Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 119


__ADS_3

Sementara itu, Anton yang sedang mengendarai kendaraan roda empatnya bersama Ria yang kini dalam perjalanan pulang mengantar pujaan hati Anton. Lelaki itu menyalakan musik yang menggambarkan hatinya, tanpa sadar bibirnya ikut bersenandung dan sesekali melirik gadis yang terlihat cuek, namun terlihat menggemaskan bagi Anton.



Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir.


Rasa hati ini inginkan dirimu.


Hati tenang mendengar suara indah menyapa.


Geloranya hati ini tak ku sangka.



Rasa ini tak tertahan.


Hati ini slalu untukmu.



Terima lah lagu ini dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu

__ADS_1


Hari hari bergantu kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmy bagaikan bidadari


Lentik indah matamu manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat



Rasa ini tak tertahan


Hati ini slalu untukmu


Terimalah lagu ini dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu 2×


(Lagu Cinta Luar Biasa by Andmesh Kamaleng)


Ria mencebik mendengar lelaki itu bernyanyi dan terdengar dari lubuk hati paling dalam, "lagi jatuh cinta, Kak?" entah itu pertanyaan atau sindiran dari Ria untuk Anton.


Lelaki itu menoleh lalu mengangguk dan kembali bernyanyi dengan di iringi siulan sebagai pengiring musik yang sedang terlantun.

__ADS_1


"Ri," Anton memanggil gadis yang duduk di sampingnya, karena tak merasa di panggil bukan namanya, Ria tidak menoleh.


"Riana," Anton memanggil gadis itu dengan nada gemas, 'apa Reno juga seperti ini saat berhadapan dengan si kecil?' Anton bergumam dalam hati.


"Apa sih, Kak, panggil panggil!" ketus Ria, gleekk, Anton menelan ludah perlahan. Ternyata gadis ini lebih sulit dia dekati daripada perempuan perempuan lain, kini ia akan bertekat untuk mendapatkan cinta gadis ini.


"Nggak papa, cuma ngetes aja," seloroh Anton yang membuat Ria memutar bola malas.


Keduanya lalu terdiam hingga mobil itu sampai di rumah minimalis, terlihat sederhana namun juga asri. Ada dua mobil yang Anton kenal sedang terparkir di halaman rumah itu, "kayaknya kakak kamu udah pulang dan udah sampai," Anton berujar sembari membukakan pintar untuk Ria, sebenarnya Ria cukup tersentuh dengan kelakuan lelaki yang terkenal buaya darat dan suka bergonta ganti wanita itu. Amat sangat manis dan baik padanya, akan tetapi Ria bukan Ara yang mudah di tipu karena kakaknya yang polos dan lugu itu.


"Tadi kakak udah ngasih tahu sih, akunya yang lupa," kata Ria sembari menggaruk keningnya yang tiba tiba gatal sambil meringis, Anton tersenyum melihat ekpresi menggemaskan gadis itu.


"Nggak papa, yang penting kakakmu sudah baikan dan pulang dengan selamat," ujar Anton yang diangguki oleh Ria. Lalu keduanya berjalan bersisihan menuju pintu, dan mereka segera mengetuk pintu saat melihat semua anggota keluarga Ara berada di sana.


"Masuk, masuk," titah sang nenek pada Ria dan Anton, mereka mengangguk bersamaan dan melangkah masuk. Anton duduk di samping Om Yudha karena hanya lelaki itu yang bisa ia jangkau saat duduk. Sedang Ria memilih masuk kamar dan membersihkan diri lalu berganti pakaian rumahan kemudian keluar dan mencari kakaknya.


Dering ponsel Ara membuat semua menoleh pada perempuan itu, kening Ara mengkerut kala mendapati nomer baru dan asing yang kini menghubungi dirinya.


"Angkat saja, nduk," titah sang nenek yang mendengar dering itu dan Ara terlihat tak juga kunjung menjawab, Ara melirik Reno yang juga tengah menatap dirinya.


"Assalamu'alaikum," suara salam dari seberang membuat Ara tahu siapa yang tengah menghubungi dirinya, "wa'alaikum salam, Kak," balas Ara yang membuat lelaki di sana tersenyum bahagia sedang Reno memasang wajah cemburu karena ia tahu pada panggilan siapa itu Ara tujukan selain dirinya.


"Kenapa nggak nungguin kakak dulu, kan tadi udah di peringatkan," terdengar nada kesal dari seberang, Ara bingung menjawab. Dengan segera Reno mengajak Ara masuk ke kamar perempuan itu setelah memohon izin, dan nenek mengizinkan, Reno mengajak Ara ke kamar agar dia bisa mendengar apa yang tengah lelaki itu bicarakan.


"Ra, kok diem aja? Kenapa nggak nungguin kak Fandi dulu, apa om om itu ngelarang kamu?" suara kak Fandi berubah menjadi lembut, mendengar kata om om, Ara ingin tertawa, sedang Reno menahan kesal setengah mati.


"Enggak kok, Kak," jawab Ara, Reno hanya mendengarkan sambil merebahkan tubuhnya di samping Ara, tubuhnya miring menghadap perempuan itu dan tangannya yang kekar melingkar di perut Ara.

__ADS_1


"Lalu kenapa nggak mau nungguin?" tanya kak Fandi terdengar kesal karena Ara tak juga menjawab pertanyaan yang dari tadi ia tanyakan.


"Karena...."


__ADS_2