
"Bang," Rendra yang sedang duduk bersandar di atas ranjang empuk miliknya dan sedang memangku laptop mendongak begitu mendekati namanya di panggil.
"Abang beneran mau ke Indonesia?" Diva bertanya, Rendra segera menutup laptop yang ia pangku saat adiknya berjalan mendekat.
"Kenapa?" tanya Rendra lembut kepala tangan kanannya mengusap kepala adiknya. Diva yang kini sudah duduk di samping Rendra, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh milik kakak lelakinya, akan tetapi sebelum itu, ia sudah melingkarkan tangannya di lengan Rendra.
"Tar, Diva kesepian dong," rengeknya manja, Rendra tertawa kecil.
"Kan bisa minta papa sama mama pulang ke sana," sahut Rendra menghibur, ya, Rendra berusaha keras di sini agar bisa mendapatkan kampus terbaik, namun, Rendra menolak jika harus melanjutkan di luar negeri.
"Rendra sudah memasukkan berkas berkas syarat masuk universitas itu, Ma," kata Rendra waktu itu yang sengaja memasukkan berkas untuk kuliah di kampus yang sama dengan seorang gadis yang selalu ia stalking akun FB dan IG nya, semua akun gadis itu Rendra ikuti agar bisa tahu perkembangan gadis yang mengisi hatinya, Rea.
__ADS_1
"Kenapa ngga rundingan dulu, Ren. Tapi sebenarnya papa lebih suka kamu kuliah di sini, kamu juga bisa membantu kerjaan papa," sahut suami Nadin, memang semenjak SMA, Rendra sudah belajar bisnis diam diam dan akhirnya ketahuan oleh papanya, dan dengan senang hati suami Nadin mengajari ilmu berbisnis itu.
Pada dasarnya, Rendra berasal dari darah pembisnis maka tak heran lelaki yang hampir berusia 19 tahun itu cepat menyerap ilmu yang diberikan.
"Kalau abang di Indonesia, nanti sama kak Sera dong, trus kita jarang ngobrol ngobrol karena kak Sera pasti tak suka kalau kita deket," Diva mendongak dan menatap wajah kakak lelakinya yang terlihat tampan, Diva merasa dan sempat berpikir, kakak lelakinya ini tidak memiliki wajah garis keturunan dari mama atau papanya.
Rendra tidak menanggapi rengekan adiknya, sebenarnya jauh jauh hari, Rendra sudah menyiapkan semua. Uang dari bermain saham yang ia lakukan diam diam tanpa memberi tahu keluarga nya telah menghasilkan seunit apartemen, Rendra tidak mau kakak perempuannya tahu dan melarang dirinya dekat dengan Rea.
Mengingat nama Rea, bibir Rendra tertarik membentuk senyuman. Diva yang melihat Kakak lelakinya yang jarang tersenyum lebar jadi heran, "abang bayangin apa, kok senyum-senyum ngga jelas gitu?" jemari lentik Diva menarik kepala belakang Rendra agar menunduk.
Rendra langsung menarik kepalanya saat jempol Diva mengusap bibirnya, "Diva, kamu apa-apaan sih?" Rendra mendorong kepala Diva agar menjauh dari tubuhnya, gadis itu cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu masuk kamar lalu tidur," kata Rendra yang terdengar mengusir. Diva mendengus sebal lalu berjalan keluar dengan menghentakkan hentakkan kaki.
"Kita ini kakak adik, ngga sepantesnya kamu mikir kaya gitu," tegur Rendra yang semakin membuat Diva kesal dan marah, Diva tahu kakak lelakinya ini sudah tak sepolos saat datang ke sini, apalagi sering melihat adegan ciuman dan pelukan yang tak lazim di Indonesia, akan tetapi seperti biasa di negeri ini.
"Aku hanya mau menyerahkan yang pertama untuk dia," gumam Rendra yang sudah membuka kembali laptop yang tadi ia geser ke sampingnya dan kini sudah ia pangku kembali.
Matanya menatap lekat pada gambar di mana Rea yang kini tumbuh semakin cantik dan berisi, memiliki rambut panjang yang di cat berwarna cokelat di ujungnya. Pipinya yang semakin bertambah bulat membuat Rendra dan siapa saja pasti gemas dan ingin mengigitnya.
Rendra segera menutup laptop itu tapi sebelumnya sudah ia keluarkan, menarik selimut sebatas pinggang dan kemudian menatap langit-langit kamarnya untuk yang terakhir kali, karena besok dia akan kembali ke Indonesia untuk bertemu dengan gadis yang selalu datang ke mimpinya.
"Kalian akan bersama, tapi tidak bisa menikah. Kamu hanya boleh mencintai dia, tapi kamu tidak bisa memiliki dia," Rendra langsung membuka mata, nafasnya tersengal-sengal, dadanya terasa sakit.
__ADS_1
"Mimpi apa ini?" gumam Rendra sembari mengusap wajah nya, sempat tertidur dan bermimpi bertemu dengan Rea, menghujani gadis itu dengan kecupan karena rindu dan anehnya gadis itu tidak menolak, akan tetapi seakan menikmati.
Tiba-tiba datang seorang wanita seumuran dengan mamanya dan mengatakan itu semua, "ck, mimpi apa sih, bikin mood anjlok aja," gerutu Rendra kesal yang kemudian berusaha menyingkirkan mimpi aneh itu dan berusaha tidur kembali.