
"Kok wajahnya ngga enak di pandang gitu, Kak?" kini Reno tengah duduk di samping Ara di ruangan khusus di resto Ara. Reno hanya menggeleng seraya meletakkan kepalanya di pangkuan wanita nya, dengan sabar dan telaten Ara menyisir terkadang mengelus rambut kekasihnya.
"Kalau ada masalah cerita, Kak," tutur Ara yang kini mulai paham akan sifat pria ini, selalu diam dan memendam masalahnya sendiri tanpa berniat memberi tahu siapapun, termasuk dirinya.
Semua orang akan tahu masalah yang tengah dia hadapi kalau masalah itu telah teratasi. Ara menarik nafas pelan lalu menghembuskan perlahan, hatinya yakin jika kekasihnya ini tengah mempunyai masalah. Tapi apa, bagaimana cara agar dia tahu dan bisa membantu.
Jika berpura pura marah pun tetap tak akan berhasil, sembari diam, Ara sembari berpikir agar bisa tahu pokok masalah yang membuat pria yang kini tengah memejamkan kedua matanya berbicara.
"Oya, Kak. Kamu sudah berkirim pesan lagi sama Om Indra?" Reno menggeleng masih dalam posisi memejamkan mata dan menikmati belaian yang Ara berikan, sangat menenangkan.
__ADS_1
Ketukan pintu membuat Reno mau tak mau membuka mata dan beringsut merubah posisi menjadi duduk.
"Mbak ada yang nyari," seorang perempuan yang kini berdiri di depan pintu setelah di bukakan oleh Ara melapor, "siapa?" tanya Ara bingung, pasalnya hari ini dirinya tidak ada janji sama sekali.
"Cewek, namanya...." perempuan itu mencoba mengingat, tangannya mengepal lalu memukul pelan keningnya. Ara tersenyum kecil melihat pegawai nya yang satu ini, sebenarnya rajin akan tetapi pelupa.
"Mbak Riana atau Rania atau Ranti, hish lupa. Pokoknya teman mbak Ara pas kerja di supermarket," ucap karyawati Ara tersebut.
"Ya sudah, biar saya temui. Tolong bilang tunggu sebentar," ucap Ara yang langsung di angguki Mimi.
__ADS_1
Reno sering memperingatkan Ara jangan sembarangan memasukkan orang kedalam ruang kerjanya, hati orang tak ada yang tahu. Mungkin di luar baik namun di dalamnya busuk, Ara menurut saja, karena baginya, Reno sudah lebih berpengalaman.
"Kak, aku mau nemuin temen ku dulu ya. Kalau kakak mau apa apa, bilang ke Ara atau minta langsung ke pantry," Ara meminta izin pada Reno yang kini kembali merebahkan tubuhnya, Reno menatap Ara kemudian mengangguk.
Ara melempar senyum dan mencuri kecupan di pipi Reno yang kemudian tersenyum kecil, Reno hanya menghela nafas dengan kelakuan kekasihnya itu. Sepeninggal Ara, Reno kembali merenungkan ucapan Mas Seno tadi.
Hanya pada Anton dirinya bisa meminta tolong, tapi mengingat tabiat sahabatnya itu pasti ada udang di balik batu. Dalam arti dia mau membantu akan tetapi harus ada imbal balik.
Kemarin dia melihat adik Ara dan terlihat tertarik, bagaimana jika dia meminta imbalan mendekatkan dirinya dengan adiknya Ara, memang ia bermaksud mendekatkan Anton dengan adik Ara agar sahabatnya itu tobat menjadi playboy.
__ADS_1
Akan tetapi bagaimana jika adik dari kekasihnya malah di permainkan, Ara pasti akan marah dan sedih. Dan Reno tidak bisa melihat Ara seperti itu karena besar nya rasa cinta itu.
Dering ponsel Reno berbunyi, Reno melihat ID si penelepon. Nama, Ria terpampang di sana. Dalam hati Reno berpikir bagaimana adiknya Ara bisa mengetahu nomernya, apa Seno yang memberi tahu Ria? gumam Reno dalam hati.