
Reno segera mencuci wajahnya, netranya masih sedikit terlihat merah karena menangis. Ya dia selemah itu jika berhubungan dengan Ara nya, pria itu juga mencuci tangannya yang berlumur darah dan kini hanya meninggalkan warna biru keungu unguan.
Reno menatap wajahnya pada pantulan kaca di wastafel di toilet tersebut, berkali kali menghembuskan nafasnya berharap rasa bersalah yang menghantuinya segera lenyap.
"Apa saatnya kau harus tahu, Ra?" gumam Reno, tangannya mengacak kasar rambutnya karena frustasi. "Kenapa kau begitu jahat pada saudari kembarmu, Ra. Dan orang tuamu malah membuat kematian palsu itu, seakan akan Ara-ku yang telah pergi." desis Reno.
Reno akan melakukan apapun agar Ara-nya bahagia, termasuk dulu membiayai operasi ayahnya. Dan dia sangat membenci ayah Ara-nya karena menjodohkan wanita yang dia cintai dengan anak sahabatnya.
"Heh, bukankah ayah menjodohkan para pria itu dengan Rara, sedang gadis kecil yang licik itu sudah pergi selamanya. Dan yang ada hanya Ara-ku, jadi pria tua itu tidak berhak memberikan Ara-ku pada mereka, dan aku akan membuat Ara semakin jauh dengan ayahnya." Reno menyeringai dan segera menyalakan kran lalu kembali membasuh wajahnya, juga membasahi rambutnya kemudian kembali menemui Ara yang menjadi Rara setelah menebus obat.
"Kenapa lama sekali?" wanita itu mengerutu, bibirnya yang membuat Reno melayang saat pertama kali merasakannya, maju. Membuat Reno melupakan kekesalannya.
"Maaf, Sayang," Reno menarik Ara-nya kedalam pelukannya. Rara hanya mengangguk dalam dekapan Reno, "apa kau mandi di toilet?" tanya Rara yang membuat Reno mengernyit.
Pria itu melerai pelukan itu dan menatap Rara dengan tatapan mata penuh tanya, Rara tertawa kecil lalu berkata, "lihat rambut dan wajahmu basah, pakaianmu juga basah. Jadi aku mengira kau mandi di sana," mendengar penjelasan itu, Reno tersenyum dan mencubit gemas hidung Rara.
"Pulang?" tawar Reno, Rara menggeleng, "ke resto cabang aja ya," jawabnya manja, Rara kini tahu Reno akan menuruti semua keinginan jika dia bersikap manja, sedang itu bukan sifat aslinya. Reno mengangguk lalu mengandeng Rara keluar rumah sakit, Reno memilih menaiki mobil online. Anton telah pergi keperusahannya, ada acara rapat mendadak katanya.
"Kabar Oma bagaimana? Sudah satu minggu aku nggak kesana," Rara menyandarkan kepalanya pada bahu Reno, rasa sakit itu menyerang kembali. Rara harus menahan rasa itu, jika tidak pria itu akan melihatnya kesakitan dan melarangnya ke resto dan menyuruhnya istirahat total di rumah.
__ADS_1
Dan Rara benci itu, tubuhnya terasa sakit kalau hanya berdiam diri. Sedang Ria kini sudah bekerja di perusahaan Reno, itu juga permintaannya pada Reno. Walau terpaksa akhirnya pria itu menuruti permintaannya, dan Ria di berikan pekerjaan sebagai asisten Seno.
Ayah Rara setelah keluar dari rumah sakit beristirahat sebentar setelah itu bekerja serabutan, terkadang membantu tetangga yang membutuhkan tenaganya.
"Oma baik, dia sedang ke luar kota, ikut opa memeriksa bisnisnya," Reno menjawab lalu mengecup kepala Rara, "apa kau merindukannya?" dengan menahan rasa sakit Rara mendongak dan menatap manik mata amber tersebut lalu mengangguk.
"Cih, hanya Oma yang dia rindukan. Sedang aku, kekasihnya tidak," Reno berpura pura merajuk dan mengalihkan pandangan pada jalanan, Rara tertawa kecil lalu mengusap rahang pria itu yang sudah di tumbuhi rambut namun masih pendek.
"Bagaimana aku merindukanmu, sedang setiap hari kita bertemu. Lihat, kau selalu tidak mau melepasku jika sedang bersama," Reno menahan senyum mendengar jawaban Rara.
"Apa aku harus pergi jauh, agar kau merindukanku," ketus Reno yang hanya melirik Rara. 'Tapi aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri lagi, cukup dulu aku pergi dan malah membuatmu hampir meregang nyawa dan harus koma beberapa bulan. Setelah kau sadar, tak ada yang kau ingat termasuk aku,' gumam Reno dalam hati.
Kepergian Reno tempo hari saat beralasan ada pekerjaan ke luar kota adalah alasan, yang sebenarnya adalah Reno mencari semua yang terjadi selama dia tidak ada beberapa tahun itu, lebih tepatnya mencari tahu tentang Ara-nya.
"Coba ulangi perkataanmu," Reno menoleh dan menatap tajam Rara, 'kan bener dia marah, dasar pemarah. Harusnya dia sadar kalau sudah tua jadi jangan marah marah, nanti jadi bertambah tua,' batin Rara berbicara.
Rara menggeleng seraya mengatupkan kedua bibirnya, "huh," terdengar rasa kesal pada hembusan nafas beratnya. Mereka segera turun setelah membayar dan sampai di resto cabang yang Rara kelola.
Saat memasuki resto tersebut banyak pasang mata menatap kagum dan terpesona pada wajah Reno, dan seperti biasa, pria itu memasang wajah dingin tak tersentuh. Rara heran, biasanya Reno akan menautkan jemari mereka. Akan tetapi ini, pria itu hanya melingkarkan tangannya yang kekar di pinggang rampingnya.
__ADS_1
Rara mengernyit kala menunduk dan netranya tidak sengaja melihat punggung tangan Reno berwarna kebiruan, 'kenapa dengan tangannya? Bukankah tadi waktu berangkat baik baik saja tangannya?' Rara belum berani menanyakan itu, namun dia simpan dahulu. Biarlah nanti jika sedang berdua dia akan bertanya.
Rara menemui pegawainya dan menayakan penjualan hari ini, dan kata mereka hari lumayan. Dan Rara meminta daftar sayur mayur dan bumbu bumbu apa saja yang habis.
Reno memilih pergi keruangan tempat Rara mengerjakan pembukuan dan beristirahat, Reno sengaja mendesain ruangan ini sedemikian rupa. Tentu dengan tujuan agar Ara-nya nyaman, ya Reno sebegitu cinta, perhatian, dan mementingkan wanita itu di atas segalanya.
Reno berdecak kesal kala tidak mendapati fotonya dan Rara yang sedang berpelukan dan dia sedang mengecup kening Rara terpasang di meja. Rara menelan ludah kala masuk dan melihat wajah tidak enak pada pria itu, perasaannya benar benar tidak enak jika Reno memasang wajah seperti itu.
"Mas, kenapa?" walau terbata dan perasaan cemas akan pria itu marah, namun dia tetap memberanikan diri bertanya. Beberapa bulan bersama dan menjalin hubungan pacar sewaan, Reno tidak pernah sekali pun bersuara keras padanya. Hanya rasa cinta dan kasih sayang yang pria itu berikan, dan itu dirasakan nyata oleh Rara.
"Mas kenapa?" Rara mengulang pertanyaannya karena Reno tidak kunjung menjawab, kakinya berhenti tepat di samping pria itu. Rara memekik kaget kala Reno menariknya hingga membuatnya jatuh terduduk di pangkuan Reno.
Tanpa aba aba Reno menarik tengkuk Rara dan menahannya, kemudian menyatukan kedua bibir mereka. Rara tahu Reno sedang marah padanya, namun tentang apa dia tidak tahu, dan akhirnya Rara membalas permainan Reno. Lidah mereka saling membelit dan mereka saling bertukar saliva, Rara mengalungkan keduanya tangannya pada leher Reno dan menekan leher Reno yang semakin membuat pertemuan antara kedua bibir dan lidah mereka.
Reno melepaskan tengkuk Rara dan membuat tangannya melingkar di pinggul Rara, Reno mengumpat dalam hati karena sesuatu miliknya yang berada di bawah sana bangun karena tidak sengaja terkena goyangan Rara saat membalas ciuman itu.
Reno melepas penyatuan bibir dan lidah itu, lalu menghapus sisa salivanya pada bibir Rara. Reno kemudian menyuruh Rara berdiri, "aku mau kekamar mandi dulu," pria itu segera bangun. Beruntung Rara atau Ara-nya masih polos, jadi dia tidak akan banyak bertanya.
Di dalam toilet Reno benar benar tersiksa, dia butuh pelepasan. Akan tetapi tidak mungkin juga meminta dan melakukannya bersama Ara-nya, akhirnya hanya dengan membayangkan sedang bersama Ara-nya dia bisa pelepasan, dan hanya nama Ara yang dia sebut.
__ADS_1
Setelah membersihakan miliknya, Reno segera keluar. Rara memincingkan sebelah matanya menatap Reno, "mas BAB?" tanyanya, Reno yang semula menunduk pun jadi mendongak dan ganti menatap Rara.
"Maksudnya?" tanya Reno tidak mengerti akan pertanyaan Rara, "ish, kamu mah. Kan kamu di dalam lama, nah aku kira kamu sedang BAB," ucap Rara menerangkan. Reno mengangguk walau dalam hati merutuki kebodohannya, 'maaf sayang aku berbohong!!' batin Reno berteriak.