
"Bagaimana perasaan mu, Mar?" Om Ridwan bertanya ayah Rara yang sudah sadar, ayah Rara mengulas senyum. Menatap Rara dengan sayang.
"Aku baik baik saja, aku beruntung punya putri seperti dia," ayah Rara berkata seraya menggenggam jemari Rara, hati Rara terenyuh. Bangga bisa membuat ayahnya bahagia, dan berharap kelak dia akan bisa membuat orang lain juga bisa merasakan kehadirannya.
"Berarti ayah nggak bangga gitu punya anak kaya aku, huh," keluh Ria, lalu membuang pandangan.
"Ya, Om benar. Om bangga punya anak seperti Rara, pun saya jika menikah dengan dia pasti saya akan semakin bangga dan bahagia," Kak Fandi berucap dan di amini oleh ayah Rara dan Om Ridwan.
"Huh, percaya diri sekali lu, Bang. Memang Rara mau nikah sama elu?" sinis Fajar, "setidaknya saya sudah mendapat restu dari ayah Rara," sahut Kak Fandi santai.
'Hidup ku sebenarnya di tentukan oleh ayah, tapi aku tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Entah kenapa Om Reno memperlakukan aku seperti layaknya pacar sungguhan, dan tadi dia... Dia mencuri kecupan di pipiku, selama ini aku tidak pernah memberikan pipiku pada siapapun, sedang dia seenak hati menciumnya," gerutu Rara dalam hati.
"Ingat jodoh di tangan Tuhan, tapi kita bisa merubahnya. Contohnya, Rara dijodohin sama elu, tapi sama Tuhan dia di tentu in ama yang lain, gue misalnya," kata Fajar yang membuat Kak Fandi jengkel dan geram, wajahnya memerah menahan amarah. Rara mendengar Kak Fandi berucap "Astafirullah Al'adzim," beberapa kali sambil mengusap dada.
"Sudah sudah,jangan berisik. Kalau mau bertengkar atau adu mulut sana di luar, gangguin ayah tau!" ketus Ria. Rara tersenyum lalu memeluk adiknya dari samping.
Walau Ria sering mengeluh masalah ayahnya, namun Rara yakin adiknya ini sang menyayangi ayah mereka.
Ponsel Rara yang berada di atas meja berdering, dengan segera Rara mengambil dan melihat siapa yang memanggil dirinya, 'hah Om Reno, mau apa dia?' monolog Rara dalam hati.
"Ya,"jawab Rara begitu telepon tersambung.
" Ke taman segera, aku tunggu," sambungan terputus sepihak setelah Reno berkata, Rara mendengus sebal. Tapi tidak urung dia berpamitan dan menuju taman.
"Kak Fandi temenin ya, Ra" pinta Kak Fandi, Rara hanya diam, "gue juga ikut, siapa sih yang telepon elu?" Fajar menimpali.
"Pergi aja sana semua," Rara menghampiri sang adik dan berbisik, "nanti mau di bawain makanan apa?" senyum mengembang dari bibir Ria.
__ADS_1
"Apa aja, Kak. Asal enak," jawab Ria senang, Rara mengangguk dan berpamitan setelah melarang Kak Fandi dan Fajar ikut dengan dirinya. Saat keluar ruangan, Rara melihat Mas Seno sedang duduk dan memejamkan kedua matanya.
"Mas Seno ngapain?" Rara hendak mendekat.
"Reno itu sayang sama kamu, jangan buat dia kecewa. Cukup penantiannya beberapa tahun ini," nasihat Mas Seno yang membuat Rara mengernyit bingung.
"Maksudnya gimana?" Rara mengernyit bingung, "nggak ada," kata Mas Seno sambil menggeleng, "ya sudah, Rara ke taman dulu. Titip ayah." kata Rara yang di angguki Mas Seno.
"Kok aneh ya makin kesini?" gumam Rara sambil melangkah menuju taman, netra Rara menelisik sekitar mencari sosok yang sedang menunggu dirinya.
"M-mas," panggil Rara gugup, Reno menoleh lalu tersenyum. Kemudian mengulurkan tangan dan di sambut oleh Rara.
Keduanya duduk dengan keadaan terdiam dengan pemikiran masing masing, Rara tersentak kala Reno meletakkan kepalanya di pundaknya. Meraih tangan mungil Rara dan membuat tangan Rara mengalung di leher Reno, lalu tangannya kekarnya melingkar di pinggangnya yang ramping, "you're mine, i really miss you, Ara," gumam Reno pelan. Rara hendak menarik tangannya namun segera di tahan Reno.
"Hmm, tadi kamu ngomong apa?" Rara hanya mendengar pelan dan berharap Reno mengulangi ucapannya yang baru saja dia lontarkan.
"Kenapa kau memukul ku," protes Reno sambil mengusap usap pahanya, "hmm, itu," Rara bingung menjelaskan.
'Kenapa selalu kau yang mencuri pertama kalinya, kemarin pipi, sekarang bibir!' pekik Rara dalam hati.
"Kenapa pipimu merah?" Reno menekan nekan pipi Rara, tersungging senyum jahil di sana.
"Mana ada!" sahut Rara ketus lalu melenggos, malu rasanya.
"Ra," panggil Reno, refleks Rara menoleh dan mendapati wajah Reno sudah dekat dengan wajahnya, "k-kamu mau a-apa?" tanya Rara gugup, berada di jarak yang dekat dengan sosok pria baru terjadi saat ini. Dan gilanya lagi jantungnya berdetak lebih cepat.
"Apa di sini ada dokter jantung?" tanya Rara polos yang membuat Reno langsung mengerutkan kening, alisnya yang tebal menyatu, "kamu sakit?" tanya Reno cemas, lalu memegang bahu Rara.
__ADS_1
"Dadaku sesak saat di dekatmu begini, jantungku juga berdebar keras, seperti berbunyi dug dug dug," sahut Rara polos sambil memegang dadanya sebelah kiri.
Reno hanya tertawa menanggapi perkataan Rara, lalu menariknya kedalam dekapannya.
"Apa baru kali ini?" Rara mengangguk, Reno semakin mengeratkan dekapan itu. "Terima kasih," ucap Reno yang kemudian mengecup pucuk kepala Rara.
"Kenapa kau suka sekali menciumku?" tanya Rara penasaran, Rara merasakan bidang Reno bergetar, "karena kau pacarku, kau milikku. Jadi siapa lagi yang akan mencium dan memeluk dirimu selain aku." jawab Reno.
"Tapi kita kan berpura-pura saja?" Rara mendongak menatap iris berwarna amber tersebut. Reno menggeleng lalu mendekap Rara kembali.
"Kau ingin membuka restoran kecil kecilan seperti keinginan mu kemarin? Aku bisa membantumu," tawar Reno, lalu menangkup kedua pipi Rara dan membuatnya mendongak, Rara menatap penuh tanya akan semua yang pria ini lakukan padanya.
"Aku ingin membuka dengan hasil usahaku sendiri," tolak Rara yang malah mendapatkan hadiah kecupan di seluruh wajahnya, Reno kemudian terkekeh.
"Kau tahu, kau sangat menggemaskan. Masih sama seperti dulu," Rara memiringkan kepalanya netranya meminta penjelasan akan ucapan Reno barusan.
"Adikmu mau di bawakan makanan apa?" Reno berdiri dan mengulurkan tangan, "dari mana kau tahu adikku ingin makan sesuatu?" Rara berdiri setelah menerima uluran tangan Reno.
"Apa kau masih suka es krim rasa strawberry?" Reno bukannya menjawab tetapi malah balik bertanya, keduanya melangkah menuju minimarket terdekat. Jemari mereka saling terpaut.
"Ra!" Rara berhenti kemudian menoleh dan mendapati Dion sedang memandang mereka berjalan berdua. Dion melangkah maju, menepis jemari Rara dan Reno yang bertautan, namun tidak terlepas. "Bangsat!!!" maki Dion, netranya menatap nyalang pada Reno, namun Reno masih tenang.
Rara ikut mundur dan hampir terjatuh karena Dion mendorong tubuh Reno, beruntung Reno melindunginya dan membuat Rara terbentur dada bidang Reno, "Rara itu calon istri gue bangsat!!!" teriak Dion tidak terima melihat adegan itu sambil melayangkan tinjunya, dengan gesit Reno menggenggam tangan Dion yang hendak memukul dirinya.
"Kamu baik baik saja?" tatapan teduh Reno mengandung kekhawatiran, Rara mengangguk.
Bugh, tubuh Dion terjelembab karena Reno mendorong tubuhnya dengan kasar. Rara memekik histeris, dengan tenang Reno memeluk Rara dan mengusap punggung Rara.
__ADS_1