
"Makan yang banyak," Reno menambahkan beberapa sayur dan lauk ke piring Ara, perempuan itu melotot tidak percaya.
"Ini namanya bukan makan nasi pakai lauk, tapi makan lauk nasinya jadi lauk," ujar Ara begitu mulutnya yang tadi penuh kini kosong.
"Ssstttt, mulutnya saat ini di gunakan buat makan dulu, protesnya nanti saja," bulek menaruh telunjuknya di depan bibir dan menyuruh Ara diam dan tidak protes, Ara mencubit kesal karena bulek nya lebih memilih membela Reno. Pria itu tersenyum, membiarkan tubuhnya di cubit. Baginya itu adalah cubitan sayang.
Reno beranjak dari tempat duduknya dan Ara merasa bersalah, dia berpikir pria itu pasti marah dengan dirinya. Ara menyesal telah membuat Reno seperti itu, belum lima menit pria itu sudah kembali dan meletakkan vitamin Ara.
"Kalau sudah habis makan, ini di minum," Reno menyerahkan beberapa vitamin, tatapan protes kembali Ara layangkan pada pria itu.
"Mau sembuhkan?" tanyanya lembut, walau bibirnya mengerucut namun kepalanya mengangguk, "jadi..." Ara mendengus dan meraih vitamin yang Reno berikan.
"Om, kak Ara kok minum obat?" Kevin yang bertanya, Reno mendelik dan menatap kesal calon keponakan nya itu.
"Panggil dia kakak, Vin," tegur Kevan, sedang Kevin berpura pura tidak mendengar dan Reno tersenyum karena merasa dibela. Kevan berkata lagi, "walau kak Reno sudah tua, tapi nanti dia akan menikah dengan kak Ara, kakak kita. Bukan begitu, Yah?" Kevan menoleh kearah Om Indra yang tengah menahan tawa.
Semua orang tertawa mendengar ucapan yang barusan Kevan lontarkan, "ck, sudah makan saja." Reno berkata dengan sebal.
__ADS_1
'Ayah dan anak sama sama menyebalkan!' gumam Reno dalam hati. Kemudian menyuapkan kembali makanan yang tadi Ara masak, ya tadi Ara membantu neneknya memasak sarapan. Dan nenek begitu bahagia, ternyata cucunya ini begitu cekatan mirip dengan anaknya.
"Kalian mau pulang jam berapa?" nenek bertanya pada Reno dan Ara, saat ini mereka berkumpul di ruang tamu setelah selesai sarapan. Dan si kembar juga sudah berangkat sekolah, Om Indra pergi ke perusahaan nya.
"Agak siangan, Nek. Mau nunggu Om Indra bawa berkas," Reno menjawab, "berkas? Berkas apa?" Ara penasaran dan akhirnya bertanya.
"Pengalihan harta milik ayahmu menjadi atas namamu, Om Indra sudah menyisihkan bagian ayahmu yang harusnya menjadi bagianmu dan saudari mu. Karena dia tiada, semua hartanya di serahkan padamu," Reno menjelaskan, mulut Ara terbuka sangking terkejut.
"Jadi, sekarang aku kaya, Kak?" tanya Ara tidak percaya, "iya, Sayang," Reno, bulek dan nenek menjawab bersamaan.
"Tapi ingat!" Ara melebarkan netranya karena Reno menunjuk wajahnya, "ingat, jangan sampai ayah sambung kamu tahu. Bisa habis buat judi nanti," Ara tersenyum mendengar ucapan Reno yang terakhir.
"Boleh, kamu berikan semua juga boleh," Ara mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Reno, "ya tadi, asal nggak ketahuan ayahmu," sambung Reno.
"Iya, nanti aku mau kasih sedikit saja buat Ria. Biar dia juga merasakan punya banyak uang," ujarnya lirih, walau adiknya mata duitan tapi Ara begitu sayang padanya.
"Terserah kamu saja, asal kamu sisakan untuk dirimu. Ingat, itu milik ayah kandung mu," nenek yang duduknya di samping kiri Ara segera memeluk erat cucunya.
__ADS_1
"Nanti jika sudah di kota, sering sering hubungi nenek sama bulek ya, Ra," bulek maju dan meraih tangan keponakan nya tersayang dan mengecupinya.
"Iya, bulek. Insya Allah seminggu atau dua minggu sekali saya sama Ara berkunjung kesini," Reno yang menjawab, tidak tega melihat wanita yang dia cintai menunduk karena bersedih akan berpisah dengan keluarga dari bundanya.
"Janji lho," bulek menuding Reno, pria itu mengangkat tangannya keudara dan jari telunjuk serta jari tengah nya berdiri seraya berkata, "janji bulek," jawab Reno tegas.
Bulek dan nenek tersenyum bahagia, "rajin minum obat agar kankermu cepat sembuh," wajah Reno dan bulek seketika pucat pasi mendengar nenek keceplosan.
"Kanker?" Ara mengulang ucapan sang nenek, spontan sang nenek mengangguk.
"Iya, kata nak Eno kamu sakit kanker. Makanya kamu sering pusing 'kan, itu karena kamu kecelakaan waktu kecil dan terbentur aspal sangat keras," Reno dan bulek menunduk dan menahan nafas.
'Aku sakit kanker karena kecelakaan waktu kecil, dan orang yang katanya mencintai diriku menyembunyikan penyakit ku ini,' Ara menggeleng tidak percaya, tatapan nya beralih pada Reno.
"Kita pulang sekarang!" nada suara Ara terdengar dingin, wanita itu lalu beranjak dari tempatnya duduk dan melangkah ke kamar.
Reno memukul udara dan mendesah frustasi, padahal ini belum saatnya Ara tahu. Jika dia tahu pasti Ara berhenti minum vitamin itu. Nenek menunduk seakan menyadari kelalaiannya, "nak Eno, maaafin nenek yang keceplosan ya," Reno mengangguk, tidak tega jika marahi nenek dari wanita yang dia cintai.
__ADS_1
Reno beranjak dari duduknya dan menyusul Ara ke kamar, di lihatnya wanita itu tengah terisak dan mengusap airmata yang jatuh di pipi nya.
Halo halo semua, maaf beberapa hari ini saya jarang up di karenakan sedang mengikuti kontes di aplikasi web. novel. Kali aja ada yang punya aplikasinya dan dukung saya dengan judul "Pernikahan Kontrak (pesona mantan istri kontra