Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 27


__ADS_3

Sepekan pun berlalu, Rea yang baru tiba di rumah Ria langsung geleng geleng kepala, tak habis mengerti dengan 2 makhluk yang berusia selisih 2 tahun itu, ada saja yang membuat mereka adu mulut dan membuat pusing orang sekitar.


Rea tersenyum melihat wanita yang kini tengah duduk di sofa sembari memandang dan membiarkan kedua anaknya bertengkar, mungkin wanita yang ia sering panggil 'bunda' itu juga lelah memperingatkan mereka.


"Semoga anak-anak kita besok ngga bandel kaya mereka," Rea memutar kepalanya lalu mendelik dan menutup mulutnya, saatmendengar lelaki yang tiba-tiba berdiri di belakangnya menunduk dan berbisik sehingga bibir mereka bertemu untuk sesaat.


"Kakkkk," kesal Rea yang kemudian mendorong tubuh tinggi dan kekar milik Raditya, karena kuatnya dorongan itu, Raditya bisa jatuh jika tidak berpegangan pada tembok.


"Kakakkkkk!!!!" kedua anak yang tadinya bertengkar, begitu mendengar suara Rea langsung berhenti dan berlari menghambur kearah kakak perempuan mereka.


Rea tersenyum dan merentangkan kedua tangannya bermaksud menyambut kedua keponakannya.

__ADS_1


Greepp, "eh," Rea terkejut ketika yang memeluk dirinya bukanlah kedua keponakan nya, "kakak minggir, Ari mau peluk kak Rea," Ari, anak pertama dari Anton dan Ria itu menarik celana panjang yang Raditya pakai.


"Ila juga," anak kedua Ria pun tak mau kalah, bukannya melepaskan pelukan itu, Raditya ikut memutar seakan melindungi miliknya dari musuh.


Ria ingat, dulu keponakan itu juga begitu posesif padanya. Dan melarang semua dekat dengan dirinya, hingga harus menikah dengan Anton pun menunggu mood gadis kecilnya itu membaik.


"Ari, Ila, sudah nanti capek," tegur Rea yang kasihan melihat keponakan itu meloncat-loncat sembari menarik lelaki yang kini tengah memeluk tubuhnya dengan erat, wangi parfum maskulin yang di pakai Raditya begitu memabukkan saat dekat begini.


"Kak," Rea mengangkat tangan dan mengusap dada bidang Raditya, lelaki itu yang tadinya tertawa karena berhasil mengerjai kedua anak kecil itu kini terdiam dan menatap manik mata berwarna amber tersebut.


Namun, sebelum mundur Raditya sempat mencuri kecupan di pipi Rea yang seketika membuat pipi yang tadinya putih menjadi semburat pink, melihat itu Raditya terbahak lalu berjalan menuju di mana Ria duduk.

__ADS_1


Meraih tangan wanita yang sudah ikut membesarkan juga memberi kasih sayang pada gadis yang dia cintai sepenuh hati, lalu menciumnya takzim dan ikut duduk di sana dengan anteng.


"Bunda, kenapa kau bisa punya keponakan yang cantik dan menggemaskan seperti itu, hmm?" Raditya yang kini duduk sembari menopang salah satu kakinya bertanya pada Ria, tapi matanya tidak lepas dari sosok gadis yang kini berjalan kearah mereka.


"Karena bundanya juga cantik, makanya keponakan nya juga cantik," celetuk Ria yang langsung di angguki Raditya, "Radit percaya," balasnya yang kemudian mengedipkan sebelah matanya dan malah mendapat tepukan di pahanya, lalu keduanya tertawa.


***


Di tempat lain, "ah, syukurlah aku sudah sampai. Lelah sekali tubuhku naik pesawat berjam-jam, tapi tak apa, lelahku ini akan terbayarkan besok saat aku mulai masuk ke kampus itu," gumam Rendra yang kini sudah sampai di Indonesia, dan dirinya langsung datang ke apartemen yang memang sudah ia siapkan. Terlentang di atas kasur busa yang empuk dengan kaki menjuntai dan tersenyum tidak jelas.


Rendra sengaja tidak mengabari kakak perempuannya agar tidak datang kemari dan mengganggu kesenangannya, entah kenapa kian kemari Rendra merasa perhatian dan kasih sayang kakaknya berikan tidak wajar.

__ADS_1


Oleh karena itu, Rendra mencoba menjaga jarak dan sedikit menghindari Sera, kakak perempuannya. Karena hari sudah malam, akhirnya Rendra memutuskan untuk tidur.


"Selamat tidur, Rea. Sampai bertemu besok siang," gumam Rendra sembari mengecup foto Rea yang ia ambil dari media sosial gadis itu dan ia jadikan wallpaper di ponselnya.


__ADS_2