Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 59


__ADS_3

Selesai makan malam, keluarga Reno kembali bercengkrama di ruang tamu. Adit terlihat begitu menyukai Rara, terlihat dari tingkah anak itu tidak mau lepas dari Rara.


Reno pergi ke kamarnya sebentar meninggalkan Rara bersama Oma dan opa nya, selang beberapa menit Reno kembali membawa switer berwarna kuning. Reno menyerahkan pada Rara agar di pakai.


Rara menerima walau bertanya dalam hati, untuk apa memakai switer tersebut jika naik mobil, andai dia kedinginan bukankah dia bisa meminta Reno mengecilkan ac mobil itu.


Namun dugaan Rara salah, saat Reno pamit izin pulang pada oma dan opa nya, pria itu menuntun Rara menuju garasi. Di sana banyak sekali koleksi motor, tangan Rara di genggam Reno.


"Pakai ini mau?" tawar Reno sambil menunjuk motor model harley, Rara menggeleng. Netranya sibuk mencari model motor yang bisa membuatnya nyaman, akan tetapi tidak kunjung juga mendapatkan.


"Motor matic nggak ada, Sayang. Jadi jangan cari itu ya," Rara tercengang, bagaimana Reno bisa tahu dia sedang mencari motor matic.


"Pakai itu aja ya?" tawar Reno sambil menunjuk motor trail, Rara mundur seketika, kepalanya menggeleng pelan. Reno terkekeh melihat reaksi Rara, kemudian menarik tangan Rara menuju motor tersebut.


"Aku janji nggak ngebut kok," ucap Reno yang membuat Rara tersenyum lega, "ayo naik," pinta Reno. Rara masih bingung bagaimana caranya naik, "pegangan sini." kata Reno sambil menepuk pundaknya


"Kakinya manjat di sini lalu duduk," Reno menginterupsi cara agar Rara bisa naik, terbiasa naik motor matic dan sejenisnya hingga membuat Rara bingung cara naik pada motor model begini. Rara melakukan apa yang Reno katakan, beruntung gaun yang dipakai Rara, mengembang di bagian bawah dan tidak membuat Rara kesulitan saat melangkah.


Reno menyerahkan helm yang tergantung pada motor sebelahnya, kemudian menyalakan mesin motornya lalu keluar dari garasi, di depan gerbang ada si penjaga sedang mengobrol dengan art yang membukakan pintu masuk Reno dan Rara tadi.


"Tuan," sapa mereka bersamaan, akan tetapi Reno diam tidak membalas sapaan mereka. Hanya Rara yang melempar senyum pada mereka, dan mereka menunduk tanpa membalas senyuman sapaan Rara.


"Kenapa kau tidak membalas sapaan mereka?" tanya Rara sambil memakai helm yang belum dia pakai saat keluar rumah Oma Reno tadi.


"Kenapa aku harus membalasnya?" tanya balik Reno, "tapi kan suatu saat kamu butuh mereka, dan mereka bisa membantu," ujar Rara.


"Orang seperti mereka hanya baik di depan, jika kita butuh tinggal kasih uang kelar," sahut Reno.


"Sakit, Ra," Reno terkekeh sambil mengusap pinggangnya yang di cubit Rara, kemudian menarik tangan Rara agar melingkar di perutnya. Mau tidak mau dada Rara menempel pada punggung Reno.


"Kau lihat tadi, saat kau membalas sapaan mereka dengan senyummu? Bukannya membalas senyum balik mereka malah menunduk. Jika mereka berniat menyapa seenggaknya mereka juga menyapamu, atau membalas sapaan yang kamu berikan," tutur Reno panjang kali lebar.

__ADS_1


Rara membenarkan ucapan Reno, "tapi mungkin mereka masih canggung sama aku," Rara masih kekeh pada pendiriannya, Rara yang selalu berpikir positif terus berbicara seakan membela mereka.


"Dengar, Sayang. Jika kau suatu saat sukses, jangan mudah percaya pada orang lain. Siapa tahu orang itu akan menjatuhkan dirimu," nasehat Reno yang langsung di angguki Rara.


"Ini bukan jalan pulang kerumah ku lho," Rara baru sadar, "kita keliling kota dulu. Sambil menghabiskan waktu, mumpung malam Minggu," jawab Reno. Rara mengangguk menurut, hati Rara sedikit senang. Reno menepati janjinya tidak mengendarai motor itu dengan kecepatan tinggi.


Akan tetapi itu malah membuat punggungnya pegal, "m-mas bisa istirahat sebentar?" tanya Rara hati-hati. Reno mengangguk dan memilih tempat yang agak ramai.


Rara segera turun dari motor itu dan mengeliat, sedikit merenggangkan tubuhnya yang kaku. Reno mengurut pinggang Rara pelan, membuat Rara sedikit merasa nyaman.


"Jam berapa sekarang?" tanya Rara tanpa adanya kata Mas, merasa canggung bila menggunakan panggilan Mas, pada Reno.


"Nggak tahu," jawab Reno sambil mengedikkan bahu, kemudian melepas helmnya dan mengacak rambutnya membuat rambut yang semula rapi jadi sedikit berantakan, akan tetapi terlihat begitu tampan.


"Emm, memang kamu nggak bawa hp?" pandangan Rara tidak bisa lepas dari wajah tampan Reno, dan ingatannya seakan memaksa mengingat pernah bertemu dengan Reno. Lagi, pertanyaan kapan dan di mana kejadian itu berlangsung Rara tidak ingat.


"Aku tidak pernah membawa ponsel, selalu aku titipkan Seno. Kecuali jika sudah pulang ke apartemen, atau membalas chat darimu," jawab Reno seraya turun dari motor dan memasang standart motornya. Menggandeng tangan Rara dan berjalan menuju bangku dari kayu yang terletak tidak jauh dari mereka, tidak lupa Reno membantu Rara melepas helm yang wanita itu kenakan.


Sedang bersama Reno, mereka hanya berstatus pacar kontrak. Namun sikap dan perlakuan yang Reno berikan dan dia terima mirip dan memang seperti orang pacaran sungguhan.


"Mau seperti itu?" Rara mengikuti telunjuk Reno, refleks Rara memukul paha Reno dan membuat pria itu tertawa. Bagaimana Rara tidak kesal, yang di tunjuk Reno adalah adegan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta dan sedang bertukar saliva. Walau tempat ini ramai namun banyak pasangan tidak malu malu menunjukkan keromantisan mereka.


Reno menarik pinggang Rara agar mendekat, kemudian merebahkan tubuhnya di bangku yang tidak mencakup tubuhnya yang tinggi hingga membuat kakinya yang panjang menjuntai di tanah, sedang kepalanya berbantalkan paha Rara.


"Malam ini menginaplah di apartemen," kata Reno seraya meraih tangan Rara dan mengecup punggung tangan itu berulang kali.


"Tapi ayah...." ucapan Rara menggantung, kepalanya menunduk dan netranya bertemu dengan netra milik Reno.


"Ada Seno dan mbok Ijah, jadi kamu bisa tenang ninggalin ayah kamu. Sekali sekali berpikirlah tentang kebahagiaan dirimu, Ra," suara Reno terdengar mengiba.


"Tapi aku bahagia jika orang di sekitar ku juga bahagia," ungkap Rara seraya menyisir rambut Reno dengan jari jarinya.

__ADS_1


"Kau ingin orang di sekitarmu bahagiakan?" Rara mengangguk. "Bagaimana jika aku bahagia jika kau menginap di apartemen ku?" Reno menaik turunkan kedua alisnya menggoda Rara.


Rara mengatupkan kedua bibirnya, lalu tersentak dan memukul lengan Reno karena pria itu menggesek-gesekkan kepalanya di perut Rara.


"Kau tahu, banyak pasangan yang berpacaran dan belum menikah tinggal satu rumah atau satu atap. Dan aku hanya ingin setiap Sabtu malam kamu menghabiskan waktu untukku," terdengar pria dewasa itu merajuk, lucu memang tapi terdengar menggemaskan di telinga Rara.


"Mereka juga sering tidur bersama, tapi aku janji tidak akan melampaui batas," Reno mengulurkan jari kelingkingnya, "kenapa kau suka sekali memaksa," gerutu Rara karena Reno menarik jari kelingking nya dan menautkan pada jari kelingking Reno.


"Mirip anak kecil," ejek Rara lalu melenggos, "katakan sekali lagi," bisik Reno.


"Mi-mi-minggir," ucap Rara grogi, tangannya mendorong tubuh Reno agar menjauh, bukannya menjauh Reno semakin mendekat.


"Huufh," Reno meniup wajah Rara membuat Rara terkejut, "yuk," Reno mengulurkan tangan dan di sambut Rara.


"Mau kemana lagi?" Reno mulai menyalakan mesin motornya, "terserah," jawab Rara pasrah.


Motor melaju dengan kecepatan sedang, dan berhenti di sebuah minimarket.


"Beli cemilan dulu ya," Reno mengandeng Rara masuk kedalam minimarket itu. Mengambil beberapa sayuran mentah dan masih segar, juga bumbu bawang merah juga bawang putih, cabai dan garam. Kemudian menimbang telur dan beberapa buah, Rara hanya membantu dan menuruti perintah Reno.


"Ada yang kurang nggak ya?" terdengar Reno bergumam, "ini buat kapan?" Rara bertanya. Reno yang sedang melihat lihat menoleh, "buat nanti malam kalau aku atau kamu lapar, jadi bisa masak tanpa memesan makanan," tutur Reno, Rara hanya mengangguk paham.


"Selama ini sering pesen?" Reno mengangguk tanpa menoleh, netranya masih mencari apa saja yang kurang.


"Ck, apalagi yang kurang?" gerutu Reno pada dirinya sendiri. Rara menatap belanjaan itu, "sudah punya beras?" Reno menepuk keningnya lalu mencium pucuk kepala Rara.


"Istri pintar," celetuk Reno yang langsung melangkah meninggalkan Rara dan menuju di mana rak beras berada.


Reno menyerahkan kartu atm nya pada Rara, dan dia memilih menunggu di luar setelah membawa keranjang belanjaan mereka ke depan meja kasir. Tiba-tiba Rara rindu pekerjaannya, pekerjaan yang dia geluti hampir tiga tahun.


Reno segera masuk dan menenteng belanjaan yang telah di masukkan kedalam kantong plastik, "kamu bisa bawa ini?" Reno terlihat menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Harusnya tadi pakai mobil, kalau kaya gini kan nyusahin kamu." kesal Reno pada dirinya sendiri. Benar kata Reno, jika naik motor trail ini agak susah membawa barang belanjaan ini, jalan satu satunya ya di pangku.


__ADS_2