
Setelah adegan adu mulut, Rara memilih masuk ke kamar ayahnya, sedang Reno pergi dari sana. Sampai di dalam ruangan ayahnya, Rara langsung menyerahkan kantong plastik berisi camilan yang tadi dia beli bersama Reno pada Ria, adiknya menerima dengan senang hati, namun sedikit kecewa hingga Rara berkata, "nanti dia akan belikan setelah ke Masjid," baru lah Ria tersenyum dan mengangguk.
Atmosfer di kamar ayah Rara sangat panas, Rara tahu dia saat ini salah karena membawa pria lain kedalam kehidupan mereka, akan tetapi hanya pria atau Reno saja yang bisa menolong dan mengerti keadaan keuangannya.
Rara menghenyakkan bobotnya di sofa di samping Ria, netranya sesekali melirik kearah Om Ridwan dan Om Amat. Terdengar helaan nafas bernada kecewa yang Rara dengar.
"Nak Rara, bagaimana? Kamu memutuskan mau menikah dengan Dion anak Om 'kan?" Om Amat membuka percakapan, Rara diam belum ingin menjawab. Percuma menjawab sekarang, biarkan sementara seperti ini.
"Ow nggak bisa dong mas, Rara harus menikah dengan Fandi anak saya," Om Ridwan tidak terima, netranya menatap nyalang teman sahabatnya. Rara dan Ria saling pandang dan mengedikkan bahu tidak acuh.
"Kalau aku di suruh memilih siapa yang akan menikah dengan kakak, aku pilih pacar kakak yang tadi. Walau tua dia kalau cinta pasti sampai mati atau istilah sekarang bucin akut, kakak tahu maksud Ria 'kan?" Ria berbicara berbisik, tidak enak jika terdengar oleh mereka.
"Dan seperti nya pacar kakak tadi sangat mencintai kakak, lihat saja banyak suster cantik bersliweran di depannya dia malah memilih memejamkan matanya. Aku jamin deh kak, dia itu setia dan cuma kakak yang ada di hati plus hatinya," Ria kembali berbisik lalu terkikik.
'Sebenarnya aku juga nyaman dengan Om Reno, tapi aku sukanya sama Fajar,' monolog Rara dalam hati.
Kak Fandi masuk setelah mengetuk pintu dan di ikut i, Dion serta Fajar.
"Yah Fandi izin ke masijd dulu, udah jam 11.40." pamit kak Fandi pada ayahnya, Om Ridwan pun pamit pada ayah Rara dan berjanji nanti atau besok akan kembali mengingat banyaknya pesanan yang mereka terima. Kata Om Ridwan, dia adalah juragan batik dan kini merambah ke luar kota. Dan kelak harta itu akan di berikan pada Fandi agar di kelola, oleh sebab itu Om Ridwan ingin Rara menikah dengan Kak Fandi agar bisa mendampingi dan membuat kehidupan ayahnya atau teman Om Ridwan hidup mapan.
Rara selalu tersenyum menanggapi ucapan mereka, Rara lebih suka membahagiakan ayahnya dengan hasil keringatnya sendiri.
Menjelang siang keadaan ramai, Rara berpamitan mau pulang. Seperti perintah Mas Seno kemarin, Rara memberikan baju kotor milik ayahnya agar di cuci pihak Rumah Sakit. Sedang miliknya akan dia cuci sendiri.
Fajar juga menyarankan agar Rara libur dahulu beberapa hari mengingat ayahnya baru operasi, namun Rara tidak mau dengan alasan nanti gajinya akan terpotong lagi.
Sebenarnya tidak masalah jika gaji Rara bulan ini di potong, toh dia masih memiliki uang yang Reno berikan. Bahkan jika dia tidak bekerja sebulan pun tidak masalah, gaji sebagai pacar sewaan bisa mencukupi kesehariannya.
__ADS_1
Saat Rara menyetop bus, tiba tiba ada mobil berwarna hitam menghadang jalannya. Si pengendara membuka jendela pintu mobil tersebut lalu melempar senyum pada Rara, Rara mengangguk pertanda membalas sapaan itu.
"Ayahnya Mas Reno," Rara menyapa orang yang tidak lain adalah ayah dari Reno, pacar sewaan nya.
"Masuk," titahnya pada Rara, setelah membuka pintu dan bergeser kearah pintu lain. Rara hanya bergeming, diam mencerna maksud permintaan ayah Reno.
"Ayo om antar, kebetulan tadi om lewat sini. Dan Reno memberitahu jika ayah kamu sedang operasi dan di rawat di sini," Rara berjalan mendekat lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa tidak apa apa Rara masuk dan duduk di mobil mahal ini?" tanya Rara polos, Om Yudha ayah dari Reno terkekeh.
"Siapa yang akan memarahimu? Masuk dan kamu saya antar ke rumah, kamu bisa istirahat sebentar, di sana nanti ada Seno dan mbok Ijah yang akan menunggu ayah kamu," Om Yudha menepuk kursi di sebelah nya.
Rara menurut, masuk lalu duduk dan menutup pintu itu. Rasanya udara di mobil itu dingin, AC mobil ini menyala ternyata.
"Oma Reno datang dari luar negeri, dia sangat menyayangi Reno. Apapun yang Reno suka pasti dia juga suka, termasuk kamu," kata Om Yudha sambil menunjuk Rara.
"Tidak usah takut, oma nya rene tidak menggigit kok," celetuk Om Yudha yang langsung membuat Rara tersenyum.
"Mengenai mama nya Reno tidak usah di ambil hati, dia seorang ibu. Dan di mana mana seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, pun Tante , mamanya Reno," Om Yudha menasehati.
"Dan kamu tahu, baru kamu lho perempuan yang Reno bawa pulang. Padahal dulu sempat dia bilang tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan Ara nya," Rara mengernyit heran, lagi lagi nama Ara menganggu pikirannya.
"Om tahu siapa Ara?" tanya Rara hati hati, Om Yudha menoleh lalu tersenyum hangat.
"Kata Reno kamu itu Ara nya, gadis yang membuat seorang Reno menjauh dari para wanita, dan betah melajang hingga umur tiga puluh tahun lebih. Padahal kami sudah memberikan beberapa wanita yang bernama Ara, tapi dia menolak," Om Yudha panjang lebar menerangkan.
'Siapa Ara?' hanya itu yang selalu ada di benaknya.
__ADS_1
"Itu rumahmu?" tanya Om Yudha sambil menunjuk rumah yang tidak terlalu kecil tapi terlihat luas dan rapi di halaman depannya.
Rara menoleh lalu mengangguk, kemudian turun setelah mengucapkan terima kasih. Rara segera masuk dan menguncinya dari dalam. Dia segera membereskan rumah, memasak sayur yang akan dia bawa kerumah sakit nanti, lalu mandi dan mencuci baju.
Setelah menjemur baju bajunya, Rara istirahat. Ria memang Rara suruh mencuci pakaian sendiri, toh ada mesin cuci jadi tidak terlalu lelah. Mengenai piring dan gelas, harus segera mereka cuci setelah selesai makan.
Memejamkan mata sebentar agar lelahnya hilang itu harapan Rara. Di dalam mimpi Rara melihat ada sebuah mobil melintas dengan cepat, dan seorang pemuda berjalan di trotoar. Kecepatan mobil itu semakin bertambah hingga, "kak awas, ada mobil!!" Rara terbangun seketika dan nafasnya terengah engah.
Di ambilnya air putih yang selalu dia sediakan di kamar, menengaknya hingga habis.
"Mimpi yang aneh," gerutu Rara, "tidak biasanya aku mimpi di siang hari. Benar kata orang tua dulu, jangan tidur di siang hari. Nanti mimpi buruk," gumam Rara lirih.
Netra Rara melirik jam dinding yang menempel di atas pintu kamarnya, sudah pukul setengah dua. Rara menghela nafas, ternyata sudah lama juga dia tertidur. Rara melirik sekilas ponselnya, ada beberapa pesan di sana.
(Hari ini loe libur?) Dari Rania.
(Iya, sudah izin dua hari,) balas Rara di iringi emot tersenyum.
(Huaaa, aku sendirian dong) balas Rania di sertia emot menangis lima biji, Rara terkekeh
(Ada mbak Susi dan Fajar kan) balas Rara.
(Mbak Susi belum datang, tapi ada cewek yang nganti in posisi loe di kasir) tulis Rania yang membuat Rara mengernyit bingung.
(Siapa? Orang baru?) balasan dari Rara.
(Katanya dari pusat, cuma nganti kalau loe izin) jawab Rania.
__ADS_1
(Lalu mbak Susi Susanti?) tanya Rara lagi, se ingat nya, minimarket tempat dia bekerja belum memiliki cabang, yang menggantikan posisi nya dari pusat mana? Rara linlung.