
"Hah hoh hah hoh!" ketus Rania, "itu ada orang mau bayar, ngelamun mulu," Rara berkedip beberapa kali lalu memandang depan, benar saja, ada kurang lebih 5 orang mengantri di depan meja kasir. Selama itukah dia berpikir?
Rara tersenyum pada custemer pertama, mengscan harga dan menyerahkan barang-barang yang telah di scan pada Rania yang kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik, selesai mengscan Rara menyebutkan harga yang pembeli pertama beli, begitu selanjutnya sampai pembeli terakhir.
"Mbak ngelamunin apa sih? Udah lama lho saya antri," protes pembeli terakhir, Rara hanya melempar senyum ramah tangannya sibuk mengscan barang-barang tersebut.
"Maaf atas ketidak nyamanannya," ucap Rara sopan, "mbak lagi mikirin pacarnya, ya?" pembeli yang ternyata wanita bertanya.
"Dia belum punya pacar, Mbak," bukan Rara yang menjawab, akan tetapi Rania.
"Beneran, mbaknya cantik gini masa ngga punya pacar?" Rara kesal bukan main akan jawaban Rania, bukannya dia tidak punya tapi belum mau. Masih ada tanggung jawab berat yang dia topang.
"Saya punya saudara cowok, ganteng lagi. Dia juga jomblo lho, Mbak," si mbak itu menaik turunkan kedua alisnya, Rara melirik malas sahabatnya. Enak saja mau main jodoh menjodohkan, pekik Rara dalam hati.
__ADS_1
"Teman saya ini juga belum punya pacar lho, Mbak," Rara malah menawarkan Rania, syukurin emang enak ditawar-tawarin, batin Rara mengerutu.
"Ngga ah mbak, saya sukanya mbak," tolak si embak itu, "mbaknya lebih cantik dan kayaknya sabar," sahut si mbak yang refleks membuat Rania mendelik tidak terima.
"Dia baik kok mbak, ya cuma makannya saja yang banyak," si mbak-mbak langsung tertawa mendengar perkataan Rara yang terakhir.
"Ya sudah mbak, berapa?" Rara menyebutkan harga yang harus dibayar, dan si mbak itu menyerahkan dua lembar kertas berwarna merah. Rara dan Rania mengucapkan terima kasih saat si mbak pamit.
Waktu cepat sekali berlalu, hari ini minimarket lumayan ramai. Rara menghitung uang pendapatan setelah Fajar memasang plangkat Close. Fajar di bantu Rania menyetok sisa barang-barang yang harus di tata dan di order, karena kebanyakan barang-barang laku dan cepat ludes.
"Pulangnya aku anter ya, Ra?" tawar Fajar, Rara hanya diam tidak menyahut.
"Tapi nanti aku ke rumah sakit langsung," jawab Rara yang membuat Fajar tersenyum, "nggak apa, pokoknya tar aku anter. Kemana pun tuan putri mau pergi, asisten mu ini siap mengantar," Fajar berdiri dan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Rara harus gimana, Bun? Rara hanya ingin fokus membuat ayah dan Ria bahagia, tanpa menyakiti orang lain," keluhnya pada sang bunda yang sudah ads di surga, netranya menerawang keluar, menatap langit yang sudah berubah menjadi hitam.
"Ra, loe pulang bareng gue 'kan" tanya Rania, saat ini mereka sudah di luar parkir minimarket dan sudah mengunci pintunya.
"Dia bareng gue," Fajar menyela, Rania menyipit kedua matanya menatap heran pada kedua makhluk di depannya.
"Ngga usah suuzon, gue mau mampir kerumah bunda gue. Kebetulan rumahnya deket Rara, masih inget 'kan?" dalih Fajar, Rania nampak berpikir, Rara mengatupkan kedua bibirnya, berharap alasan Fajar masuk akal dan Rania menerima.
"Sama gue aja yuk, Ra. Biasanya juga bareng loe kalo malem," Rara tahu Rania takut pulang malam sendirian, Rara pernah dengar Rania sempat di cegat pemabuk, dan kebetulan keadaan sepi, mau berteriak pun Rania takut.
Pernah juga Rara dan Rania pulang bersama, para pemabuk itu menyegat mereka. Akan tetapi dengan berani Rara mengancam akan berteriak dan menelpon polisi, mereka pun takut dan semenjak saat itu Rara tidak pernah melihat mereka lagi.
Hai kawan gimana kabarnya? Sehat selalu ya.
__ADS_1
Tidak henti-hentinya othor ini mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena masih membaca karya recehku ini. Sayang kalian