
Rara menatap Reno dengan tatapan bingung, sedang sang ayah menatap Reno dengan wajah kemenangan. Reno menghela nafas lalu membuangnya perlahan, dan tersenyum pada Rara yang membuat Ria terpesona. Sungguh baru kali ini dia melihat atasannya tersenyum dan itu terlihat sangat tampan, pantas kakaknya lebih memilih pria yang seumuran om om, Ria menggeleng dan menahan tawa dengan pemikirannya.
Dengan percaya diri, Reno duduk di kursi itu dan meletakkan piring yang hendak dia bawa ke ruang tamu. Rara menatap Reno dan adiknya bergantian, sedangkan Kak Fandi, Dion dan ayahnya hanya diam memperhatikan apa yang akan pria itu lakukan.
"Kau," Reno menunjuk Ria, "duduk sini," titahnya sambil menepuk kursi kosong sebelahnya "tapi...." Reno mengangkat tangan pertanda Ria harus diam.
"Duduk," titah Reno lagi, dan mau tidak mau Ria menurut, gadis itu duduk di samping Reno dan Dion. Reno mengedipkan sebelah matanya pada Rara membuat Rara menunduk malu. Kemudian mengapai tangan Rara yang berdiri tidak jauh dari tempatnya dan menariknya hingga terjatuh di atas pangkuan Reno
"Duduk sini aja, kita makan bersama ya," Reno mengecup pipi Rara, dia pun menurut dan mengangguk pasrah. Sesekali netranya melirik ayah, Dion dan Kak Fandi.
"Ra, memang nyaman makan dengan posisi seperti itu?" sindir ayah Rara, perempuan itu hanya diam, dalam hati mulutnya ingin berkata tidak tapi tubuhnya nyaman. Sedang tangan kiri Reno memeluk pinggang Rara dan tangan kanannya menyuapinya. Reno memilih diam dan tidak menghiraukan ucapan pria tua itu.
Selesai makan mereka para pria berbincang bincang di ruang tamu, Rara dan Ria membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas mereka makan tadi. Di ruang tamu terjadi perbincangan seru antara Dion dan ayah Rara, terkadang ayah Rara dengan Kak Fandi. Reno memilih sibuk dengan ponselnya entah apa yang dia lihat dan dia baca, karena seperti tidak terganggu dengan keakraban mereka.
Di dapur, "kak," Ria memanggil Rara, sang kakak yang sedang mencuci menoleh, "ya," jawabnya yang kemudian melanjutkan mencuci nya. Ria terdengar menghela nafas dan berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Rara.
"Kakak cinta nggak sama, Om Reno?" Ria bertanya dengan memberanikan diri dan menggigit bibirnya, Rara menghentikan pergerakannya lalu memandang adiknya dengan wajah penasaran.
"Kak," Ria cemberut karena Rara tak kunjung menjawab juga, "entah," jawab Rara sambil mengedikkan bahu tidak tahu.
"Kok entah, maksud Kak Rara enggak cinta gitu?" cecar Ria yang penasaran dan benar benar ingin tahu, Rara membuang nafas berat lalu mengambi lap dan mengeringkan tangannya.
"Kakak nyaman saat sama dia, tapi dia terlalu gimana ya, bingung kakak kalau jelasin," ujar Rara yang kemudian duduk di kursi di ruang makan.
__ADS_1
"Kemarin dia ngelamar kakak," Rara tertunduk malu, tangannya menilin milin celana kain yang dia kenakan. Ria tersenyum mendengar keterbukaan kakaknya, dan Ria berharap, sungguh-sungguh berharap kakaknya menerima itu. Agar bisa lepas dari ayahnya, entah kenapa Ria merasa ayahnya menyembunyikan sesuatu.
"Apa jawaban kakak?" tanya antusias Ria, "kakak mau," jawab Rara yang langsung membuat Ria bahagia dan langsung memeluk kakaknya.
Waktu berlalu begitu cepat, dan malam telah merangkah naik dan mereka semua akhirnya berpamitan pulang. Ayah Rara tidak membalas salam yang Reno lontarkan, bagi Reno itu tidak masalah, namun Rara begitu kecewa pada ayahnya.
Rara segera masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya, triinngg, ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk. 'Mas Reno Ganteng' Rara mengeja dalam hati, sampai sekarang nama itu belum dia rubah.
(Selamat malam calon istri,) pesan yang masuk di aplikasi hijau milik Rara, perempuan itu tersenyum simpul.
(Kok nggak dibalas?) pesan kedua dari Reno masuk lagi, padahal baru juga sedetik masuk dan baru Rara baca, "dasar posesif," gumam Rara lirih.
(Selamat malam juga, calon suami ku) balas Rara yang di sertai emot tersenyum malu malu dan menutup mulut, di seberang sana Reno bahagia dengan balasan dari Rara. Senyum dari pria itu mengembang.
(I love you) Reno mencoba keberuntungan dengan mengirim kata kata tersebut dan di sertai emot hati lima biji, Rara terkikik membaca balasan dari Reno.
"Dasar tidak peka," gerutu Reno kesal, bukan balasan seperti ini yang dia mau. Reno ingin Ara nya membalas dengan kata kata I Love You Too Darling.
"Oya, apa namaku sudah dia ganti apa masih seperti yang dulu," monolog Reno, dulu waktu pertama kali meminta nomer Ara-nya, memang dia sengaja memberi nama Mas Reno Ganteng dengan tujuan agar dia protes.
"Kalau dia lihat namanya di dalam kontaku pasti dia bahagia sekali," gumam Reno lalu tertawa dan menggeleng pelan. Nama yang Reno tulis di kontaknya adalah Ara My Love.
(Belum, Sayang,) balasan dari Reno, Rara tersenyum, "lama sekali balasnya? Apa baru di jalan?" gumamnya pelan.
__ADS_1
(Besok jangan lupa, kita ketemu seseorang. Jadi kamu minta seseorang menangani rumah makan kamu dulu, dan jangan bilang ayahmu dulu. Biar buat kejutan hehehe.) pesan kembali masuk di ponsel Rara.
(Kenapa ayah nggak boleh tahu?) tanyanya pada pesan balasan, Rara benar benar penasaran.
(Ya, jangan. Buat kejutan aja, Sayang. Percaya deh sama calon suamimu ini hahaha) balasan dari Reno yang membuat Rara kesal namun tetap tersenyum. Tidak bisa lama lama marah pada pria yang baru beberapa bulan dia kenal, namun seperti sudah belasan tahun mengenal pria itu.
(Oke, aku bobok dulu ya. Mas calon suami) Rara menutup wajah kala tulisan yang awalnya centang abu abu langsung menjadi biru.
(Jangan lupa minum vitamin, dan yang paling penting jangan lupa mimpiin tentang kita) balasan dari Reno di sertai emot hati berjajar sepuluh.
"Aaa, aku bisa gila kalau begini. Dasar om om kurang kerjaan!!!" pekik Rara sembari membekap wajahnya dengan bantal agar suaranya tidak terdengar sampai keluar.
Dan akhirnya Rara tertidur setelah meminum obat yang berbentuk vitamin, dan Rara tidak menyadari kalau obatnya sudah berkurang satu. Bukan dia minum, akan tetapi di ambil Ria untuk di selidiki. Dan Ria mengambil tadi saat dirinya keluar terakhir sebelum kegiatan memasak mereka mulai.
*****
Pagi harinya, Reno sudah datang ke rumah makan Rara. Perempuan itu meminta Reno menjemputnya di sana saja agar ayahnya tidak banyak bertanya. Dan Reno menurut tanpa mendebat karena apa yang wanita-nya katakan benar adanya.
"Kita mau kemana sebenarnya? Terus mau ketemu siapa?" tanya Rara heran, saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan ke suatu tempat yang tidak Rara ingat.
Tadi Rara juga sudah memasrahkan urusan rumah makan pada orang kepercayaannya, sedang even yang masih berlangsung sengaja dia serahkan pada Karin.
"Kalau mau istirahat aja, butuh beberapa jam untuk ke tempat tujuan kita," ucap Reno pada Rara seraya mengusap kepala Rara dengan perasaan cinta.
__ADS_1
"Nanti saja, ini mau menikmati pemandangan. Jarang jarang juga aku pergi," seloroh Rara yang langsung diangguki Reno, "senyaman kamu saja," sahut Reno seraya mengelus pipi Rara dengan punggung tangannya.
Reno tidak bisa tidak menyentuh wanita ini bila berdekatan, ingin sekali segera membuatnya menjadi istrinya agar setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap hari bisa menyentuh dan menyalurkan rasa cintanya. Ya, secinta dan seterobsesi itu Reno pada Ara nya