
"Ra," Reno mulai bersuara, tidak enak rasanya berdiam diaman sepanjang perjalanan pulang. Ya kini mereka benar benar pulang ke kota, Ara begitu keras kepala hingga membuat semua orang mengalah dan mengizinkannya pulang.
"Sayang, sudah marahnya. Aku memang menyembunyikan semua dari mu karena aku takut kamu akan berhenti minum vitamin itu," Reno mencoba menarik dan menggenggam jemari Ara, namun dengan cepat wanita itu tepis.
"Jika kau mencintai aku, harusnya kau terbuka! Jangan seperti ini!" ketus Ara, Reno tersenyum. Dalam hati tidak apalah wanita nya marah, asalkan bisa mendengar suaranya.
"Kenapa senyum senyum? Lagi seneng membayangkan kalau aku mati trus nanti cari wanita lain yang lebih cantik dan lebih seksi dari aku?" suara Ara agak meninggi, setelah berkata demikian wanita itu menatap jalanan dan menyeka airmatanya.
Reno mengrem mendadak mobilnya, beruntung keadaan sepi dan hampir membuat kening Ara terbentur dasrboad.
"Wah sepertinya...." ucapan Ara terputus karena Reno menutup mulut Ara dengan bibir Reno, Ara terkejut namun tidak bisa melakukan apapun. Hanya mengikuti alur permainan lidah yang Reno lakukan.
"Jangan berpikir yang tidak tidak," kata Reno setelah melepas tautan bibir mereka, dan mengusap lembut bibir Ara yang sedikit bengkak karena ulahnya.
"Dari dulu sampai kapanpun, hanya kamu dan tetap kamu yang aku cintai dan yang hanya di hatiku. Mengerti?" Reno menyatukan kening mereka, Ara berpikir kapan pria ini melepas sabuk pengamannya, hingga tiba tiba melayangkan ciuman yang sedikit kasar sebagai bentuk protes akan kata katanya.
"Aku berjanji, jika kamu tidak ada, aku tidak akan menikah lagi. Aku akan membesarkan anak anak kita sendiri," katanya masih dengan menyatukan kening mereka, meraih tangan Ara dan menautkan jemari mereka.
"Kau mendoakan aku mati?" ketus Ara lalu menjauhkan diri dari pria yang kini membuat kinerja jantungnya semakin tidak karuan, senang sebenarnya mendengar janji pria masa lalunya yang mau menunggu dirinya dan berjanji akan setia pada dirinya.
"Tidak," pria itu menggeleng, lalu memasang sabuk pengaman lagi dan melihat spion dan menjalankan kembali mobilnya.
"Lalu?" cecar Ara, "tidak ada," sahut Reno yang kemudian mengacak gemas rambut Ara.
"Kak," Reno menoleh sebentar sambil menaikkan alisnya sebelah lalu kembali fokus ke jalanan, "berjanjilah jangan sampai Ria tahu, dia pasti sedih," Ara mengulurkan jari kelingkingnya, "seperti anak kecil," gerutu Reno namun jari kelingkingnya tetap bersatu di jari kelingking Ara.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya yang di sertai senyum, Reno mengangguk seraya mengulas senyum.
"Aku akan carikan tempat di suatu kota untukmu membuka cabang rumah makan," Ara menoleh mendengar apa yang Reno katakan, "kenapa?" tanyanya tidak mengerti.
"Agar kalau kita kerumah nenek, ayahmu yang jahat itu tidak curiga. Kamu bisa beralasan mau melihat cabang rumah makan milikmu yang baru," Ara tersenyum dan mengangguk antusias.
"Wah, ternyata selain tampan kau juga pintar ya, Kak," ceplos Ara, Reno menyunggingkan senyum mendengar wanita itu berbicara keceplosan.
"Terima kasih pujiannya," ucap Reno sembari mengelus pipi Ara, "memang aku ngomong apa?" Ara terkejut, sepertinya dia keceplosan.
"Kamu bilang aku ganteng," jawabnya dengan jumawa, netra Ara membulat sempurna, "iya 'kah aku ngomong gitu?" Reno tertawa melihat ekpresi wanita itu, benar benar terlihat menggemaskan.
Kini mereka sampai di apartemen Reno, dan mereka akan beristirahat sejenak setelahnya mengantar Ara pulang. Tidak baik bagi wanita itu terlalu lelah beruntung tadi dalam.perjalanan pulang Ara tidak mengeluh dan tidak merasakan sakit kepala. Jika tidak entah apa yang akan Reno lakukan.
Dering ponsel Ara menganggu istirahat Reno, segera di raihnya ponsel yang tadi Ara letakkan di atas nakas. Nama Ria terpampang di sana.
"Bangun, adikmu menelepon, Sayang," bibir Reno tidak bisa diam, seraya berucap bangun bibir itu juga menjelajah wajah dan leher Ara.
Ingin sekali tangan itu menjamah lalu bermain dan menjadi bayi saat melihat gunung kembar milik Ara yang terlihat menyembul dan menantang saat wanita itu terlentang, kemeja Reno yang Ara kenakan ternyata kebesaran hingga tanpa memakai celana bisa menutupi lututnya.
"Kak," Ara mendorong tubuh kekar Reno, "berat, ih," protesnya, tangannya masih berusaha mendorong kepala Reno yang kini bermain di dadanya.
"Aahh," Ara merintih kesakitan, Reno memberikan tanda pada dada itu yang membuat kulit putih itu menjadi merah, "sakit!" Ara memukul punggung Reno.
"Ayo kita segera nikah," Reno bangkit dan mengecup bibir Ara, 'aku bisa gila jika selalu menahannya,' gumam Reno dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kau mengangguku?" Ara mengancingkan kancing kemeja wyang tadi di lepas Reno, "ah itu, adikmu tadi menelepon," Reno malah melupakan hal yang membuat tidurnya tadi terganggu.
"Udah mati," Ara menunjuk ponselnya yang sudah berwarna hitam, "coba kamu telepon balik. Siapa tahu penting," titahnya, dan Ara mengangguk patuh.
Sambil menunggu adiknya mengangkat telepon darinya, Ara melihat Reno yang tengah berjalan kearah kamar mandi dengan wajah kacau dan frustasi. Dan tunggu, ada sesuatu yang menonjol di sela paha Reno. Saat Ara membuka mulut ingin bertanya, suara dari seberang membuatnya urung bertanya
"Kak," suara Ria serak seperti habis menangis, "ada apa, Dek?" tanya Ara lembut, terdengar isakan dari seberang. Perasaan Ara menjadi tidak tenang, tidak biasanya gadis itu menangis.
"Tolong Ria, Kak." degh, jantung Ara berdetak kencang.
"Ada apa?" desaknya, "ayah, ayah kalah main judi dan menjadikan aku taruhannya karena kakak tidak ada," suara Ria melemah. Tanpa sadar tangan Ara mengepal, meremas seprei kuat.
"Sekarang kamu di mana?" tanya Ara khawatir, masih terdengar isakan dari seberang.
"Aku di rumah mas Seno," jawab Ria, 'di rumah Mas Seno, asisten mas Reno?' Ara berpikir dan berbicara dalam hati.
"Ya sudah, kakak sebentar lagi kesana," dan Ara segera menutup sambungan telepon itu dan menunggu Reno keluar dari kamar mandi.
"Kak," Ara segera berdiri dan menghadang langkah Reno, "ya," Reno pun menghentikan langkah nya dan menatap wajah wanita di depannya yang terlihat begitu cemas.
"Kita kerumah mas Seno sekarang," ajaknya, Reno melengos, hatinya cemburu saat Ara nya menyebut nama pria lain, "ck Ria di sana," kata Ara seakan mengerti jalan pikiran Reno.
"Ria bercerita, katanya ayah kalau taruhan judi dan menjadikan dia sebagai bahan taruhan. Entah bagaimana dia bisa lolos, mungkin menelepon asistrn kamu itu." tandas Ara, Reno mengangguk dan mengambil kunci mobil lalu mengandeng tangan Ara keluar kamar dan menuju parkir mobilnya.
"Sepertinya ayahmu sudah tidak bisa di biarkan," Reno mengeram marah, kali ini taruhannya adik dari wanita yang dia cintai. Jika adiknya sedih maka Ara nya juga ikut sedih, dan Reno tidak bisa melihat wanita nya bersedih. Dengan kecepatan sedang, Reno melajukan kendaraan roda empatnya menuju rumah sahabatnya.
__ADS_1
"Apa kita lapor polisi saja?" Ara memberi usul, Reno menggeleng.
"Belum ada bukti akurat, takut malah kamu atau adikmu yang terkena ancaman dan kenapa napa," ujar Reno, Ara mengangguk mengerti.