Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 36


__ADS_3

"Bisa lepas ngga?" Sera menatap tajam lelaki yang kini memegang lengannya, "ngga," jawabnya malah menyentak lengan itu dan membuat Sera kini berada di dalam dekapan lelaki itu.


"Aku sudah menunggu dirimu selama bertahun-tahun, Sera. Tapi sepertinya penantianku sia-sia, katakan, apa salah dan kekuranganku hingga kau tak bisa membuka hati untuk diriku?" lelaki itu bertanya dengan nada frustasi.


'Tidak ada yang salah dan kurang dalam dirimu, Ben. Hanya saja aku tidak bisa mencintai laki-laki lain selain Rendra, lelaki yang telah menempati seluruh ruang hati dan pikiran ku,' sayang kata kata itu hanya bisa Sera katakan di dalam hati.


"Kapan mama dan papamu akan kembali ke Indonesia? Aku siap bertemu mereka dan aku akan melamarmu," Beny, lelaki yang sudah mengejar cinta Sera tapi tak kunjung terbalas, lelaki itu bertanya setelah melerai pelukan itu dan menatap lekat wajah cantik yang selalu mengusik tidurnya.


"Aku tidak tahu, lagi pula untuk apa mereka kembali?" sebenarnya Sera mengharap hanya Rendra yang pulang ke Indonesia dan mereka akan hidup berdua.


Melihat wajah lelaki yang ia sukai kini bertambah dewasa bertambah tampan, membuat Sera semakin tergila-gila pada adik angkatnya tersebut. Rendra memang sering memposting kegiatannya, sehingga itu busa membuat Sera tahu aktivitas Rendra.

__ADS_1


Namun, sudah beberapa hari ini, Rendra sudah tidak terlihat aktif di media sosialnya. Dan itu membuat Sera rindu.


"Apa ada pria lain yang ada di hatimu? Siapa? Bukankah kau selalu menghindari semua pria, termasuk aku," Beny mencecar Sera dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah ada jawaban akan tetapi bagi Sera itu sulit untuk di katakan.


"Aku mau pulang," Sera menarik tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Beny yang terpaku dengan satu pertanyaan, Apa alasan Sera menolak cintanya, bukankah dia tidak memiliki teman lelaki yang dekat.


Beny mengenal seluruh keluarga Sera, termasuk Rendra. Beny menggeleng, menampik pemikiran di luar nalar. Tidak mungkin Sera jatuh cinta pada Rendra yang statusnya adalah adiknya, jika Sera benar benar mencintai Rendra itu tidak akan mungkin terjalin dengan mudah.


Melihat adikmu hancur kau pasti juga akan hancur bukan, jadi jangan salahkan aku jika kau menangis karena penolakan mu." Beny menyeringai puas menatap punggung Sera yang telah tertelan tembok.


***

__ADS_1


"Kenapa kau bisa seceroboh ini, hmm?" Rea hanya tersenyum lalu melingkarkan tangannya di pinggang seorang wanita yang ia panggil Bunda. Mereka berempat tidak jadi kerumah Raditya karena Ria menelepon Rea dan meminta keponakan nya itu datang, Ria menunggu Rea di obati terlebih dahulu baru meneleponnya begitu mata-mata sang suami mengabari jika Rea terluka.


"Ini tidak begitu sakit, Bunda. Jadi tidak usah khawatir," Rea mengusap lembut lengan wanita yang tidak melahirkan dirinya tapi ikut menggendong dan membesarkan serta merawat dirinya.


"Bagaimana tidak khawatir?!" Ria berteriak karena kesal, mencemaskan Rea sama saja mencemaskan orang yang tidak perduli akan kecemasan orang lain.


"Kau tahu, papamu tadi segera menutup rapat begitu mendengar kau terluka," terdengar isak tangis, "maaf buat Bunda cemas," ujar Rea yang langsung mencium dan memeluk Ria.


Hati Rangga ikut bersedih melihat begitu banyak orang yang ikut merasakan kesakitan Rea, tidak seperti keluarga besar nya. Yang tidak akan pernah perduli kecuali uang.


__ADS_1


Ini visual Kak Sera, versi saya. Tar visual yang lain nyusul ya, pantengin terus biar tahu wajah Rea versi penulis, di jamin syuka deh hehehe.


__ADS_2