
"Jadwal setelah pulang dari kantor apa, Cantik?" Anton yang sudah keluar ruangan Reno kini menemui Ria, mencoba pendekatan pada gadis kecil yang telah mencuri sedikit hatinya.
Ria hanya menghela nafas pelan, kemarin Mas Seno sudah mewanti wanti agar dia harus hati hati dengan pria di luaran sana, dan ini mungkin maksud Mas Seno kemarin.
"Saya mau langsung pulang," jawab Ria ramah, karena mengingat Anton ini adalah sahabat calon kakak iparnya.
"Bagaimana kalau kamu saya antar ke tempat 'Si Kecil'?" tawar Anton pada Ria yang seakan punya ide agar bisa berdekatan dengan gadis ini.
Kening Ria bertaut heran, "Si Kecil?" ulang Ria yang mengira salah mendengar, sejenak Anton mengangguk mantap lalu mendadak membeliak karena sadar.
"Maksud kakak, Rara, ya Rara kakak kamu 'kan?" Anton bertanya sekaligus meralat ucapannya.
Ria mencebik kesal, kesal karena kakaknya di panggil orang dengan nama sembarangan.
"Hish, gitu aja marah. Maaf," Anton menelengkupkan tangan kanannya di dada dan tangan kirinya menjewer sebelah telinganya, Ria hanya membuang nafas kasar lalu mengangguk dan melanjutkan kegiatan mengetik pada komputer di depannya.
Anton menggaruk kepalanya yang tak gatal, gadis ini lebih pendiam dari pacar Reno. Walau 'Si Kecil' pendiam, tapi keadaan selalu terdengar ramai karena Reno yang usil dan gadis itu selalu mengomel.
Apa harus usil dan membuat adik pacar Reno marah dulu agar bisa mendengar gadis itu bersuara, begitu yang Anton pikir.
__ADS_1
Sebelum Anton bersuara, Ria sudah mendongak dan menatap pria di samping meja kerjanya dengan heran.
"Masih ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Ria pada Anton yang kini tengah terpaku menatap dirinya, Anton gelagapan dan menggaruk tengkuknya seraya nyengir kuda.
'Ternyata dia lebih tegas dan galak dari kakaknya,' Anton bergumam dalam hati, melihat Anton yang hanya diam membuat Ria semakin tak enak.
"Kalau masih ada yang di butuhkan, dan saya bisa bantu, sebisa mungkin saya bantu. Jika sudah tidak ada yang di perlukan, maaf saya sedang sibuk dan tidak bisa menemani anda," ucap Ria setelah dirinya berubah posisi menjadi berdiri dan menatap jengah pria yang seumuran dengan pacar kakaknya.
"Huft, maaf mengganggu. Sebenarnya saya ingin makan siang di temani kamu-" Ria membuang nafas melalui mulutnya lalu berkata, "maaf saya sedang sibuk, anda bisa lihat sendiri bukan. Jadi maaf saya tidak bisa menemani anda, lagi pula anda bukan atasan saya dan ini belum jam makan siang," tandas Ria tegas, yang malah membuat Anton semakin tertarik dengan kepribadian gadis ini.
"Ah, iya saya tau. Kalau begitu saya permisi," Anton meletakkan tangannya di dada dan sedikit membungkuk sebagai tanda berpamitan, sebenarnya Anton berharap gadis ini tahu jika dia melakukan ini karena ingin memuji betapa kerennya dirinya.
Anton yang sedang menunggu lift terbuka, mengumpat dan berdecak sebal berkali-kali karena baru kali ini ada seorang wanita yang menolak pesonanya. Seorang Anton Wijaya di tolak seorang wanita, bukan di tolak, tapi belum menerima, ya belum menerima dirinya karena belum mengenal sosoknya, Anton menghibur dirinya sendiri.
Anton menatap penampilan dirinya melalui pantulan kaca yang berada di lift tempat dirinya berada sekarang, membenahi kemeja yang sengaja dia gulung sampai siku dan menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Gue masih tampan gini, tapi itu anak udah nolak pesona gue. Apa dia ngga tahu, banyak wanita bertekuk lutut di hadapan gue agar bisa sekedar makan siang atau mengobrol," geram Anton mengingat kecuekan Ria tadi.
***
__ADS_1
Di dalam apartemen Reno, Ara gelisah, ingin sekali keluar dari sana akan tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia hanya tahu jalan keluar dan masuk hanya melalui jalan saat dirinya dan Reno datang serta pergi, selebihnya tak tahu.
Mungkin ada lift, eskalator atau pun tangga gawat darurat. Akan tetapi dia tak tahu di mana tempatnya, lagi pula jika keluar tanpa izin Reno terlebih dahulu pasti pria itu marah.
Ara hanya mendengus kesal, biasanya yang setiap saat bisa pergi kemana pun dan kapanpun kali ini terbatasi, hingga perhatian nya teralih saat bunyi bel terdengar. Ara hendak berlari namun rasa sakit itu belum hilang, dengan sedikit tertatih dan menyeret salah satu kakinya, Ara melangkah menuju pintu.
Sebelum membuka, Ara melihat terlebih dahulu siapa yang memencet bel, namun sebelum Ara sampai suara dari interkom membuat Ara tersenyum.
"Mbak Ara, ini saya satpam lantai ini. Tadi kata satpam lantai dasar Mas Reno memesan sesuatu buat mbak lewat online!" seru orang yang ternyata adalah satpam di mana dia menjaga lantai tempat Reno tinggal.
Ara segera membuka pintu itu, tidak penuh hanya separuh. Dan si satpam mengulas senyum, lalu menyerahkan dua buah paper bag yang langsung di terima Ara dan mengucapkan terima kasih.
Ara segera membawa paper bag tersebut setelah membukanya satu persatu, senyum perempuan itu mengembang kala ada makanan kesukaannya di dalam salah satu paper bag tersebut.
"Ternyata dia pengertian," gumam Ara sambil tersenyum senang, dan saat membuka paper bag kedua senyumnya juga merekah.
Kaos berwarna kuning agar besar dan celana panjang terbuat dari kain, ada juga daster yang panjangnya sampai mata kaki dan berlengan di atas siku.
Dering ponsel Ara berbunyi, dengan sigap perempuan itu berjalan menuju meja makan tempat tadi dia menaruh ponsel karena ingin membuat makan siang dan ternyata kekasihnya sudah memesankan makanan untuk dirinya.
__ADS_1