Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 14


__ADS_3

Suara bel tanda pulang pun berbunyi, anak anak berhamburan keluar kelas, dan mereka segera berlari ke parkiran, di sana ada beberapa orang tua mereka yang menjemput di sana. Ada yang menaiki sepeda dan bagi kelas 9 ada yang menaiki sepeda motor.


Rea berlari begitu melihat mobil sang papa yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri, pemilik manik mata amber tersebut menatap sekeliling, netranya mencari sosok lelaki yang sangat ia sayangi tersebut.


Rea langsung tersenyum kala melihat seseorang mengulurkan bunga untuk dirinya, memutar badan lalu memeluk si pelaku.


"Tuan putri suka?" tanyanya, Rea mengangguk di dalam dekapan papanya.


"Kenapa papa tadi nggak ada?" Rea menarik tubuhnya dan memukul pundak sang ayah, Reno terkekeh lalu mencium pipi sang putri.


"Tadi tante Siti menelpon, katanya dia mau ketemu," Reno menjawab sambil mengacak rambut Rea, gadis itu tersenyum lalu melepas rambutnya yang tadi pagi Reno ikat. Rambut panjang dan hitam legam sepinggang dan sedikit mengombak itu terurai, menambah kadar manis dan wajah menggemaskan di mata Reno.


"Kenapa kau begitu cantik seperti mamamu, hmm. Papa jadi pengen peluk terus," Reno berkata sembari merentangkan kedua tangannya, Rea tertawa mendengar selorohan papanya.


"Ya udah yuk, ke resto mama dulu. Keburu di tungguin Tante Siti, Rea juga sudah kangen benget soalnya," Reno mengulas senyum mendengar ucapan putrinya.

__ADS_1


Reno akui, walau Rea telah kehilangan kasih sayang Ara sebagai ibu kandungnya, akan tetapi anak gadisnya itu mendapatkan kasih sayang dari siapapun. Rea sangat mirip dirinya dan Ara, begitu dingin di luar tetapi hangat pada orang yang ia sayang, oleh karena itu banyak yang menyayangi dan menjaga putri kecil itu.


Sepeninggal Reno dan Rea, Raditya, Rendra dan Bagas yang sedari tadi memperhatikan tingkah gadis itu walau di tempat yang berbeda itu tersenyum samar.


"Pa, aku mau minta tolong boleh nggak?" Rea yang suka duduk di jok belakang menatap wajah papanya melalui spion, Reno melirik spion depannya sebentar, mengangguk lalu kembali menatap jalanan.


"Jangan marah, tapi," Rea cengengesan, lagi Reno mengangguk, "beneran lho ngga marah," Rea terkikik sambil menutup mulut dengan sebelah tangan, sebelah tangannya menunjuk papanya.


Reno mendengus jengkel pada putrinya, jika sudah seperti ini, pasti anak gadis nya ini ada maunya, dan tak bisa bahkan tak mau di tolak keinginan nya yang bagaikan perintah dari raja atau ratu untuk prajuritnya, mirip sekali dengan dirinya.


"Papa kalau mandi jambangnya ngga di kerok ya, geli tau," protes Rea yang membuat seutas senyum di bibir Reno, "dulu, mama Ara yang mengingat kan Papa, kadang Mama Ara juga yang memaksa. Sekarang karena sibuk dengan tuan putri papa, dan mama nggak ada, ya ngga ada yang mengingat kan," Rea langsung mengalungkan tangannya di leher Reno.


"Mulai besok, Rea yang akan bantu papa cukur kumis juga jambangnya," Reno hanya mengangguk lalu menyatukan kepalanya dengan kepala Rea.


***

__ADS_1


"Selamat siang, tuan muda," sapa seorang wanita muda pada seorang anak lelaki berseragam atasan putih dan bawahan biru, "mama ada?" tanpa menjawab anak lelaki itu balik bertanya.


"Ada tuan muda, nyonya ada di kantornya," jawab si wanita tersebut, tanpa basa basi anak lelaki itu berjalan meninggalkannya dan menuju kantor mamanya.


Tanpa mengetuk pintu, anak lelaki itu membuka pintu yang terbuat dari kayu dan berwarna cokelat tua tersebut. Mendengar pintu di buka, seorang wanita berusia sekitar 50 tahun mendongak lalu tersenyum hangat.


"Baru pulang trus langsung kesini, Dit?" yang di tanya hanya mengangguk, kemudian melempar tubuhnya pada sofa di sebelah kirinya, kepalanya mendongak lalu netranya terpejam.


"Raditya Putra Fernandes," wanita itu tahu sepertinya ada yang tidak beres dengan putranya tersebut, oleh karena itu memanggil nama panjang putra sulungnya akan membuat anak lelakinya berucap.


"Tadi ada anak kelas 7, mama tahu, dia sangat berbeda dengan anak anak perempuan yang lain," Raditya membuka mata elangnya, lalu menatap langit-langit ruangan kerja Nyonya Fernandes, mama dari Raditya.


Nyonya Fernandes tersenyum mendengar cerita putra sulungnya, baru pertama kalinya anak lelakinya ini bercerita tentang seorang anak gadis. Kaki melangkah menuju tempat putranya duduk setelah mematikan laptop yang tadi ia simak karena harus mengurus keuangan rumah makan ini.


"Terus bedanya apa?" Raditya menoleh lalu menatap netra mamanya, kemudian tersenyum kala mengingat sosok perempuan yang berani mengeraskan suara di hadapannya lalu menunjuk wajahnya, dan berani menatap matanya secara langsung tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Jangan pacaran dulu, sekolah yang bener," Raditya dan Nyonya Fernandes menoleh kearah sumber suara, Raditya memutar bola matanya malas.


__ADS_2