
Pagi sekitar jam 05.30 pagi Rara bangun, dia ingat semalam tidur di dalam dekapan Reno. Saat Rara berbalik, dia tidak mendapati Reno di belakangnya. Rara sedikit meringis saat berusaha bangu, tulangnya sedikit sakit karena tidak terbiasa tidur di tikar.
Netranya beredar di ruangan itu, menatap pintu kamar mandi menunggu siapa tahu pria itu keluar dari sana, tapi setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit tidak ada yang keluar dari sana.
"Sudah bangun, Ra?" Rara yang hendak melipat tikar tersentak kaget, tangannya mengurut dada. Ayahnya tersenyum melihat Rara.
"Ayah sudah bangun?" Rara mendekat setelah meletakkan tikar di bawah brangkar tempat ayahnya berbaring, ayah Rara yang sedang dalam posisi duduk bersandar mengangguk.
"Tadi ayah haus, untung pacar kamu itu sudah bangun, jadi dia bantuin ayah," terang ayah Rara, dan Rara manggut manggut mendengar penuturan ayahnya.
"Lha sekarang m-mas Reno nya kemana, Yah?" Rara menggigit lidah gugup, ayah Rara kembali tersenyum.
"Sholat Subuh katanya, mungkin dia pergi ke masjid di daerah sini," jawab ayah Rara yang di balas Rara dengan berkata o tanpa suara.
Rara dan ayahnya menoleh ke pintu, dokter jaga datang untuk memeriksa, di belakangnya ada suster cantik yang mengikuti. Saat dokter memeriksa tensi darah, Reno masuk lalu menarik kepala Rara dan mengecup nya, setelah itu dia melangkah ke kamar mandi.
"Jangan lupa obatnya rutin di minum biar cepat pulih ya, Pak," tutur dokter itu seraya mengalungka kembali stetoskopnya. Ayah Rara hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian suster datang membawa sarapan untuk ayah Rara, kali ini menunya sawi putih di campur tahu goreng yang di potong dadu, ada telur goreng sebagai lauk nya.
"Mau sarapan apa?" Rara yang sedang berdiri menghadap sang ayah terkejut kala tiba tiba Reno berdiri di belakangnya.
"M-mas mau sarapan apa, Rara ngikut aja," jawab Rara terbata, gugup rasanya berada dekat dekat dengan pria ini.
"Nasi uduk atau bubur ayam?" tawar Reno kembali, 'aaaa itu kan sarapan kesukaan gue semua!' pekik Rara dalam hati.
"Terserah kamu saja," jawab Rara pasrah, bingung harus memilih makanan yang mana.
Reno melangkah menuju sofa, jemarinya terlihat mengulir isi ponselnya, setelah itu menulis pesan. Rara sibuk menyiapkan perlengkapan untuk mandi ayahnya, sedang ayahnya mulai makan sendiri.
"Ayah perlu bantuan?" tawar Reno yang langsung mendapat gelengan dari ayah Rara, Reno kemudian duduk di kursi di samping ayah Rara.
__ADS_1
"Oya, Yah. Nanti Reno pinjam Ara sebentar," Rara yang sedang keluar dari kamar mandi mengernyit heran, ayahnya tidak terkejut dengan nama Ara. Berarti Reno sudah menceritakan sesuatu pada ayahnya, ayah Rara hanya mengangguk.
Pintu terbuka dan Mas Seno masuk menenteng tas plastik, "ini apa?" tanya Rara begitu Mas Seno menyerahkan kantong plastik itu.
"Sarapan," kata Mas Seno yang kemudian berjalan kearah ayah Rara dan menyapa nya, "Mas Seno udah sarapan?" Mas Seno menoleh sebentar lalu mengangguk.
Rara mengambil piring dan sendok, lalu mengambil air putih dan meletakkan nya di meja, mengeluarkan bungkusan itu lalu meletakkan nya di atas piring. Rara mendongak dan menoleh kala pintu terbuka.
"Ra, ini Kak Fandi bawain makanan," kak Fandi menyodorkan kantong plastik yang dia bawa, Rara hanya memandang makanan itu.
"Ini Rara udah di beliin Mas Reno barusan, trus ini di apain?" tanya Rara polos, Kak Fandi berjongkok di samping meja tempat makanan itu telah Rara siapkan.
"Yang ini di makan nanti saja, sedang yang dari Kak Fandi di makan sekarang," kata Kak Fandi seraya menggeser piring yang ada bungkusan tersebut. Kemudian meletakkan sterefom yang berisi bubur ayam di depan Rara.
Rara menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal, netranya melirik Reno yang terlihat cuek.
Benar kata Kak Fandi, jika bubur ayam ini tidak segera di makan nanti keburu dingin, jika sekarang dia makan, takut Reno marah dan entah apa yang akan pria itu lakukan.
"Ini sarapan buat kamu," Fajar mengeluarkan bungkusan dan sterefom yang tadi berasa di kantong plastik yang dia bawa. Rara seketika lemas, ayahnya, Mas Seno dan Reno hanya diam. Pintu kembali terbuka, Ria datang dengan wajah sumringah dan di belakangnya ada Rania.
"Kok kalian bisa kesini barengan?" Ria mendekat lalu mengambil bubur ayam yang tadi di belikan Kak Fandi, lalu mengambil makanan yang di bawa Fajar.
"Aku bantu habisin ya, Kak," Ria segera keluar setelah berkata demikian, Rania mengekori Ria.
"Lumayan pagi pagi dapat rejeki," celetuk Rania sambil melambai pada Rara.
"Ra, kok itu di bawa adik kamu?" tanya Kak Fandi dengan nada protes, "iya, kan aku ngasihnya ke kamu. Wah nggak bener ini," Fajar dan Kak Fandi berdiri dan melangkah keluar di ikuti Mas Seno.
Reno berdiri dari sana setelah menerima tempat bekas ayah Rara makan, kemudian berdiri dan meletakkan di samping pintu.
__ADS_1
"Kalian sarapan dulu saja, ayah sudah kenyang." kata ayah Rara, "tapi habis ini ayah mandi ya?" pinta Rara, ayahnya hanya mengangguk.
Rara membuka bungkusan itu dan meletakkan di depan Reno yang sudah duduk di sampingnya, "jangan di buka dulu," kata Reno mencegah Rara membuka jatah makannya, Rara menghentikan gerakannya.
"Kau suapi aku," kata Reno sambil menaik turunkan kedua alisnya, Rara melirik kearah ayahnya, kenapa Om Reno tiba tiba jadi seperti bayi, minta di suapi segala batin Rara.
Mau tidak mau Rara akhirnya menyuapi Reno, "kenapa mereka lama sekali?" tanya Rara sambil sesekali netranya menatap pintu.
"Apanya yang lama?" tanya balik Reno setelah meneguk air putih, kemudian membuka jatah sarapan Rara dan menyuapi nya.
"Enak?" Rara mengangguk di sela mulutnya mengunyah, "besok mau ganti bubur ayam?" tawar Reno, lagi Rara mengangguk sambil tersenyum.
"Siap, apapun yang Tuan Putri minta, pasti akan Reno beri," ucapannya seraya mengerling nakal. Rara menatap Reno yang berdiri dan melangkah menuju dispenser, kembali dengan air yang penuh dan menyodorkan padanya.
"Terima kasih," Reno mengangguk lalu menuang sisa makanan Rara pada makanan miliknya, lalu kembali menyuapi Rara, dan gantian menyuapi dirinya.
"Apa kau kenyang makan sedikit?" Rara bertanya karena melihat Reno hanya makan sedikit, dalam arti dua bungkus nasi uduk itu, dia memakan satu setengah bungkus dan Reno hanya setengah nya saja.
"Melihat mu makan aku sudah kenyang," sahut Reno yang kemudian mengecup punggung tangan Rara, 'jangan perlakuan aku seperti ini, jika kita selesai akan banyak kenangan nantinya. Dan aku takut berharap dengan kenyamanan ini,' gumam Rara dalam hati.
"Ayah mau mandi?" Reno meletakkan piring yang dia bawa dan berjalan menuju brangkar. Kemudian memapah ayah Rara menuju kamar mandi.
Pintu terbuka menampilkan Kak Fandi dan Fajar yang memasang wajah kesal, kemudian duduk menghimpit Rara.
"Kalian kenapa memasang wajah di tekuk seperti itu?" saat akan menjawab, Mas Seno masuk dan menatap kak Fandi serta Fajar bergantian.
"Jangan lupa siapkan apa yang kemarin gue minta," Reno tiba tiba keluar dari kamar mandi dan berbicara pada Mas Seno, dan langsung di angguki oleh Mas Seno.
"Ra, baju ayah mana?" Reno ganti memandang Rara, perempuan itu menepuk keningnya lalu berdiri melewati Fajar dan berjalan kearah nakas tempat dia meletakkan pakaian ayahnya, lalu mengambil pakaian ayahnya.
__ADS_1
"Di luar ada adik sama teman kamu, kamu nggak ingin ngobrol sama mereka?" tanya Reno setelah menerima pakaian yang Rara sodorkan, Reno mengusap pipi Rara sambil tersenyum. Rara bingung dengan sikap Reno.
"Ra," Kak Fandi dan Fajar menatap Rara dengan sendu. 'Hah, sumpah gue bingung, hati gue suka sama Fajar tapi tubuh gue nggak bisa nolak semua perlakuan Om Reno. Ini terlalu mendadak, apalagi ada Kak Fandi yang di jodohkan sama gue. Ya Gusti, Rara harus bagaimana??' jerit Rara dalam hati.