
"Kebiasaan lama mu ngga berubah ya," Rea menoleh ketika mendengar suara berada di dekatnya, "masih suka bawa bekal," ujar Rendra yang semakin membuat kening Rea berkerut. Rea membereskan kotak makannya dan kembali memasukkan nya kedalam tas ranselnya.
"Loe kenal gue?" tanya Rea sembari menunjuk dirinya sendiri, Rendra tersenyum kecil lalu mengacak poni gadis itu yang langsung di tampiknya.
"Menurut mu?" tanya balik Rendra yang semakin membuat Rea kesal, "bikin mood gue hancur aja loe," kesal Rea yang kemudian berdiri menggendong tas nya dan kakinya hampir meninggalkan bangku taman kala mendengar Rendra mengatakan sesuatu.
"Apa kau tak rindu pada sahabatmu, maaf saat ulang tahun dulu aku tidak datang. Papa mengajakku pergi tanpa bisa mengucapkan kata pamit padamu," tubuh Rea mematung, ingatannya kembali di mana di saat dia di bangku SMP dan berjanji akan merayakan ulang tahun bersama seseorang tapi orang itu tidak datang dan menghilang tanpa kabar, tubuh Rea berputar menghadap kearah Rendra.
Manik mata berwarna amber itu menatap lekat sosok lelaki yang tengah berdiri dan tersenyum hangat padanya, "Rendra," ucap Rea yang kemudian memeluk tubuh tinggi itu, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Rendra, sedang lelaki itu tersenyum dan bahagia bisa sedekat ini dengan gadis yang dia sukai.
"Kamu dulu kok ngilang?" Rea melerai pelukan itu dan mendongak, Rendra tertawa kecil.
"Aku ngga hilang, cuma sembunyi aja," Rea langsung menepuk kesal lengan Rendra.
__ADS_1
Tak jauh dari sana, Rangga yang melihat pemandangan itu merasa kesal, kesal karena gadis yang dia sukai berpelukan dengan lelaki lain. Rangga menggeram marah, ya semenjak pertemuan dirinya dengan Rea saat ada acara lomba cerdas cermat itu, Rangga mulai tertarik pada Rea yang cuek dan terlihat dingin pada orang lain.
Namun, begitu hangat dan perhatian pada orang di sekitarnya. Rangga sering melihat itu dan bertekad akan mendapatkan Rea, terlahir dari keluarga berada dan serta berkecukupan tapi tumbuh tanpa kasih sayang membuat Rangga selalu mencari perhatian.
Dulu diam diam Rangga selalu menguntit dan mengikuti apapun yang berhubungan dengan Rea, dan itu semakin memperdalam rasa ingin memiliki.
Sempat lega saat melihat Raditya melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi kini dia harus berjuang kembali karena rivalnya telah kembali, apalagi ada anak baru yang terlihat akrab dengan Rea.
"Eh," Rea kaget begitu mendapati Rangga tengah berdiri dan menumpu kedua tangannya di depan dada, sedang menyenderkan badannya dan tersenyum padanya.
"Kakak ngapain di sini?" Rea menekuk kedua tangannya di pinggang, menyipitkan kedua netranya sambil menatap curiga lelaki yang kini mulai berdiri tegak di hadapannya.
"Nungguin kamu," balasnya, Rea hanya memutar bola matanya.
__ADS_1
"Aku menyukaimu dan aku ingin jadi pacarmu," Rea yang hendak membuka pintu seketika berhenti lalu memutar badan begitu mendengar curahan hati lelaki yang menjadi senior di kampus ini.
Rea mendengus sebal, "aku di sini thu mau kuliah, bukan cari pacar," jawabnya, Rangga malah tersenyum dan melangkah maju. Mengukung Rea dengan kedua tangannya dan menatap lekat wajah gadis itu.
"Aku menyukai mu, Rea, jadilah kekasihku," Rangga mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Rea, "sudah aku-" ucapan Rea terhenti karena tiba tiba Rangga menarik tubuhnya kedalam dekapannya.
"Sudah hampir 6 tahun aku memendam rasa ini, dan sekarang aku tidak bisa menahannya lagi. Apalagi saat dia kembali datang setelah setahun pergi," ucap Rangga, dan Rea tahu yang di maksud adalah kedatangan Raditya telah menganggu nya.
"Kak," Rea mencoba mendorong tubuh Rangga, "hmm," Rangga masih menikmati mendekap tubuh wanita yang dia cintai.
"Lepas, aku ada kelas dan harus masuk." Rea mendorong lagi tubuh Rangga, tapi percuma. Karena kesal, Rea menginjak kaki Rangga dan membuat pelukan itu lepas.
"Sakit, Re," rengek Rangga, Rea hanya mencebik dan kemudian membenahi kembali penampilan nya. Lalu membuka pintu itu dan berjalan keluar meninggalkan Rangga yang tengah tersenyum sambil menatap punggungnya.
__ADS_1