
"Katakan, kenapa kau tiba-tiba pergi tadi? Sedangkan makan siangmu belum selesai?" kini keduanya sudah berada di dalam kamar apartemen milik Reno, dan kini Ara tengah duduk di pangkuan pria yang selalu memaksa agar wanita ini turun.
"Sudah aku bilang bukan, aku ada rapat," bohong Reno, yang sebenarnya dia sedang menahan cemburu saat Ara mengatakan jika dia juga menyukai Fajar, adik sepupunya.
"Lalu jika ada rapat, kenapa sekarang kau ikut masuk?" tangan kiri Ara melingkar di leher Reno dan yang kanan mengusap lembut rahang tegas Reno.
"Karena aku ingin memastikan jika kau nyaman tidur di sini," elak Reno yang membuat Ara mencebik, "alasan," katanya yang malah mendaratkan kecupan di rahang Reno.
"Menyingkirlah, aku mau kembali ke kantor," Reno mengusap kepala Ara lembut, Ara akhirnya beringsut berdiri dan menatap kecewa pada pria yang mengatakan mencintai dirinya namun tidak mempercayainya.
"Aku pergi," pamit Reno, Ara mengangguk.
"Kenapa aku bisa mencintai pria yang tak peka," gerutu Ara pelan namun masih terdengar oleh Reno, di sengaja memang.
"Menyukai seseorang belum tentu mencintai bukan?" gumamnya lagi, Ara menunduk dan sudut ekor matanya melirik Reno yang masih berdiri di depan pintu.
"Jika mau menikah tapi tak di dasari rasa percaya pada pasangan buat apa,"
"Apa aku menikah dengan Kak Fandi saja, yang jelas jelas dia menyatakan mencintaiku dan dia pasti akan percaya padaku?" Ara berpura pura tidak melihat keberadaan Reno.
__ADS_1
Tangan Reno mengepal mendengar wanita yang dia cintai menyebut nama pria lain, dengan langkah lebar Reno berjalan menuju Ara dan mendorongnya hingga jatuha keatas ranjang.
Reno menatap kesal pada Ara, entah kenapa dengan wanita ini dirinya tidak bisa marah.
"Kau! Kau kenapa mendorong aku!" Ara berteriak karena kaget, tidak menyangka jika pria ini cemburu bisa seperti ini.
Reno mendekatkan wajahnya pada Ara, sedang Ara yang gugup refleks mundur. Bukannya berhenti, Reno ikut naik keatas ranjang dan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan.
"Kak!" Ara menjerit kaget saat Reno menarik kakinya dan membuat wanita itu berada dalam kungkungannya, "sepertinya aku harus menghukummu," Reno berbisik di telinga Ara.
"Apa?" bukannya takut, Ara malah menantang Reno.
Ara pun membalas kecupan Reno, dengan berani, wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Reno dan menahan agar kepala Reno tidak keatas.
Reno ******* bagian bibir bawah Ara, berganti mengulum bibir atas. Pun Ara tidak tinggal diam, wanita ini melakukan apa yang Reno lakukan hingga tanpa sadar Ara melengguh, ada yang berdenyut di bawah sana.
Kedua nya masih saling bertukar saliva, tangan kekar Reno yang menopang tubuhnya beralih mengusap lembut kepala Ara.
"Aku mencintaimu, Sayang," bisik Ara di saat pertemuan kedua lidah dan bibir itu berakhir, "kau bilang kau menyukai dia," Reno balas berbisik, Ara menggeleng.
__ADS_1
"Itu dulu sebelum ada pria tua yang membuktikan jika dia benar benar mencintai aku," kata Ara dengan mata berkaca kaca.
"Serius?" Reno menatap lekat wajah gadis kecil yang kini berubah menjadi wanita dewasa, dan kini debaran di dadanya semakin menggila.
Ara mengangguk sebagai jawaban, "apapun yang kau minta akan aku beri," Ara menyugar rambut Reno, pria itu tersenyum bahagia.
"Hanya dengan menikah dan menjadikan kamu milik ku seorang dan hanya namaku yang ada di sini," Reno menunjuk dada Ara, "itu sudah membuktikan jika kau benar benar mencintai aku," sambung Reno yang di angguki Ara.
Reno masih berpikir sehat, bisa saja dia meminta sesuatu yang paling berharga dari Ara sebagai pembuktian cintanya. Akan tetapi, Reno memilih meminta Ara hanya mencintai dirinya, ya hanya dirinya yang boleh di cintai Ara nya.
"Jika oma sudah pulang dari luar negeri, aku akan memintanya mengajak papa dan mama untuk melamarmu." kata Reno yang kemudian mendaratkan kecupan di kening Ara dan bangkit dari atas tubuh wajahnya itu.
"Aku mau ke kantor dulu, nanti jika rapat nya sudah selesai akua akan kembali ke sini," ujar Reno setelah melihat ponselnya dan ada pesan jika ada rapat siang ini, dan Reno lupa, beruntung Mas Seno mengingat kan.
"Kalau mau masak di dapur sudah aku sediakan bahan bahan mentah, jika capek pesan lewat online saja," pesan Reno yang di angguki Ara.
"Kamu nggak pakai jas, Kak?" Reno yang sudah sampai di depan pintu kamar menoleh lalu menggeleng.
"Aku pergi ya, Sayang," pamit Reno, lega rasanya ternyata ketakutan nya akan Ara yang masih menyukai sepupunya tidak sedalam yang ia kira. Ternyata di hatinya hanya ada dirinya, Reno.
__ADS_1