
"Loe kenal cewek tadi?" kini Raditya dan Rangga duduk di bangku ruang di mana Rea kembali di periksa dan di obati setelah berganti pakaian.
"Kenapa emang?" Rangga yang tadinya acuh, kini heran mendengar pertanyaan lelaki ia anggap rival.
"Lelaki yang bertubuh tambun yang menyendera cewek tadi ngaku, kalau sebenarnya elo targetnya," Raditya yang mendapatkan laporan dari mata-matanya, selama dia berada di luar negeri, Raditya tak sepenuhnya melepaskan Rea.
Lelaki yang telah di jodohkan dengan Rea ini telah membayar mata-mata untuk selalu mengikuti dan melaporkan kegiatan apapun yang Rea lakukan, siapapun yang tengah mendekati Rea, ia tahu semua.
"Tujuan nya apa?" Raditya terkekeh mendengar pertanyaan konyol Rangga, "cewek itu nyuruh para preman nyerang elo, trus tar dia datang pura-pura nolongin elo, dan ujung-ujungnya tahu dan bisa menebak sendiri 'kan," Raditya kembali terkekeh setelah berkata demikian.
"Kak," Raditya dan Rangga menoleh bersamaan karena mendengar Rea, kedua lelaki itu berdiri dan menghampiri Rea yang masih berdiri di ambang pintu dan di belakangnya ada dokter Risa, sepupu jauh dari Raditya.
"Sudah?" tangan Raditya terulur mengusap lembut kepala Rea, "papa sudah tahu?" tanya Rea cemas, gadis itu menggigit bibir bawah seraya memainkan ujung rambutnya dengan cara menggulung-gulung dan tindakan Rea itu membuat kedua lelaki itu merasa gemas.
__ADS_1
"Papamu pasti sudah tahu, makanya, kalau di bilangin jangan bandel," omel Raditya yang mengingat betapa keukeuhnya gadis ini ingin menolong Rangga yang ternyata sudah di setting sedemikian rupa.
"Hari ini aku libur ke kampus aja ya, lagian jamnya udah telat," Rea melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "gimana kalau kita ke pantai aja," Rangga bersuara menyuarakan pendapatnya.
"Kenapa loe pukul gue?" Rangga mengaduh dan balas memukul Raditya tapi karena refleks menghindar yang bagus sehingga balasan yang Rangga layangkan tidak bisa mengenai Raditya.
"Rea sedang terluka, kalau dia ke pantai tar dia main air, lukanya basah lagi dan ngga kering-kering," dokter Risa ikut menggerutu, Rangga mengusap tengkuknya.
Sungguh, Rea pikir hanya Raditya yang bisa membuatnya menjadi mati kutu. Selalu ada saja yang lelaki itu lakukan agar jantungnya berdetak dengan cepat.
Walau menurut Rea, Raditya adalah orang yang paling menyebalkan, tapi dengan perlakuannya yang entah seperti apa pasti bisa membuat gadis itu luluh dan mencair.
Rea melirik kearah Rangga yang tengah menatap dirinya, "kakak ada mata kuliah?" Rangga menggeleng karena sebenarnya memang tidak ads, niatnya ke kampus hanya ingin bisa bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
__ADS_1
"Ya udah ikut-"
"Ngga bisa," Raditya memotong ucapan Rea yang hendak mengajak Rangga ke rumahnya, Rangga tertawa merasa lucu dengan lelaki yang ia anggap rival ini.
"Reaaa," keempat orang yang sedang berdiri itu menoleh kearah sumber suara, dan senyum Rea langsung terpancar di bibirnya.
"Aku dengar ada perkelahian di taman sebelum menuju kampus, saat aku lihat barang ini, aku tahu itu kamu," ucap Rendra yang langsung mendapatkan pelukan dari Rea dan membuat ketiga lelaki itu mendelik tidak percaya, sedang Risa tertawa kecil melihat ekpresi Raditya yang tengah menahan cemburu.
***
"Sera, berhenti," Sera tidak mau ambil pusing dengan ucapan lelaki yang terus saja memanggil namanya.
"Sera!!!" tidak menyerah, lelaki itu berteriak lalu berlari dan menarik lengan Sera yang menyebabkan tubuh perempuan yang tinggi semampai itu oleng dan berputar hingga menabrak dada bidang lelaki itu, hidungnya mencium aroma parfum maskulin yang lelaki itu pakai.
__ADS_1