Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 111


__ADS_3

Beberapa tahun silam, seorang perempuan sedang memegang lengan seorang lelaki yang hampir jatuh, "kamu belum makan kak?" tanya perempuan itu pada lelaki yang dia tolong, wajah lelaki itu terlihat pucat dan tubuhnya gemetar, lelaki itu kemudian menggeleng dengan tatapan sayu.


"Sebentar," perempuan itu pergi berlalu meninggalkan lelaki itu yang kini duduk di atas trotoar.


"Maaf hanya bisa ngasih ini," perempuan itu menyodorkan sebotol air minum dan sebungkus roti, dengan kening berkerut akhirnya pria itu menerima roti dan air minum tersebut.


Karena faktor lapar akhirnya lelaki itu menghabiskan sebungkus roti dan minuman tersebut, "terima kasih," kata lelaki itu yang langsung di angguki si perempuan.


"Kakak mau kemana atau dari mana?" tanya perempuan itu karena melihat penampilan rapi yang melekat pada lelaki itu, "kamu sendiri?" bukannya menjawab tapi lelaki itu bertanya balik, perempuan itu tertawa kecil namun mampu membuat jantung lelaki itu berdetak dua kali lipat.


"Kakak aneh, di tanya malah balik nanya," ujar perempuan itu sambil berdiri dan mengibaskan celana kain yang dia pakai. Bukannya marah namun lelaki itu tersenyum.


"Aku mau melamar kerja, Kak. Kakak sendiri?" perempuan itu kembali bertanya, "aku, aku juga sedang mencari kerja. Tapi tadi semua tas yang berisi buku dan lamaran di ambil orang," bohong lelaki itu, yang terjadi adalah dia melarikan diri saat kedua orang tua nya menyuruhnya belajar tentang bisnis keluarga.


Bukannya tidak mau, akan tetapi lelaki itu belum siap. Lambaian tangan di depannya membuat pria itu kembali ke alam nyata.

__ADS_1


"Hish, malah melamun," gerutu perempuan itu yang malah membuat lelaki itu gemas dan menyukainya.


"Aku tinggal nggak papa 'kan, Kak?" perempuan itu bertanya dengan nada tak enak, lelaki Itu mengangguk cepat.


"Hei, siapa namamu!!" lelaki itu berteriak karena si perempuan itu sudah sudah menjauh, "Karina!" balas perempuan itu juga dengan berteriak sambil melambaikan tangannya. Sudut bibir lelaki itu tertarik keatas menciptakan sebuah senyum.


Beberapa hari setelah kejadian si lelaki melihat perempuan bernama Karina tersebut sedang berdiri di perusahaan miliknya, senyum mengembang di sudut bibirnya, entah kenapa jika mengenai perempuan ini akhir akhir ini ia mudah tersenyum.


"Mau melamar di sini?" perempuan itu menoleh lalu memukul pelan lengan lelaki itu karena terkejut dan si lelaki itu mengusap lembut bekas pukulan tersebut.


"Enggak, tapi hari ini aku mulai kerja di sini," jawab perempuan bernama Karina tersebut, "jadi apa?" lelaki itu kembali bertanya, "tukang bersih bersih, tapi gaji nya lumayan gedhe." jawab Karina yang hanya di angguki lelaki itu.


"Kak, kau tahu. Aku di lamar seseorang," ucap Karina dengan binar mata yang begitu terlihat bahagia, sedang lelaki itu hanya menunduk. Hatinya sakit dan kecewa, sepertinya hanya dirinya yang memiliki perasaan lebih tidak dengan perempuan itu.


"Selamat, boleh aku bertemu dengan pria itu?" Karina mengangguk cepat dan tersenyum, "sebentar lagi dia kesini kok, Kak," masih ada lengkungan senyum di bibir Karina, sedang lelaki itu bergerak gusar.

__ADS_1


"Lho, Yudha," lelaki yang baru datang menatap dan menunjuk lelaki lain yang sedang duduk bersama Karina, "udah lama, Sayang," lelaki yang baru datang melangkah mendekati Karina, sedang perempuan itu hanya tersenyum lalu memeluk tubuh Karina.


"Kenalin, dia calon Istri gue," ucap lelaki yang baru datang itu, "kami udah saling kenal kok mas," Karina berkata dan terlihat tak enak hati saat melihat wajah masam lelaki yang bernama Yudha.


"Oya, loe tahu Andri sebentar lagi pulang dari luar negeri, katanya buat ngurus usaha papanya," lelaki itu menjelaskan tanpa di minta, lelaki yang bernama Yudha Itu mengangguk.


"Gue udah tahu, Rud. Kami sering berbalas pesan," sahutnya. Ya, Yudha, Rudi calon suami Karina dan Andri adalah sahabat dari semasa mereka duduk di bangku sekolah biru putih.


Dan mereka bertiga seperti saudara, dan selera mereka selalu sama. Hingga undangan pernikahan Karina dan Rudi tersebar, Yudha tidak mau menemui perempuan itu. Takut jika hatinya menghiyanati persahabatan mereka, biarlah rasa itu dia simpan sendiri hingga akhirnya Yudha memilih pergi keluar negeri dan bertemu dengan mama Reno hingga berakhir dengan menikah dan sejak saat itu ia sudah tidak lagi mendengar kabar wanita itu. Dan kini saat dirinya mendengar kabar wanita itu, bukan kabar gembira yang dia terima, namun kabar yang ingin membuat dirinya menghabisi sosok pria yang telah membuat pujaan hatinya nelangsa.


"Aaarrrgghhh!!" Om Yudha berteriak sambil menarik rambutnya frustasi, "harusnya aku merebutmu dari dia dulu, bukannya malah meninggalkanmu," ucapnya sendu.


Dengan segera tangannya meraih laptop dan membuka aplikasi biru yang lama sekali tak dia buka, dengan alasan ada foto mereka bertiga dan tanpa orang tahu, Om Yudha juga menyimpan foto bundanya Ara di sana.


"Kenapa kau meninggalkan aku sendiri, dan kenapa kau meninggalkan seorang putri yang mirip denganmu. Dan kau tahu, putraku tergila gila pada putrimu sama seperti aku dulu, bedanya dia berani dan mau memperjuangkan cintanya." Om Yudha menatap foto bunda Ara yang tengah tersenyum kemudian mengelusnya, foto itu dulu dia ambil diam diam menggunakan kamera ponsel dan dia unggah ke aplikasi biru miliknya.

__ADS_1


"Andri, kau sungguh beruntung memiliki mereka berdua, Karina dan Ara," gumam Om Yudha. Lelaki itu segera menghapus airmata yang mengalir kepipinya dan mematikan laptop yang tersambung ke aplikasi biru miliknya tadi dan mengubah menjadi gambar statistik laporan kantornya saat mendengar pintu di ketuk dan suara istrinya menyusul di balik pintu.


"Pa, aku masuk ya," ulang sang Istri, "ya Ma, masuk aja," sahutnya setelah menetralkan degub jantungnya.


__ADS_2