
"Ini yang masak kamu, Re?" Rangga yang kini tengah menyantap makan siang di rumah Ria bertanya.
Rea mengangguk.
"Dia itu kelihatannya aja galak, tapi dia pinter dalam segala hal," Rea menoleh kala mendapati sosok lelaki yang ia panggil ayah.
"Papa kamu di luar," Rea segera mengunyah dengan cepat, "pelan-pelan, Re," tegur Rendra dan Raditya bersamaan.
Rea hanya mengangguk kemudian menandaskan air putih di hadapannya dan segera berdiri mendorong kursi yang ia duduki kebelakang dan berlari menuju ruang tamu.
"Papa!!" Rea berteriak memanggil Reno yang baru saja duduk dan bersantai, sedang Ria dan Raditya yang begitu mengenal Rea hanya menepuk kening.
"Sudah sebesar itu, jika ketemu papanya jadi seperti anak kecil," gerutu Raditya yang membuat Anton dan Ria yang mendengar tertawa.
"Ya sudah, kalian lanjut makan saja," titah Ria yang langsung di angguki ketiga lelaki yang tadi datang bersama Rea.
Mata Anton beredar, pandangannya jatuh pada sosok Rendra yang sibuk menikmati makan siang itu. Entah kenapa ada perasaan sayang yang tiba-tiba muncul, sama seperti rasa sayang untuk Rea.
"Namamu siapa?" pertanyaan yang tertuju untuk Rendra, Rangga yang melihat Anton seperti tengah memandang dirinya segera tersenyum.
__ADS_1
"Rangga, Om," jawabnya sembari tersenyum, semua orang yang tadinya menunduk dan sibuk makan jadi mendongak menatap kearah Rangga.
"Maksud om, itu sebelah kamu," Anton kemudian mendengus kesal, Raditya yang sangat mengenal Anton tertawa, "ngga usah tertawa kamu!" ketus Anton sembari menunjuk Raditya.
"Maaf, Yah. Habis ayah lucu," balas Raditya yang seakan tidak mengenal takut pada Anton, Ria menggeleng heran.
Suaminya ini selalu ketus pada semua lelaki yang mendekati keponakan nya, walau Reno sudah menyetujui dan meridhoi hubungan Rea dan Raditya, tapi suaminya itu tetap tak terima jika Rea lebih banyak menghabiskan waktu dengan Raditya.
Padahal jika Rea datang kerumah ini, ada saja yang mereka debatkan. Ria seketika ingat, dulu kakaknya juga sering berdebat dengan suaminya. Namun, jika ada yang mengatakan hal buruk pada salah satu dari mereka di belakang mereka, baik Anton atau Ara, kakaknya akan marah dan membela.
"Namanya Rendra, Yah," Rea yang baru muncul dan menggandeng Reno menjawab pertanyaan yang belum terjawab.
"Rendra?" Reno yang tadi belum melihat kehadiran para lelaki yang menyukai anak gadisnya segera mengedarkan pandangan.
"Namanya kaya nama-" Anton segera menggigit lidahnya begitu mendapat tatapan tajam dari istrinya, menggaruk tengkuknya dan memberi kecupan pada kening Ria dan segera berlalu dari sana sebelum mulut lemesnya keceplosan.
"Ayah kenapa, Bun?" Rea bingung dengan tingkah Anton, "kayaknya tadi ayah mau ngomong sesuatu deh," Rea memiringkan kepalanya menatap penuh tanya pada Reno.
"Kamu hari ini masak apa, oya keadaan lengan tuan putri papa gimana?" Reno menangkup kedua pipi putrinya dan mengalihkan pembicaraan, ingin sekali Reno memukul mulut ember sahabatnya itu.
__ADS_1
Dalam diam, Raditya juga memperhatikan apa yang Anton, Reno dan Ria coba sembunyikan. Biarlah, nanti ia akan meminta salah satu mata-matanya mencari apa yang calon mertuanya sembunyikan.
"Ah, Rea sampai lupa. Yuk duduk, Rea ambilin," Rea menarik lengan Reno dan menarik kursi di dekat Rendra, membalikkan piring yang semula tengkurap dan mengisi dengan nasi serta sayur dan lauk yang tadi sudah ia olah.
Reno pun mulai menyuapkan sendok berisi nasi dan sayur yang telah di ambilkan putrinya, mengunyah dan melanjutkan menyuapkan makanan itu hingga hampir tandas. Tak di ragukan lagi, ketrampilan memasak putrinya menurun dari istrinya, oleh karena itu rasanya hampir saja sama. Rea pun sering terjun ke resto milik peninggalan Ara yang masih jalan dan semakin berkembang.
Tanpa ada yang melihat, Ria diam-diam memperhatikan cara makan Reno dan Rendra, keduanya memiliki kebiasaan yang sama. Saat Rendra menatap wajah Rea, Ria sempat melihat manik mata yang mirip dengan seseorang yang ia pernah lihat, tapi siapa dan di mana.
"Bunda kenapa dari tadi ngelihatin Rendra terus, tar Rea aduin ke ayah lho," goda Rea yang langsung mendapat delikan tajam dari Ria.
Rea pun tertawa.
Rangga semakin menyukai Rea yang sangat hangat dan perhatian pada sekitarnya, ini yang ia harapkan memiliki pasangan yang bisa menghidupkan suasana.
ini Visualnya Rea ya man-teman
Author : Rea, bisa munduran dikit ngga
__ADS_1
Rea : emang kenapa, Thor? (kemudian munduran dikit)
Author : Cantik dan manismu kelewatan, eaaa