
Plak, Raditya memukul kepala orang yang ia suruh mencari sesuatu yang membuat ia curiga saat pertama kali Rendra datang ke rumah calon istrinya, dengan map cokelat yang berisi laporan.
"Kenapa kerja kalian akhir-akhir ini lelet sekali!" ucap Raditya dengan kesal, satu bulan sudah semenjak kejadian itu dan baru sekarang anak buahnya menyerahkan penemuannya.
"Maaf bos, calon mertua anda dan keluarganya terlalu pandai menyimpan rahasia ini, dan ini pun kami dapat dari utusan anak buah calon mertua anda," ujar lelaki bertubuh kurus tinggi dan terbiasa mengatasi masalah Raditya.
Raditya mendecakkan lidah kesal, kemudian menghempaskan bobotnya di sofa ruang tamu menopang satu kaki dengan kaki lainnya, sedang anak buahnya menatap penuh ketakutan jika penemuannya tidak sesuai dengan apa yang bosnya mau, beruntung mama serta papanya pergi keluar kota beberapa hari, jadi tidak akan mengetahui kelakuan putra semata wayangnya.
Tangan kekar yang di tumbuhi bulu bulu halus itu membuka perlahan map cokelat yang ada di tangannya, mengeluarkan kertas yang berisi informasi mengenai beberapa hal.
Kening Raditya mengkerut heran, "Rea punya kembaran, dan kembaran Rea hilang semenjak lahir?" Raditya membaca inti penemuan itu, tangannya terulur memijat pangkal hidungnya.
"Apa Rea tahu masalah ini?" Raditya mendongak dan menatap anak buahnya bergantian, "sepertinya belum, Bos." sahut anak buahnya yang lain, Raditya manggut-manggut mengerti.
__ADS_1
"Cari tahu lagi siapa dan di mana kembaran Rea, aku akan memberi bonus jika kalian bisa segera menemukan dia, semakin cepat ketemu, semakin besar bonus yang aku kasih," anak buah Raditya tersenyum samar, antara senang dan sedih.
Mencari informasi tentang rahasia kembaran tunangan tuan mudanya saja butuh waktu hampir satu bulan, itu pun jika tak di bantu temannya yang berkerja menjadi mata-mata Reno.
"Bos transfer dulu 'lah gaji bulan ini," anak buah Raditya memasang wajah memelas, "oya, menurut bawahan saya saat ini nona Rea sedang berada di sebuah apartemen bersama pemuda, tadi ada seorang perempuan menampar nona Rea dan pemuda itu sempat memarahi perempuan itu, dan yang ternyata perempuan itu kakak dari pemuda itu," lelaki bertubuh kurus tinggi itu melaporkan hasil laporan bawahannya, tangannya terulur menyerahkan ponsel yang berisi beberapa pesan dan foto di mana Rea dan Rendra masuk ke apartemen.
"Terus awasi saja, tangani jika ada yang mencoba membahayakan calon Istriku," kata Raditya yang langsung di angguki semua anak buahnya.
"Ada hal menarik yang perlu anda ketahui, pemuda itu dan perempuan menampar nona Rea bersaudara tapi tak sedarah, lebih tepatnya bukan kakak adik kandung," lelaki bertubuh kurus tinggi itu menambahkan informasi yang bawahannya laporkan.
Dan inilah dirinya sekarang, cinta mati pada satu orang wanita, dan tak akan melepaskan sampai kapanpun.
***
__ADS_1
"Beny?" kaget Sera saat mendapati lelaki itu tengah berbaring di ranjangnya, "kenapa, kaget aku bisa masuk ke kamarmu, Sayang?" Beny menyeringai.
Sera keluar dan memanggil asisten rumah tangganya, tapi rumah itu sepi seakan tidak berpenghuni.
"Mencari siapa, Sayang?" Beny tiba-tiba sudah berada di belakang Sera dan memeluk tubuhnya begitu erat, Sera menggeliat mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan Beny.
"Ben, lepas," pinta Sera sambil menangis, tangan Beny yang kekar kini berpindah ke atas di mana gunung kembar Sera tertutup, sedikit meremas membuat Sera menjerit ketakutan.
"Beny, kamu jangan gila. Lepaskan aku, aku mohon," tumpah sudah airmata Sera karena dirinya sudah di lecehkan, bukannya berhenti, Beny dengan tangan terangkat menyingkirkan rambut Sera agar tidak menghalangi pemandangan lehernya yang jenjang.
"Kau tahu, semakin kau memberontak, aku semakin menginginkan tubuhmu, Sayang," bisik Beny yang kemudian memberi tanda di leher Sera.
Sera semakin kuat meronta, membuat sesuatu milik Beny di bawah sana berdiri. Beny mendesis dan semakin mengeratkan tubuh Sera bagian bawah dengan tubuh bagian bawah miliknya.
__ADS_1
Sera tak hilang akal, dengan segera ia menginjak kaki Beny, dan si saat Beny mengaduh dan tanpa sadar dekapannya lepas, Sera segera berlari meninggalkan Beny tengah meringis kesakitan.