
Kaki Rara yang berbalut celana kain berwarna hitam, dan tubuhnya yang dia sengaja pakaikan jaket melangkah menuju ruang rawat sang ayah, semoga sang ayah tidur jadi nanti tidak perlu bertanya macam-macam.
Rara bisa berbohong pada Ria, tetapi jika harus berbohong pada ayahnya dia tidak bisa. Ayahnya seakan memiliki kemampuan untuk membaca pikirkan Rara kala dia berkata jujur atau bohong.
Rara memegang handel pintu dan menarik nafas lalu menghembuskan nafas pelan, begitu dia ulangi terus sampai merasa baikan. Inilah masalah Rara, akan mudah gugup jika berbohong.
Rara mengintip sang ayah melalui kaca di pintu, senyumnya merekah kala matanya mendapati sang ayah sedang tertidur, jadi malam ini dia bebas dari pertanyaan sang ayah, entah besok.
"Ayah maaf Rara sedikit berbohong nanti," cicitnya pelan, pintu terbuka, sengaja dia buka perlahan agar tidak menganggu wanita yang menggantikan dirinya menjaga sang ayah.
"Non," Rara terkejut, 'padahal tadi udah pelan-pelan buka sama tutup pintunya, tapi kenapa si embak ini bisa bangun?' monolog batin Rara.
Rara tersenyum dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya, si embak mengangguk paham. Rara mengangkat kursi pelan dan meletakkan di samping brangkar sang ayah, tepukan dipundaknya membuat Rara terlonjak.
__ADS_1
Rara hanya bisa mengusap dada sambil berucap sabar di dalam hati saja, sedang si embak malah nyengir.
"Non tidur di sofa saja, saya izin pulang boleh?" si embak berbisik di telinga Rara, Rara pun mengangguk cepat.
"Ya sudah, Non, saya pulang dulu," pamit si embak tersebut, Rara mengangguk dan berkata hati-hati tapi melalui gerakan bibir. Sedang si embak mengacungkan jempol tanda 'oke.
Ting, ponsel Rara berbunyi, segera dia melihat siapa yang mengiriminya pesan. Rara berdecak kesal saat mendapati nama "MAS RENO GANTENG" ternyata yang mengirimi dia pesan.
(Seragam kamu sudah saya kirim ke rumah, tadi anak buah saya menyerahkan kepada adik kamu) kedua bola mata Rara membulat, dia lupa seragam kerjanya di apartemen om Reno.
Rara hanya berfikir apa yang anak buah om Reno itu katakan saat mereka menyerahkan seragam itu, Ting. Ponsel Rara berbunyi lagi.
(Tidak usah takut, anak buah saya hanya bilang baju seragam kamu ketinggalan di rumah mereka) Rara tersenyum lega akan lanjutan pesan yang Reno kirim, setidaknya adiknya tidak tahu jika tadi dia sedikit berbohong.
__ADS_1
(Terima kasih, Om) pesan dari Rara terkirim pada Reno, matanya membulat sempurna kala centang abu menjadi biru seketika. Ting.
(Sudah berapa kali saya bilang!!!! Coba panggil saya dengan mas) balasan dari Reno, namun Rara terkikik saat membayangkan pria itu mengetik dengan emosi.
"Kan dia emang sepantaran sama om Dika, om nya Rania," Rara terkekeh kembali dan menutup mulut begitu sadar ayahnya sedang menatapnya.
"A-ayah," Rara maju menghampiri sang ayah yang terbangun karena mendengar suara kekehannya.
"Kamu baru datang?" Rara mengangguk lalu meraih gelas dan mengisinya dengan air putih, "ayah mau minum?" sang ayah menggeleng pelan.
"Ayah mau pulang, Ra," jawab sang ayah dengan nada sendu, Rara meletakkan kembali gelas itu dan meraih tangan keriput tapi masih terlihat kekar tersebut.
"Tunggu beberapa hari lagi ya, Yah," Rara berusah membujuk. Lagipula dokter sudah menjadwalkan akan mengoperasi sang ayah.
__ADS_1
"Ayah sudah bosan di sini, Ra," rengek sang ayah seperti anak kecil meminta permen.
"Ayah ga sedih kalau ayah ngajak Rara pulang nanti di rumah ayah jatuh lagi, dan Rara nangis lagi," memasang wajah memelas supaya berhasil membujuk sang ayah yang kekeh mau pulang.