Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 12


__ADS_3

"M-mas nan-nanti jangan ngebut ya," wajah Rara terlihat memelas, rasanya Rara memilih naik angkuta saja daripada mobil mewah seperti ini.


"Kenapa memang? Takut?" pertanyaan terdengar seperti ejekan di telinga Rara, "iya," jawab Rara pelan dan dengan kepala menunduk, Reno menghela nafas.


"Kalau mobil milik Seno emang ngga bisa di bawa buat kenceng," kata Reno yang kemudian duduk di belakang kemudi.


"Terima kasih," Reno hanya mengangguk, menukar mobil dengan milik Reno ternyata benar, gadis ini takut dengan kecepatan tinggi.


"Mungkin pas jalan turunan mobilnya akan melaju dengan kencang, kamu tutup mata dan telinga saja," titah Reno dan segera di lakukan oleh Rara, brruum, brruum mesin mobil menyala dan meninggalkan tempat parkir tersebut.


Rara ingin berteriak, menjerit histeris saat tubuhnya seperti terpelanting ke kiri dan ke kanan, Rara sempat membuka mata sedikit, jantungnya berdetak lebih kencang. Ternyata jalanan menuju ke lantai bawah cukup tajam, beruntung Reno menyuruh dirinya memejamkan mata.


Rara membatin, kenapa tidak sampai-sampai di bawah, ingin Rara membuka mata namun dirinya takut karena kecepatan mobilnya itu tidak juga melambat.

__ADS_1


Ckiitt, mobil itu berhenti. Beruntung Rara tidak terbentur dasboard.


"Sudah sampai, ayo turun!" titah Reno sambil membuka seltbelt yang terpasang pada badannya, karena lama tidak mendapat respon Reno menengok kearah Rara, gadis itu masih terpejam dan masih menutup kedua telinganya.


"Huuffthh," Reno meniup pipi Rara, membuat gadis itu kaget dan membuka mata serta telinga nya. Rara mengedarkan pandangan, nampak rumah bercat putih tulang, dari depan saja terlihat mewah, lagi Rara memutar tubuhnya matanya mendapati ada tembok pembatas tingginya sepuluh kaki lebih dan gerbang itu, Rara geleng-geleng karena takjub.


"Sudah rasa kagumnya?" Reno bertanya setelah berdehem, "eh, sudah sampai?" Reno tidak menjawab namun tiba-tiba membantu Rara melepas seltbetnya, wangi parfum maskulin Reno menguar di indera penciuman Rara.


Reno menghampiri Rara yang masih mematung menatap kagum bangunan mewah tersebut.


"Ayo masuk," ajak Reno kepada Rara, dan Reno menekuk tangannya agar Rara mengandeng dirinya, karena pernah nonton film romantis akhirnya Rara mengandeng Reno, dan Reno mengapit tangan mungil gadis di sampingnya.


Jujur Rara gugup, ini pertama kali dia mempunyai pacar walau pun hanya sewaan namun ini brrbeda, walau jadi pacar sewaan dia di kenalkan orang tua asli pria itu.

__ADS_1


Berfikir Rara, berfikir. Rara menarik nafas lalu menghembuskan perlahan, "jangan gugup," kata Reno tenang, Rara hanya mengangguk pasrah, kalau boleh dia ingin membatalkan perjanjian ini, tapi dia tidak bisa, kesembuhan ayahnya tergantung akting Rara kali ini.


"Om tunggu," Rara menarik Reno kembali kebelakang, "ada apa?" tanya Reno heran.


"Sebentar," Rara menarik nafas lalu dia hembuskan, tarik nafas lagi hembuskan lagi, Rara melakukan itu sampai perasaan nya benar-benar plong, "huufftt, sudah ayo," Rara mengandeng lengan Reno dan melangkah masuk kedalam rumah megah itu setelah menghembuskan nafas melalui mulutnya.


"Selamat datang dan selamat malam tuan Reno," sapa salah satu asisten rumah tangga di situ, Reno hanya mengangkat tangan tanda 'ya'.


"Papa sama mama sudah pulang?" Reno bertanya tanpa melihat lawan bicara, benar-benar tidak sopan batin si Rara.


"Sudah tuan, mereka ada di ruang tamu," bibi itu berucap, "ada non Cila juga, mungkin menunggu tuan Reno," bibi itu menambahkan, "hmm," jawab Reno singkat dan mengandeng Rara melangkah menuju ruang tamu.


"Ingat, kamu harus bisa meyakinkan mereka kalau kamu pacarku. Jangan bilang pacar sewaan tapi," Rara hanya mengangguk dan menggigit bibir bawah menahan perasaan gugup.

__ADS_1


__ADS_2