
Keesokan paginya saat pemeriksaan ayah Rara, dia dinyatakan siap. Dan Rara senang sekali, setidaknya hari ini operasi ayahnya akan terlaksana.
"Yah, jangan tegang ya. Rara bangga punya ayah seperti ayah," Rara memeluk ayahnya haru, sang ayah mengusap punggung Rara.
"Ayah semangat begini karena ingin sehat, biar bisa melihat kamu menikah. Di mana teman pacar kamu kemarin?" ayah Rara mengedarkan pandangan mencari mas Seno.
'Haish ayah kenapa semangatnya karena ingin lihat Rara nikah sih, Rara ini masih muda. Masih jauh langkahnya, main suruh nikah saja. Siapa juga yang akan jadi suami Rara,' gerutu Rara dalam hati.
"Om, mencari saya?" Mas Seno masuk dan mengulas senyum, mendekati ayah Rara dan berbicara seperti sudah kenal lama.
Selang beberapa menit pintu di buka, tampak Ria tersenyum lebar dan menghampiri mereka.
"Kak, aku mutusin kalau aku aja deh yang jagain ayah. Jangan temenku, takut kalau ngga cocok sama ayah." dalihnya, Rara hanya mengangguk mengiyakan, tahu maksud dari sang adik. Ria menoleh dan menatap intens pria di samping kakaknya.
"Kak, ini pacar kakak?" Rara menggeleng, Ria melempar senyum ramah pada Mas Seno.
"Halo Pak asisten, saya Ria anak yang kemarin melamar dan mendapatkan panggilan tes wawancara. Apa tidak ada jabatan lebih tinggi dari OG?" Ria membahas lamaran yang dia masukkan tempo hari dan mendapat panggilan tes.
"Kalau masalah itu saya kurang tahu, itu ada bagian tersendiri yang mengawasi dan memilih karyawan untuk bagian bagian tertentu," Ria manggut-manggut.
"Dia melamar di tempat Mas Reno?" Rara bertanya lirih, namun terdengar oleh Ria.
"Kakak kenal sama pemilik RENO'S COMPANY?" Ria melotot tidak percaya, Rara menggigit bibir bawah dan mengangguk.
__ADS_1
"Rara adalah pacar dari bos saya, Tuan Reno." kata Mas Seno mantap, sedang Rara memejamkan mata memikirkan kejadian yang akan terjadi saat orang tahu dia berpacaran dengan pemilik perusahaan besar. Walau itu pacaran bohongan namun itu tetap mempengaruhi dirinya.
"Apa? Siapa yang berpacaran dengan pemilik RC?" suara menggelegar mengejutkan semua yang ada di ruangan tersebut. Tangan Rara meremas sprei di depannya, semua sudah tahu dia harus menghadapi kemarahan semua orang.
"Kak Rara pacaran sama bos RC," Ria yang menjawab, Kak Fandi maju menarik tangan Rara agar mundur.
"Bilang itu semua ngga bener, kamu itu calon istri saya, Ra?" suara Kak Fandi memelas, mendadak Rara linglung, bukannya Kak Fandi harusnya marah karena merasa telah dia bohongi.
"Tapi sayangnya itu benar," jawab Mas Seno dengan tegas, menarik tangan Rara dan menyembunyikan tubuh kecil itu di balik punggung besarnya. Mas Seno merasa Rara adalah tanggung jawabnya selama Reno menyerahkan semua masalah tentang Rara.
"Terserah, dia mau pacaran sama siapa saja tapi ingat dia akan menikah dengan saya." Kak Fandi menekankan, masih kekeh ingin menikah dengan Rara. Sedang Rara menggigit kuku-kukunya yang agak panjang merasakan bimbang, netranya sesekali melirik kearah ayahnya. Di sana ayahnya hanya diam dan mendengarkan adu mulut yang terjadi, Rara takut karena pertikaian kecil ini darah ayahnya bisa naik, dan batal operasi.
Rara tidak bisa memutuskan Om Reno karena Om Reno yang membuat perjanjian, jika Rara memutuskan perjanjian dan membatalkan perjanjian kontrak pacaran yang akan berakhir kapan tersebut dia di denda dan di suruh mengembalikan uang bernilai jutaan itu.
"Pak, suruh mereka keluar, kecuali pacar saya dan asisten saya!" perintah Reno kepada satpam yang mengikuti dirinya, tangannya menunjuk Mas Seno dan Rara.
"Saya adik Kak Rara, saya nggak mau keluar!" tolak tegas Ria, gadis itu berkacak pinggang seakan menantang Reno.
"Siapa anda berani mengatur di ruangan ini. Dengar, Rara itu calon istri saya. MENGERTI?!" Kak Fandi berteriak marah di depan wajah Om Reno, dengan santai Om Reno melenggang menuju brangkar tempat ayah Rara berbaring.
"Sudah siap operasi, calon ayah mertua?" Rara terbatuk-batuk tersedak air ludahnya sendiri mendengar perkataan Om Reno, apa tadi katanya calon ayah mertua. Astaga aktingnya begitu bagus dan meyakinkan, sangat menghayati perannya sebagai pacar, pikir Rara.
"Kamu pacarnya putri saya, Rara?" ayah menunjuk dengan dagunya Rara yang tengah menunduk, Om Reno mengangguk lalu mengulurkan tangan kearah Rara, Mas Seno menyingkir agar pacar atasannya bisa lewat.
__ADS_1
Rara mendongak menatap sekitar, ternyata hanya ada dia, Om Reno Mas Seno dan ayahnya. Kak Fandi dan adiknya Ria di paksa keluar. Rara mendekat dan berdiri di samping Om Reno, Rara sangat grogi. Wangi parfum maskulin berharga mahal menyeruak di indera penciumannya, sangat menenangkan.
"Maaf nggak kasih kabar datang mendadak, padahal jadwalnya pulang besok." Rara mendongak menatap mata elang milik Reno, "sebenarnya saya juga nggak bisa menemani ayah operasi?" ujar Rara, Reno menyugar rambutnya menarik Rara duduk.
"Kenapa? Bukannya kemarin minta saya menemani dan menemui ayah kamu?" ada nada kesal di ucapan Reno, Rara menunduk, meremas celana kain yang dia pakai.
"Partener saya libur mendadak dan saya harus mengantikan dia," Reno menyandarkan tubuhnya pada badan sofa, "kamu tahu siapa pemilik minimarket kamu bekerja?" Rara menggeleng akan pertanyaan yang Reno lontarkan.
"Cih, pintar juga dia menyembunyikan identitasnya," Rara mengernyit bingung, apa maksud ucapan Reno tadi.
Reno terlihat memejamkan kedua matanya, Rara merasa tidak nyaman duduk berdekatan dengan pria seperti ini. Perlahan dia mengeser posisi duduknya dan seketika ingin menjerit kala ada tangan yang besar dan kekar berada di sampingnya, seakan membatasi pergerakan nya.
"Jam berapa ayahnya di operasi?" masih dengan posisi menyandarkan kepalanya e memejamkan kedua matanya. Rara hanya melirik Mas Seno yang tengah duduk santai dan bermain ponsel.
"Kata dokternya jam 10.00 ini," Mas Seno menyingsingkan sebelah kaos lengan panjangnya dan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Panggil dokter itu dan suruh cepat menyelesaikan!" Mas Seno hanya mencebik, kebiasaan suka memerintah belum juga hilang.
"Lusa kita ketemu oma saya, dia ingin bertemu kamu," refleks Rara menoleh, "bertemu oma anda?" Rara bertanya meyakinkan.
"Iya," Reno membuka kelopak matanya, dan tatapan mereka bertemu. Rara melihat mata Reno yang juga sedang menatap dirinya, Rara baru sadar iris mata Reno berwarna amber atau berwarna kuning kecokelatan atau seperti emas. Rara pernah membaca tidak sembarangan orang memiliki iris mata tersebut, berarti benar Reno ini bukan orang biasa, dan Rara semakin takut akan menjadi masalah.
Nah thu, Si Reno udah nonggol. Berarti konflik perebutan Rara akan di mulai. Selamat membaca
__ADS_1