
Rania maju dan berdiri di belakang Rara, lalu berbisik, "jangan galak-galak, nanti pembelinya kabur," tegur Rania pelan, Rara menoleh dan menatap netra Rania seketika dia sadar dan mengedarkan pandangan.
Rara menggaruk keningnya dan menunduk seraya berkata, "maaf kakak-kakak sudah bikin kaget, saya juga kaget. Silahkan berbelanja kembali," Rara melempar senyum, yang di balas dengan anggukan oleh para pembeli tersebut.
"Ini gara-gara kak Santi ini," cerca Rania yang membela Rara, kak Santi yang di salahkan mendelik tajam.
"Kok gue!" sahut ketus dan judes kak Santi, berbeda saat berbicara dengan Rara tadi, Rania memutar bola malas, lelah berbicara dengan orang egois pikir Rania. Rara terkekeh melihat sahabatnya beradu mulut dengan partner nya.
"Sorry, sorry gue telat. Motor gue kehabisan bensin," seorang pemuda memegang dadanya dan berbicara dengan terengah-engah. Memegang lutut dan sesekali meraup udara sekitar.
"Lha, loe lari Jar?" tanya Rara pada Fajar karyawan laki-laki satu-satunya di minimarket ini.
__ADS_1
Fajar duduk di belakang Rara dan kak Santi, lalu mengeluarkan botol minuman yang dia bawa dan dia tengak, lalu menghapus sisa dibibirnya menggunakan punggung tangannya.
"Ih, seksi sekali cara loe minum, Jar," seloroh Rania yang langsung mendapat geplakan gemas dari Rara di lengan kanannya.
"Eh apa sih, Ra?" protes Rania kesal, "udah sana balik ke tempat loe!" usir Rara yang membuat Rania cemberut.
"Jar, gue tanya kenapa ngga di jawab sih?" tanya Rara gemas, Fajar terkekeh saat mendapati pertanyaan yang sama.
"Awalnya gue lari, trus gue ketemu om-om yang baik dan mau nganter gue kesini," terang Fajar setelah nafas nya sudah teratur.
"Ternyata gue di kerjai, gue di suruh ndorong Mbok dulu sampai pom bensin," Fajar bersungut-sungut saat menceritakan kisahmya hari ini.
__ADS_1
Mbak Santi tertawa terbahak mendengar cerita Fajar, rekan kerjanya. Sedang Rara menatap tidak suka pada perempuan yang sedang tertawa tersebut, "semoga dia ngga ngalami apa yang Fajar alami," gumam Rara lirih.
Teman mana yang tidak sedih, saat teman lainnya sedih dan kesusahan teman lainnya malah menertawakan kemalangannya, miris dan tragis.
Fajar meninggalkan Rara yang kembali sibuk menghitung uang, dan mbak Santi yang masih tertawa karena nasibnya. Beberapa menit kemudian Fajar keluar sudah terlihat segar, wajahnya sedikit basah, mungkin mencuci muka agar terlihat segar.
"Ra, hari ini kita masuk siang?" Fajar pura-pura sibuk menata barang yang di dekat meja kasir, tangannya sibuk menata mulutnya sibuk bertanya pada Rara.
Rara yang sudah selesai menghitung uang menatap teman kerjanya itu lalu mengangguk, "kenapa memang?" tanya mbak Santi ketus, Fajar pura-pura tidak mendengar, hanya matanya yang sesekali melirik kearah mbak Santi, Rara tersenyum sambil menggeleng heran.
"Jar!" seru mbak Santi tidak terima di cuekin pemuda tampan itu, "apa sih, Mbak," jawab Fajar dengan malas, memutar tubuh dengan sedikit terpaksa.
__ADS_1
"Kalau ada orang tanya di jawab, bukan di cuekin!" jawab mbak Santi dengan nada tinggi, "ssstt, jangan keras-keras ngomong nya mbak, nanti pembeli nya kabur," tegur Rara kesal. Mbak Santi memajukan bibirnya cemberut, seakan protes karena di tegur Rara. Semua karyawan dan bos tahu kalau Rara adalah pendiam, tidak suka banyak bicara tetapi terkenal tegas.
Nah, aku sudah up. Sehat selalu kawan, sayang kalian semua