
Setelah mengantar Rara pulang, Reno memilih kembali ke kantornya. Dengan memasang wajah dingin, pria berusia hampir 36 tahun itu memasuki kantornya dan tidak membalas sapaan para karyawan yang berpaprasan dengan dirinya saat menuju lift khusus direktur.
Reno segera masuk keruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, membuka laci di meja kerjanya. Mengambil map berkepalakan tulisan rumah sakit di mana Rara dulu periksa. Tangannya mengeluarkan, kertas yang bertuliskan penyakit Ara-nya. Dan netra ambernya menatap serius hasil ronsen yang dia ambil tiga hari setelah Ara-nya merasakan sakit kepala dan dia mengantarnya periksa.
"Dasar perempuan licik! Beruntung kau sudah mati, jika tidak aku yang akan membunuhmu," desis Reno yang meletakkan mao itu di atas meja kerjanya.
Reno mengambil dompet yang berada di saku belakang celana nya, lalu mengambil selembar foto lawas dan memandang foto dua gadis kecil. Senyum Reno terbit kala dia melihat sosok gadis kembar yang salah satu nya selalu di kuncir kuda.
"Kenapa kau melupakanku, hmm. Sudah lebih dari 10 tahun, sedetikpun aku tidak pernah melupakanmu, Ara," gumam Reno lalu melipat foto itu dan mengecup foto itu, kemudian membukanya kembali.
"Dan kau, kau adalah saudari kembar yang jahat. Kau kira aku tidak tahu, kau selalu iri akan apa yang Ara punya. Dan bodohnya mereka selalu membela dirimu yang selalu saja menyusahkan mereka juga menyusahkan Ara ku," tatapan dingin dan senyum sinis keluar dari pria itu.
"Apa kau tidak puas sudah membuatnya celaka dan melupakanku, lalu kedua orang tuamu mengganti nama Ara dengan namamu." Hanya lewat foto itu Reno meluapkan kekesalannya pada saudari kembar Ara.
__ADS_1
"Besok kita akan bertemu, Rara" desis Reno, "bukan hanya kita, tapi juga Ara," timpal Reno masih menatap foto itu.
"Bukankah kau membencinya, kalau begitu bantu dia mengingatmu agar dia juga membalas membenci kalian." Reno kemudian membanting foto itu. Lalu mengambil dan menciuminya.
"Maaf Ara sayang, aku hanya marah pada dia. Maaf aku menyakitimu," ucap Reno berulang ulang dan seraya menciumi foto Ara-nya.
*****
Di rumah Rara terlihat begitu sepi, Rara yang sudah selesai mandi mencari keberadaan ayahnya. Akan tetapi dia tidak juga kunjung menemukannya, akhirnya Rara memutuskan memasak untuk makan malam.
Ingatannya kembali saat Reno melamarnya dengan menggunakan cara aneh, dan lagi, Rara terkikik.
"Sudah tua tapi kaya abg aja sifatnya," Rara menggeleng gelengkan kepalanya geli. Kemudian ia kembali sibuk memotong sayur dan mengupas bumbu.
__ADS_1
Rara menggaruk hidungnya kala membuka lemari es miliknya, bukankah dia belum berbelanja. Tapi ini siapa yang membelanjakan semua ini, tidak mungkin ayah dan Ria kan? batinnya bermonolog.
"Lho, tumben kakak sudah pulang?" Ria yang muncul tiba tiba mengagetkan Rara, "ck, bikin kaget aja sih," gerutu Rara yang di balas kekehan Ria.
"Kakak mau masak?" Ria mendekat, sedang Rara mengangguk sambil membawa beberapa butir telur.
"Eh, Kak. Itu tadi, mas Seno ngajakin Ria belanja bulan buat dia. Trus dia nanyain apa aja di rumah yang habis, aku bilang aja semua. Aku ngga salahkan ,Kak?" tanya Ria dengan lugunya.
Rara menggeleng pertanda adiknya tidak salah, yang salah adalah kenapa Mas Seno malah membelikan semua ini. Kesal Rara.
"Kamu ada hubungan apa dengan mas Seno?" netr Rara memincing menatap adiknya, Ria terlihat salah tingkah.
"Sebatas asisten, Kak," jawab Ria, Rara hanya mencebik tidak percaya. Tidak mungkin kalau hanya asisten belanjaan segini banyak di bayari secara cuma cuma.
__ADS_1
Rara tidak tahu, Reno selalu meminta Seno membelikan apapun kebutuhan Ara-nya.