
Waktu begitu cepat berlalu, setelah Ara pulih dari sakitnya terakhir, Reno tidak membiarkan wanitanya berpikir macam macam dan melakukan sesuatu yang berat. Ayah Andri pun sudah mencari tanggal baik untuk pernikahan Ara dan Reno.
Sedang Kak Fandi masih gencar menelepon Ara meminta alamat rumah barunya, namun Ara masih berbelit belit. Bukan takut jika Kak Fandi datang, akan tetapi yang ia takutkan jika Pak Gito datang dan melihat Ria di sana lalu membawanya pergi.
Padahal selama ini mereka menyembunyikan keberadaan Ria di rumah itu, dan beralasan jika Ria sering keluar kota.
Ara segera berjalan menuju pintu saat mendengar suara ketukan pintu, "tunggu!!" serunya, dan perlahan Ara membuka pintu dan muncullah sosok anak berusia 8 tahunan.
"Kakakkk!" seru anak lelaki keduanya lalu menghambur kepelukan Ara, "udah sehat?" tanya lelaki dewasa yang datang bersama kedua anak lelaki tadi, Ara yang tadinya menunduk karena sedang menatap adik keponakan nya seketika mendongak lalu mengangguk.
Ara merasa ada yang aneh dengan pamanya ini, bukankah selama beberapa hari ini ia ada di sini dan ikut merawat dirinya, tapi kenapa kini pamannya itu bertanya seolah olah baru bertemu.
Ara mengajak kedua adik sepupunya dan pamannya masuk, "kok sepi, Ra?" tanya Om Indra setelah duduk dan netranya mengedarkan pandangan dan terlihat lenggang.
"Iya, Om. Nenek sama tante baru keluar," jawab Ara yang kemudian berlalu ke dapur berniat untuk mengambilkan kedua adik keponakan nya minuman.
"Kalian kesini tadi naik apa?" tanya Ara sembari meletakkan gelas berisi es sirup merah dingin ke atas meja, lalu duduk di samping keduanya.
"Ayah kok nggak di kasih minuman sih, Kak?" protes si kembar, Ara tersenyum lalu menjawab, "ayah kalian nanti bisa ambil sendiri, iyakan Om?" Ara bertanya sambil melempar senyum pada pamannya, kedua anak lelaki itu terlihat kebingungan. Tak mau ambil pusing, kedua keponakan Ara itu mengambil air minum yang sudah Ara sediakan.
"Itu boleh di makan, Kak?" si kembar bertanya sambil menunjuk toples berisi makanan ringan, Ara mengikuti arah telunjuk keponakan lalu mengangguk, karena diperbolehkan, akhirnya kedua anak itu maju dan membuka toples berisi jajanan, si kembar mencomotnya dan memasukkan camilan itu kedalam mulut kecil mereka dan perlahan mengunyahnya.
__ADS_1
Ara melirik pamannya yang sedang memandangi ruangan ini, terlihat seperti heran.
"Om, kok om kaya baru pertama kali lihat rumah ini sih?" tanya Ara heran, "lha kan emang ayah baru pertama datang kesini, Kak." si kembar yang menjawab, Ara benar benar terkejut dan tak percaya. Sedang Om Indra ketar ketir jika kedua putranya keceplosan dan mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi kemarin bukannya ayah kalian di sini bareng nenek sama tante?" lagi Ara bertanya bingung, "owh, itu bukan ayah. Itu kembaran ayah, yang kata ibu, om itu-" Om Indra segera membekap mulut putranya yang hampir keceplosan, namun terlambat, otak Ara mulai bekerja. Perempuan itu diam dan bergeming kala si kembar bertanya kenapa dirinya tiba tiba diam, Ara masih berpikir kemungkinan kemungkinan yang tak ia tahu.
"Ara, ada tamu ya?" suara seorang wanita terdengar dari luar, yang tiba-tiba masuk dan menenteng tas plastik berisi barang belanjaan dan sayuran mentah. Ara hanya diam dan menatap penuh tanda tanya pada sang tante yang baru saja masuk.
"Siapa orang itu, Tan?" setelah beberapa menit bisa menguasai keadaan, Ara akhirnya bertanya.
"Maksud kamu bagaimana, Ra?" tanya Tante Rina yang masih belum menyadari kedatangan suami dan anaknya.
"Tante, jika ini Om Indra, suami tante. Lalu yang kemarin menemui Ara siapa?" suara Ara terdengar bergetar, ingatannya kembali saat Reno bertanya 'bagaimana jika ternyata ayah kandungmu masih hidup?' dan ia menjawab tidak percaya karena tak mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup kembali.
Ara mulai membayangkan wajah lelaki yang terluka separuh karena terbakar, sorot matanya terlihat teduh dan membuat Ara nyaman, berbeda saat ia menatap Om Indra, begitu dingin dan cuek.
Pun Om Indra tak pernah meminta ingin memeluk dirinya dan tiba tiba kemarin, lelaki yang ia anggap pamannya memeluk dirinya.
Ara mendesis sambil memegang kepalanya yang tiba tiba berdenyut dan terasa begitu sakit luar biasa.
Saat Ara berdiri dan hendak menghampiri sang tante, tiba tiba tubuhnya tumbang dan ia merasakan seseorang tengah berlari dan menahan berat tubuhnya, saat netranya tertutup sayup sayup ia dengar orang itu berkata, "Ara sayang, bangun. Jangan buat ayah khawatir lagi," dan setelah itu ia tak mendengar apapun, namun senyum tercetak di bibirnya.
__ADS_1
"Panggil ambulans dan telepon Reno, beritahu jika Ara sakit!" Ayah Andri berteriak memerintah karena cemas dan khawatir, Nenek yang baru masuk terkejut melihat Ara yang tiba tiba sudah berada di dalam gendongan Ayah Andri.
"Dia, dia kenapa, Nak?" Nenek mengejar Ayah Andri yang membopong tubuh Ara sambil berlari keluar, "dia sudah tahu semuanya sepertinya, Bu," tante Rina menjawab dan melirik keberadaan suaminya dan nenek mengikuti arah lirikan sang putri, "ya Tuhan!!" pekik nenek karena ikut terkejut, Tante Rina sesekali menyeka airmata yang menetes di pipinya.
"Aku teledor, Bu. Harusnya aku mengatakan pada kak Andri kalau dia harus keluar kota dan operasi wajah, dan seharusnya aku ingat jika anak dan suamiku mau kesini dan aku tidak meninggalkan Ara sendiri," Tante Rina memukul kepalanya karena menyesal membuat Ara kembali sakit.
Semua orang keluar saat mendengar deru mobil, tadi Om Indra menelepon ambulans, akan tetapi tidak segera di angkat oleh pihak rumah sakit dan akhirnya ia menelepon Reno.
"Biar dia sama saya," pinta Ayah Andri dan langsung di angguki Reno, lelaki itu membukakan pintu bagian belakang dan membiarkan calon ayah mertuanya masuk terlebih dahulu baru ia menyerahkan Ara.
"Kita duluan saja, biar ibu sama Rina pergi bersama Indra," lagi Reno hanya mengangguk akan perintah sang ayah mertua, "kenapa Ara bisa seperti ini lagi, Yah. Bukankah kemarin dia baik baik saja?" Reno melirik Ayah Andri melalui kaca spion atas, lelaki itu memeluk sambil menangis dan mengecup pucuk kepala Ara.
"Saya tidak tahu," jawab Ayah Andri dengan suara bergetar, "Om Indra di sini?" Reno kembali bertanya, Ayah Andri hanya mengangguk. Reno menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar.
"Mungkin Ara sudah tahu jika anda ayah kandung nya, dan ia terkejut lalu karena berpikir berat Ara tak kuat, lalu ia sakit," Reno menerka nerka.
Ayah Andri berhenti mengecupi kepala Ara, otaknya mulai berpikir dan membenarkan apa yang Reno utarakan.
"Ren, bagaimana setelah Ara tahu saya ayahnya, ia menolak dan tidak mengakui saya?" tiba tiba melintas pikiran buruk dan ketakutan pada Ayah Andri.
"Tidak mungkin, Yah," Reno menggelengkan kepalanya pelan, "tapi wajah saya seperti ini, mungkin saat tahu saya bukan pamannya tapi ayahnya, ia malu," lagi Ayah Andri merasa takut akan penolakan Ara karena wajahnya.
__ADS_1