

__ADS_1


'Emang boleh ya ngasih-ngasih rekening rumah kepada sembarangan orang?' tanya Rara dalam hati, telunjuknya menggaruk kepalanya bagian belakang sambil sesekali meringis membayangkan jika kena tipu se banyak itu.


Mungkin Rara lupa jika Reno menyuruh dirinya meminta nomer rekening rumah sakit tersebut berarti boleh membagi, asal dengan catatan untuk benar-benar membayar tagihan pasien.


"Ini kak nomer rekening rumah sakit ini," suster itu mendorong kertas yang atasnya bertuliskan Rumah Sakit Husada, dan di bawahnya ada alamat serta alamat email serta segala sesuatu yang menyangkut rumah sakit tersebut.


"Terima kasih, Sus," Rara mengambil dan mengucapkan terima kasih, sang suster jaga pun mengangguk menanggapi ucapan keluarga pasien.


"Hish, akhirnya," Rara memeluk kertas tersebut, sekilas dia tersenyum dan mengeluarkan ponsel yang tadi dia simpan di dalam tas slempang miliknya.


"Pantas dia percaya diri, dia memang ganteng," lirihnya yang kemudian dengan spontan menutup mulut dengan satu tangan dan melihat sekitar, berharap tidak ada yang mendengar ucapan konyolnya.


Rara menarik nafas lalu menghembuskan, menarik nafas lagi, dia hembuskan lagi. Setelah jantung nya bekerja normal, segera Rara mengetik pesan pada Reno.

__ADS_1


(Mas, Ini nomer rekening yang kamu minta) send, telunjuk Rara mengetuk-ngetuk ujung ponsel berharap segera di balas, agar dia bisa meminta bantuan.


(Ya, nanti saya kirim ke rekening rumah sakit itu) balas Reno setelah beberapa menit dia menunggu.


(Boleh tidak saya minta tolong, sekaliii ini saja?) tulis Rara, mungkin jika di ucapkan terdengar memelas.


(Apa?) balasan Reno singkat, Rara tersenyum dan benar-benar berharap pria itu mau menolong dirinya, seperti dirinya mau menolong Reno. Ya walau dia di bayar.


(Tapi saya harap anda mau mengabulkan) di ikuti emot mengatupkan tangan, Rara menatap ponselnya dan belum ada jawaban, akhirnya dia berinisiatif mengirim pesan tambahan.


(Lusa, setelah ayah saya operasi, bisakah mas Reno kerumah sakit menemui ayah saya?) Rara mengirim pesan tersebut, saat menunggu beberapa menit dan tidak ada jawaban Rara mendengus.


(Bisa tidak? Kalau tidak saya tidak akan berharap anda datang?) Rara mencoba sabar, tangannya mengurut dadanya perlahan, mencoba menahan gejolak amarahnya.

__ADS_1


Apa begitu berat menemui seseorang, ya walau tidak penting tapi itu kan juga memanusiakan manusia namanya, pikir Rara.


__ADS_2