Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 77


__ADS_3

Selesai makan malam, mereka mengobrol di ruang tamu, membicarakan rencana yang tadi sudah mereka katakan saat makan tadi.


"Kak Rara mau pulang malam ini juga?" Ria bertanya dengan nada sendu, tidak rela jika kakaknya pulang dan menghadapi sang ayah yang menurut Ria sudah keterlaluan. Kini Ara tidak nyaman jika ada yang memanggil dirinya dengan panggilan Rara, saudari kembar yang tega mendorong dirinya hingga kecelakaan dan hilang ingatan.


Ara mengangguk sambil mengusap lembut kepala adiknya yang bersandar di lengannya yang montok.


"Ren, mending loe kirim asisten rumah tangga di rumah nyokap loe deh. Takutnya ayahnya si Rara macam macam," usul Mas Seno, Reno yang tengah bersandar pada tembok mengernyit heran.


"Ya biar buat teman Rara kalau pas di rumah, bilang aja itu pegawai Rara dan belum mendapat tempat tinggal," sambung Mas Seno lagi, Reno mengangguk paham.


"Tapi kalo ngambil di rumah Mama, tar dia bawel. Apa mending ambil di rumah oma aja ya, kan dia sayang banget ama thu cucu mantu," katanya seraya melirik Ara yang tengah menatap dirinya dan kini mendelik karena mendengar ucapan Reno.


Memang benar, oma Reno sangat menyayangi dirinya. Berbeda dengan Mama Reno, selalu bersikap judes dan jutek bila bertemu. Dan sepertinya, sang mama masih kekeh menjodohkan Reno dengan wanita pilihannya, akan tetapi sekarang Ara tidak akan mundur. Ara akan berjuang meraih restu dari pria yang dia cintai.


"Tapi mau tidur di mana?" Ara ingat rumahnya kecil, dan ada kamar di sebelah kamarnya namun itu sangat kecil tak seluas kamarnya dan kamar Ria, "kamarku aja, Kak," usul Ria yang melihat kakaknya tengah kebingungan.

__ADS_1


"Jangan, nanti ayah tahu kalau kakak tahu kamu pergi," cegah Ara, "eh iya, ya," Ria menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kecuali pas udah masuk dan tanya tanya tentang kamu," sambung Ara, Ria mengangguk cepat.


"Tidur sama kamu aja," Mas Seno melotot mendengar usul Reno, dia tahu, pasti nanti saat Rara tidur dia akan meminta sang art memfotonya dan memberikan pada Reno.


"Nggak papa sih, cewek 'kan, Kak?" Ara menatap wajah Reno sambil tersenyum usil, pria itu mengangguk malas.


"Kalau cowok pasti aku suruh tidur dengan ayahmu!" ketus Reno, Ara tertawa kecil, wanita itu tahu jika kekasihnya sedang cemburu.


"Jadi gini intinya." Mas Seno memandang bergantian wajah ketiga orang yang kini tengah menatap dirinya.


"Loe, Ren. Telepon oma, minta salah satu art nya, bilang saja ini mendesak." Reno mengangguk paham, kemudian pria itu berjalan menjauh dan menghubungi sang oma.


"Dan kamu, Ria. Sementara di sini dulu, jika keadaan sudah aman. Kamu boleh indekost, bukan begitu, Ra?" Mas Seno beralih menatap Ara, wanita itu mengangguk membenarkan apa yang Mas Seno ucapkan.

__ADS_1


"Dan kamu seperti tadi yang kita bicarakan di meja makan, pulang lalu mencari tahu di mana para pria itu sekarang. Dan mencari bukti kejahatan apa saja yang ayahmu lakukan. Mengerti?" kembali Ara mengangguk paham.


Memang tadi saat makan, mereka sudah membicarakan langkah langkah apa saja yang harus mereka tempuh, termasuk mencari bukti soal keterlibatan kecelakaan Rara.


Ara yakin, waktu itu Rara tidak mungkin bisa ketengah jalan sendiri hingga tertabrak jika tak di dorong. Karena ingatannya terbatas maka dirinya tidak bisa mengingat siapa dalangnya.


"Ra, nanti kita mampir ke rumah oma dulu. Menjemput mbak Siti," ucap Reno setelah kembali dari bertelepon, "kita jadi dilema ya, kalau yang nemeni kak Rara tua, nanti ngga bisa nolong pas kak Rara kesusahan. Kalau muda takutnya ayah macam macamin dia," semua orang menoleh mendengar ujaran Ria.


"Eh iya, ya," sahut Ara baru terpikir, Reno tersenyum lalu berkata, "tenang saja, mbak Siti pinter bela diri. Semua art oma memang sudah di beri ilmu bela diri, walau baru tahap awal tapi oma yakin mereka tidak akan berkhianat," tutur Reno yang membuat Ara dan yang lain lega.


"Tapi ingat, pura pura belum tahu jika adikmu tidak ada di rumah, sesuai yang kita katakan. Kamu dari luar kota membuka cabang baru dan langsung pulang, oke" Ara mengangguk sambil memutar bola matanya menanggapi ucapan Reno.


"Kak, beneran kakak buka resto baru di luar kota?" cecar Ria, sejenak Ara melirik Reno, akan tetapi sepertinya pria itu tidak mau membantu menjawab pertanyaan sang adik.


"Iya, kalau mau kapan kapan kamu kakak ajak kesana," akhirnya kata itu yang terucap, tanpa Ara tahu, Reno memang sudah menyiapkan tempat untuk usaha Ara.

__ADS_1


Mau dong di komen, pedas level berapa pun ngga papa hehehe. Mungkin alur ceritanya yang ga jelas, atau yang lain. Yang penting di komen. Di kasih hadiah atau vote pun saya nggak nolak lho hehehe. Makasih mau baca tulisan saya, sayang kalian dan sehat selalu.


__ADS_2