
Tok tok tok, tiba-tiba pintu terbuka, tampak gadis berpakaian kemeja putih dan menggunakan rok sedikit di atas lutut, rambutnya di kucir kuda.
Rara mengulas senyum pada gadis penyelamat itu, sedang semua orang masih menatap bingung siapa gadis tersebut, kecuali kak Fandi.
"Kak," rengek gadis itu, ternyata Ria sudah sampai. Rara mendongak melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk.
"Udah ngelamar kerjanya, Dik?" Ria mengangguk dan berjalan menuju sofa, melempar senyum pada Fandi yang terlihat kaget karena Ria melintas di depannya.
"Udah, tinggal nunggu tes panggilan wawancara," jawab Ria setelah menghempaskan bokongnya di sofa berwarna cokelat tersebut.
Fandi kembali menunduk, sedang kedua orang dewasa itu bertanya pada ayah Rara melewati sorot mata mereka.
"Namanya Riana, dia adiknya Rara, kami memanggil dia Ria. Oya, bukannya kamu pernah ketemu Ria saat dia masih Sekolah Dasar ya?" terang pak Gito, ayah Rara dan Ria, matanya beralih memandang om Ridwan.
Om Ridwan terlihat mengingat dan akhirnya mengangguk samar.
__ADS_1
"Oya, Mas Amat gimana kalau adik Rara di nikahkan saja sama anak mas tadi, biar Rara tetap sama Fandi," Rara, Ria, ayah Amar dan om Amat membelalakkan kedua mata mereka.
"Maksud, Om apa?" Ria dengan ketus bertanya, Rara berjalan kearah adiknya.
"Hust, ngga sopan sama yang lebih tua nada bicaramu," tegur Rara seraya mengusap lembut kepala adiknya.
Om Ridwan mendekati Ria dan Rara, lalu memandang keduanya bergantian dan tersenyum.
"Kamu tahu teman kakak kamu yang namanya, Dion?" tanya Om Ridwan, sedang Ria mengangguk dan memutar bola mata malas.
"Kenapa om nanyain kak Dion?" mata Ria menyipit, Om Ridwan menoleh kearah om Amat dan ayahnya.
"Dia," Om Ridwan menunjuk om Amat, "dia ayahnya Dion, dia sedang cari mantu. Kamu mau 'kan nikah sama anak om itu?" Rara tersedak salivanya sendiri saking terkejut, sedang Ria melonggo karena pertanyaan yang terdengar seperti tawaran.
"Ngga," Ria menggeleng cepat, "Ria ngga mau nikah dulu!" tolak Ria dengan ketus.
__ADS_1
"Ria masih ingin kerja, terus kuliah, terus masih banyak cita-cita yang Ria yang belum kesampaian," tolak Ria tegas, bisa di bandingkan. Ria dan Rara memang memiliki ketegasan pada hal-hal tertentu, mereka belum ingin terikat dengan lawan jenis, masih ingin bebas.
Rara dengan usaha membahagiakan ayah dan adiknya, sedang Ria dengan segala cita-cita dan keinginannya. Walau begitu mereka tetap ingin membuat ayah mereka bangga dengan sesuatu yang mereka capai dengan kerja keras mereka.
Ria berdiri menarik kasar tangan kakaknya dan melangkah keluar, bagi Rara ini biasa jika adiknya sedang tidak nyaman.
Ria menjatuhkan kasar bokongnya pada kursi tralis di luar ruangan ayahnya, bibirnya mengerucut membuat Rara gemas, Rara juga ikut duduk di sebelah adiknya.
"Mereka siapa sih, Kak? Ngatur-ngatur Ria seenaknya!" kesal Ria mengeluarkan unek-uneknya.
"Kamu udah makan tadi pagi?" Rara memilih mengalihkan percakapan tersebut, Ria mengangguk sambil tersenyum.
"Pakai makanan yang kak Rara bawa semalam," Rara mengernyit heran, "kan kemarin ngga Ria habisin langsung makanannya, Kakakkk!" kesal Ria yang membuat Rara malah tertawa.
"Ria masukin itu sisa makanan ke magic com, malas kalau ke lemari es nanti harus menghangatkan lagi," keluh Ria sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Ria menengadahkan tangannya, Rara yang tidak paham bertanya melalui gerakan alis dia tautkan dan dia naikkan, Ria berdecak sebal.