Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 8


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, Rea sudah mulai sekolah dua pekan ini dan sering pulang sore. Terkadang Reno yang menjemput terkadang Ria dan Anton yang menjemput, jika Rea pulang sekolah pasti banyak hal yang akan ia ceritakan.


"Bun," Rea yang tengah duduk di depan di pangkuan Ria memutar tubuh dan menghadap adik dari mamanya, hari ini yang menjemput Anton dan Ria, mereka sudah izin Reno untuk membawa Rea kerumah Nyonya Wijaya karena mertua Ria merindukan celotehan gadis kecil yang mulai aktif sekolah itu, sehingga membuat waktunya berkurang untuk bermain dan bertandang kerumah Oma Wijaya.


"Tadi ada anak kelas lain di buli, mereka mendorong anak lain lalu menyorakinya dan tiba tiba ada anak laki-laki yang datang dan marah marah pada mereka," Rea menjeda ceritanya lalu menarik nafas dan melanjutkan ceritanya tadi, "anak laki-laki itu bilang gini, jangan suka nyakiti orang lain kalau nggak mau di sakiti, trus itu anak laki-laki tadi membantu anak yang di dorong hingga jatuh tadi," Ria tersenyum mendengar cerita keponakan kesayangannya.


"Lalu, tuan putri ayah nggak bantuin gitu?" Anton penasaran, Anton juga yakin ada jiwa jahil, usil dan dendam yang Reno miliki menurun pada gadis kecil ini, Rea tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di dada Ria dan itu semakin menambah keyakinan jika gadis ini ikut membela anak itu diam diam.


"Diapain dia?" Anton berbisik dan mendekatkan wajahnya kepada wajah Rea yang bersembunyi, Rea mengangkat wajahnya lalu tersenyum dan menggeleng, Anton akhirnya hanya berdecak kesal.


***


"Omaaaaaa!!" Rea segera turun dan berlari masuk kedalam rumah megah milik Oma Wijaya, suaranya yang cempreng tapi membuat rindu mengalihkan Nyonya Wijaya yang sedang di dapur dan segera meletakkan semua yang ia pegang dan menyongsong gadis kecil kesayangannya, kemudian memeluk dan melabuhkan kecupan di wajah itu.


"Kata ayah, oma rindu Rea," ucap Rea tanpa merasa bersalah kemudian menoleh memandang wajah Anton yang masih kesal karena penasaran dengan apa yang Rea lakukan pada anak yang dia ceritakan tadi.


"Iya dong, rumah Oma sepi. Daffa sekolah dan jarang main kesini, kamu juga," Nyonya Wijaya mengadu dengan mimik muka lucu, Rea tertawa lalu memeluk wanita yang begitu menyayangi dirinya.


"Rea harus sekolah biar pintar, walau sudah pinter sih," ujarnya percaya diri, "iya, Oma percaya cucu kesayangannya Oma ini pinter, kaya papa dan mamanya," raut wajah Rea seketika berubah sendu, "seandainya mama masih ada, pasti mama yang nganter jemput Rea, pasti mama yang ngajarin Rea belajar. Iyakan Oma?" Nyonya Wijaya langsung mengangguk dan memeluk tubuh Rea yang kecil itu.

__ADS_1


Ria dan Anton saling menyikut, merasa kasihan melihat keponakan nya itu menganggap dirinya anak tunggal.


"Oya kakek Andri sudah pulang dari luar kota ya?" Nyonya Wijaya mengalihkan pembicaraan, Rea mengangguk lalu tersenyum.


"Di kasih oleh-oleh apa sama kakek?" pancing Nyonya Wijaya yang kemudian mengajak Rea duduk di sofa ruang tamu, dan mengalirlah cerita dari mulut kecil itu. Ketiga orang dewasa itu lega karena gadis kecil ini sudah melupakan sedikit kesedihannya.


***


Di tempat lain, Diva menangis karena Sera mengamuk lagi, "Sera, apa kamu tidak kasihan melihat adikmu itu? Kenapa dia selalu kau marahi dan kau pukul, hah?" Nadin, ibu dari Sera dan Diva berteriak kesal, selalu saja anak sulungnya itu membuat adiknya bersedih dan menangis.


"Dia selalu mengambil dan merebut apa yang aku punya, Ma!" Sera balas berteriak karena kesal, kesal dan geram karena mamanya lebih berpihak pada adiknya yang telah merebut perhatian mama, papa terutama perhatian Rendra yang dulu selalu tertuju padanya dan kini harus terbagi dengan gadis kecil yang bergelar adik baginya.


"Masih tidak mau mengaku??!!" Sera berteriak sambil menunjuk kesal wajah adiknya yang tidak merasa bersalah tersebut, Nadin menarik nafas lelah.


"Rendraaaa!" Nadin berteriak memanggil anak lelaki yang sudah dia anggap putranya, "ya, Ma," Rendra muncul dengan tergopoh-gopoh dan di tangan kirinya membawa pensil serta buku, Nadin menoleh lalu tersenyum.


"Kamu lagi belajar?" tanyanya yang langsung di angguki anak lelaki itu, "tugas rumahnya banyak, Ma. Jadi harus segera di kerjakan," katanya yang membuat Nadin mengangguk dan tersenyum.


"Ajak adikmu belajar, biar kakakmu tidak mengganggu Diva terus," titah Nadin yang semakin membuat Sera membenci Diva karena berdekatan dengan Rendra, "yuk," Rendra mengulurkan tangannya hendak mengajak Diva masuk ke kamarnya dan belajar.

__ADS_1


"Nggak usah, kamu belajar sama kakak saja!" ketus Sera yang lalu menarik tangan Rendra ke kamarnya, lagi Nadin menarik nafas panjang.


"Diva sama mama saja ya, nanti kalau ikut kak Sera pasti di marahi lagi," Nadin membujuk putri bungsunya, kini ia mulai paham, hanya Rendra yang mampu meredam emosi putri sulungnya. Dan Nadin berharap mereka hanya memiliki perasaan sebatas kakak dan adik, mengingat mereka bukan sedarah.


"Diva mau sama bang Rendra, Ma," Diva bersikukuh ingin bersama kakak lelaki nya, dia merasa aman jika bersama Kakak lelaki nya tersebut, "nanti saja ya, kalau bang Rendra sudah selesai belajarnya," akhirnya Diva mengangguk.


***


"Kamu kenapa?" Pak Gito menatap aneh adiknya, Dita melenggos kesal.


"Minta uangnya," karena tidak ada jawaban akhirnya Pak Gito to the point, Dita melirik kesal pada kakaknya itu.


"Aku nggak ada uang, kamu tahu, orang terakhir yang memakai aku itu ternyata licik. Dia merekam aktifitas kami dan mengancam akan menyebarkan rekaman video itu jika aku tidak menuruti keinginan nya, " gerutu Dita kesal.


Kemarin saat ia di boking lelaki berperut buncit itu ternyata dia harus melayani 3 orang bergantian, dan memberi uang banyak padanya setelah kegiatan itu. Tapi setelah beberapa hari setelah kejadian itu, Dita kembali di telepon lelaki berperut buncit itu dan menyuruhnya melayaninya.


Dita mengira ia akan di bayar seperti kemarin, akan tetapi ternyata dia hanya di manfaatkan.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya aku minta uang sekarang!!" Pak Gito berteriak marah, tiba-tiba Dita punya ide.

__ADS_1


"Nanti kalau mau, kalau sekarang aku belum ada," katanya dengan di sertai seringaian yang tak Pak Gito lihat. Pak Gito hanya berdehem lalu melangkah meninggalkan Dita yang sedang membuat rencana.


__ADS_2