Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 46


__ADS_3

Rea mundur beberapa langkah, sedang Raditya tersenyum smirk melihat gadis itu ketakutan.


"Dari mana kamu bisa masuk?" tanya Rea sambil memegang erat handuk yang membelit tubuhnya, handuk yang menutupi dada sampai di atas lutut.


"Kamu lupa, aku punya akses untuk bisa masuk dengan leluasa di rumah ini?" pemilik tubuh tinggi putih dan berdada bidang itu semakin maju, memangkas jarak di antara keduanya.


Mata Rea terpejam, wajahnya merasakan hembusan nafas beraroma mint. Mata Rea segera terbuka kala menyadari sebuah benda kenyal nan hangat menempel keningnya.


"Cepat ganti baju sebelum aku khilaf," titah Raditya yang kemudian mencuri kecupan di bibir Rea sebelum lelaki itu keluar kamar.


"Kenapa dia selalu bisa bikin jantungku berdetak lebih cepat," gerutu Rea yang kemudian berjalan menuju pintu, membuka dan meyakinkan jika lelaki usil itu sudah tak ada, lalu masuk lagi dan menutup kembali pintu itu, tak lupa Rea menguncinya. Berjaga jaga jika Raditya masuk tiba-tiba.


Dengan cepat, Rea mengganti pakaian. Memakai kaus berlengan panjang dan memakai celana panjang model training, mengerai rambutnya yang panjang dan hitam tapi agak bergelombang.


Memakai pelembab wajah dan sedikit parfum, merasa sudah cukup, Rea berjalan menuju pintu hendak keluar, dan makan malam bersama papanya.

__ADS_1


Rea hampir jantungan saat membuka pintu dan tiba-tiba Raditya sudah berdiri dan bersandar di tembok samping kamarnya.


"Kak Radit!" pekik Rea kesal.


"Ya, Sayang," jawab Raditya santai, tangan kekar itu menarik pinggang Rea dan membuat tubuh mereka berdekatan.


"Ada apa?" suara Rea bergetar, pikirannya berlarian memikirkan apa mau ya lelaki ini.


"Aku sudah lapar," katanya yang kemudian kembali mengecup kening Rea, gadis itu tidak tahu jika saat ini Raditya mati-matian menahan hasratnya saat mencium wangi parfum yang gadis itu pakai, di tambah penampilan rambut tergerai itu.


"Belum waktunya," bisik Raditya tepat di cuping Rea, gadis itu mengerutkan kening karena heran.


"Ini sudah malam, jadi ya sudah waktunya," kata Rea yang kemudian mempunyai ide, ia sampirkan tangannya di bahu Raditya.


Raditya tersenyum miring, "mulai nakal," katanya yang kemudian melepas pelukan itu dan menautkan jemari mereka setelah menurunkan tangan Rea.

__ADS_1


Rea tertawa kecil melihat Raditya sedikit salah tingkah, lalu keduanya berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang makan.


Mendengar suara sandal mendekat, semua orang yang sedang makan malam mendongak. Rea menatap kesal pada Raditya, dan lelaki yang belum paham akan tatapan Rea menaikkan kedua alisnya sebagai tanda tanya, "ada apa?"


Rea menggerak-gerakkan matanya, seakan memberitahu masalah yang membuatnya kesal. Raditya mengikuti arah lirikan Rea, lelaki itu lalu mendengus.


"Biarkan saja, toh dudukmu berdekatan dengan calon suamimu ini," Raditya menaik turunkan kedua alisnya, "terserah," ketus Rea kesal.


Dengan kasar, Rea menghempaskan bobotnya di kursi makan. Raditya pun duduk di samping Rea tepat, seakan tidak akan memberi celah pada orang untuk bisa duduk di antara mereka.


"Kamu makin cantik saja, Re," puji Daffa, Rea cuek dan berpura pura tak mendengar.


Membalik piring lalu mengambil nasi dan beberapa lauk serta sayur, "kamu kayaknya lapar banget, Re?" Daffa kembali bersuara karena tak ditanggapi oleh Rea.


Tanpa banyak kata, Rea meletakkan piring berisi nasi dan sayur tersebut di meja tepat di depan Raditya, "makasih, Sayang," tangan Raditya terulur mengusap lembut pipi Rea dengan punggung tangannya.

__ADS_1


__ADS_2