
"Ayah kamu mana?" Om Yudha, ayah Reno bertanya karena tidak mendapati Pak Gito di kamar ini, "ayah baru saja keluar," jawab Ara sambil tersenyum ramah.
"Sama nenek dan tantenya saja, Pah," ucap Reno pada papanya, mama Reno mendelik kesal. Kenapa putranya bisa tergila gila pada gadis biasa seperti ini, bukankah banyak wanita yang mengejarnya. Apalagi status, bebet, bibit dan bobotnya, gumam mama Reno dalam hati.
"Ngapain kok sama nenek juga tante, ada apa sih, Kak?" Ara menatap dan terlihat cemas pada mimik wajahnya, Reno memeluk dan mengusap lembut punggung Ara.
"Ini urusan orang tua," bisiknya setelah mengecup kepala Ara, Ara sedikit malu saat Reno menunjukkan rasa cintanya di hadapan banyak orang. Biasanya kekasihnya itu hanya akan bersikap dingin dan cuek pada semua orang.
"Sebentar saya panggilkan," Anton menyela dan segera keluar, sedang Ria beringsut mendekati Reno dan kakaknya. Ria merasa aneh dengan tatapan dari mama Reno tersebut, seakan akan ingin menelan hidup hidup orang di depannya.
"Dia adiknya Ara," Reno mengenalkan gadis yang berdiri di sampingnya dan memegang pundak Ara, "oh," hanya satu kata itu yang keluar dari bibir mama Reno.
__ADS_1
"Ma," tegur Om Yudha, suaminya. Namun mama Reno terlihat cuek dan tidak perduli, "duduk dulu om, tante," kata Ara mempersilahkan orang tua dari Reno untuk duduk, mungkin dengan duduk rasa kesal di hati mamanya Reno akan hilang.
Om Yudha menuntun istrinya menuju sofa di ruangan tersebut, dengan sedikit memaksa Om Yudha mendudukkan tubuh istrinya di sofa berwarna cokelat tersebut, walau sebenarnya mau dan di penuhi gengsi dengan gaya angkuh akhirnya menghenyakkan bobotnya.
Semua menoleh kearah pintu yang terbuka, senyum tercipta dari bibir Ara saat melihat kedua wanita kesayangannya muncul di sana, dan di belakangnya menyusul sosok pria yang dia tahu adalah om nya.
Dahi Om Yudha mengernyit kala netranya bersibobrok dengan wanita yang umurnya tidak jauh darinya, "Rani," gumamnya lirih, walau pelan namun istrinya bisa mendengar.
"Nek, dia papa dan mama saya," Reno yang sudah berdiri di samping nenek Ara memperkenalkan kedua orang tuanya, nenek Ara mengangguk sambil melempar senyum, pun tante Ara, wanita itu juga melempar senyum ramah yang juga di balas anggukan oleh Om Yudha.
Om Yudha berdiri menghampiri nenek Ara, namun netranya sesekali menatap wajah wanita di sebelah wanita paruh baya tersebut. Om Yudha menuntun nenek Ara agar duduk di samping istrinya, tante Ara hanya mengekor dan mendampingi sang ibu. Kemudian Om Yudha menarik kursi dan duduk di depan nenek Ara, menarik nafas sejenak dan mengatur sesuatu yang entah kenapa tiba tiba datang kala menatap wajah wanita di samping Nenek Ara tersebut.
__ADS_1
"Begini ibu, saya sebagai papa dari Reno ingin melamar Ara untuk anak saya, apakah lamaran ini ibu terima. Begitu besar harapan saya agar lamaran ini ibu terima, mengingat mereka telah-" Om Yudha mengatupkan kedua bibirnya, tidak enak membicarakan sesuatu yang tidak pada tempatnya.
"Kalau itu saya serahkan pada cucu saya, mengingat semua yang menjalankan mereka berdua," jawab nenek Ara yang seakan mengerti arah pembicaraan mereka, semua mata menatap kearah wanita yang tengah duduk bersandar di ranjang pesakitan.
"Bagaimana, Sayang? Apa kau menerima lamaran kami?" Om Yudha memutar tubuh dan menghadap kearah calon menantunya, Ara menggenggam jemari Ria. Rasa bahagia dalam hati kala melihat akhirnya sang kakak di pinang dan akan bersanding dengan orang yang dia cintai.
"Iya, saya menerima lamaran ini," jawab Ara malu malu, "yes!!!" Reno bersorak kegirangan, pria itu melompat lompat seperti anak kecil yang mendapatkan apa yang dia mau. Walau sebenarnya Reno tahu jika Ara akan menerima lamaran darinya, namun rasanya sungguh berbeda kala mendengar langsung dari bibir wanitanya.
"Terima kasih, Sayang," Reno segera menghamburdan memeluk erat tubuh Ara, refleks perempuan itu memukul pundaknya.
"Kak, sesak, lepas," ucap Ara tersendat sendat, Reno segera melepas pelukan itu dan menangkup wajah calon istrinya, "maaf, maaf, maaf, aku terlalu bahagia," katanya sembari mengecup kedua pipi Ara dan dahinya tanpa rasa malu.
__ADS_1