
"Malam, Ma. Malam, Pa," sapa Reno begitu mereka sampai di ruang tamu, Cila yang melihat Reno segera berdiri dan setengah berlari berkata, "Reno akhirnya kamu datang," ada nada bahagia di sana, Rara segera maju dan menghalangi Cila menyentuh Reno.
"Kamu siapa? Kenapa menghalangi gue peluk calon tunangan gue?" ketus Cila, Rara memutar bola jengah, bibirnya mencebik kesal.
"Gue pacar dan orang yang di cintai mas Reno, dan gue ga suka situ deket-deket sama pacar gue," sahut Rara lantang, Cila tersenyum mengejek saat mendengar jawaban gadis di depannya.
"Dia itu cocoknya jadi om lu, bukan pacar atau calon suami lu," ketus Cila, "ha ha ha ha," Rara tertawa terbahak, membuat semua menatap tajam dirinya, seketika sadar dia menutup mulutnya, "maaf kelepasan," katanya santai.
"Itu juga berlaku buat lu, bukan'kah umur kita terlihat sama," sahut Rara cepat, benar Cila dan Rara memang seumuran, terlihat dari gaya berpakaian dan gaya bicara.
"Gue ga perduli," ketus Cila masih mencoba mendekati Reno, "c'k dasar keras kepala," omel Rara kesal, segera dia menarik lengan Reno melewati Cila dan dengan percaya diri di menghampiri orang tua Reno.
__ADS_1
"Malam, Tante," sapa Rara yang kemudian tanpa aba-aba meraih tangan mama Reno dan mencium punggung tangan itu, sang mama terkejut dan hanya menatap gadis di depannya.
"Malam, Om," Rara berganti menyapa papa Reno dan melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan papa Reno.
"M-malam," sapa balik sang papa sambil tersenyum, "nama kamu siapa?" tanyanya pada Rara, Rara masih dalam keadaan berdiri sedang kebelakang dan dengan sopan menjawab, "Rara Ayunintyas, Om," senyum pun tersungging di bibir Rara.
"Kenapa masih berdiri, ayo duduk," pinta sang papa Reno karena melihat gadis yang dia rasa berbeda dari anak sahabatnya masih berdiri.
"Boleh duduk, Om?" Tuan Rio tersenyum lalu mengangguk, akhirnya Rara duduk di sebelah Reno, sesekali matanya melirik kearah Cila, gadis itu menatap tajam pada dirinya.
"Halah, paling Reno nyewa kamu, iyakan? Basi," Cila bersuara, membuat Rara sedikit khawatir, "di bayar berapa kamu, aku bisa membayar kamu lebih," ucap Cila jumawa. Rara menghela nafas lalu memejamkan mata dan membuka lalu menatap Cila sengit.
__ADS_1
"Saya bukan...."
"Kenapa aku harus nyewa dia?" dengan suara terdengar dingin Reno menjawab, "apa aku salah mencintai dia?" tanya Reno lagi.
"Salah!" Cila memekik, "harusnya aku yang kau cinta bukan, dia!" Cila menunjuk Rara dengan geram, seketika Rara menutup mulut, bahu nya terguncang, Reno menoleh kearah Rara mengira gadis itu menangis.
"Maaf, maaf," Rara akhirnya menyemburkan tawanya.
"Apa yang lucu?" ketus Cila, lagi Rara tertawa lalu memandang kearah Reno dan berkata, "aku haus, dari tadi ketawa mulu," Rara mengapit kedua pipinya, mencoba merengangkan dengan membuka dan menutup mulutnya.
Mama dan papa Reno hanya memandang ketiga orang itu, Rara, Reno dan Cila. Rara sedikit melirik kearah ayah Reno tersenyum dan menggeleng.
__ADS_1
"Minumnya, Tuan," seorang asisten rumah tangga membawa lima gelas berisi masing-masing teh dan kopi, "terima kasih, Bi," ucap Rara sopan saat bibi asisten itu meletakkan gelas untuknya.
"Iya non, sudah tugas saya," jawab si bibi dengan sopan, sang bibi asisten segera berlalu dari sana setelah meletakkan semua gelas pada tempatnya masing-masing.