
"Bagaimana perkembangan usaha yang sedang kamu jalani, Anton Wijaya?" Anton mencebik mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir ayah sahabatnya, nggak anak nggak bapak sama saja, suka banget bikin kesel.
"Ow, jadi temen nak Eno ini pengusaha muda?" nenek tersenyum lebar, "dia udah nggak muda, Nek," seloroh Ria yang membuat semua orang tertawa, tapi Anton hanya tersenyum kecut.
"Udah punya pacar atau istri mungkin?" Tante Rina ikut menimpali dengan pertanyaan, "pacarnya banyak tante, gonta ganti terus kata kak Rara eh kak Ara," Ria kembali bersuara dan meralat ucapannya ketika menyebut nama kakaknya.
"Wah, bagus itu. Nggak apa mumpung masih muda dan belum punya istri, tapi orang kaya nak siapa namanya?" nenek memajukan wajahnya menatap Anton seraya bertanya.
"Anton, Anton Wijaya, Nek," Ria kembali menjawab, "kamu sepertinya lebih tahu tentang dia ya. Ri," seloroh Tante Rina yang langsung di angguki nenek, sedang Ria mendelik tak terima.
__ADS_1
"Dia itu 'kan temen bang Reno, dan kak Ara pernah cerita tentang dia, jadi ya Ria tahu sedikit sedikit," elak Ria membela diri, "tapi nenek sama tante setuju kok kalau kamu sama nak Anton. Iyakan, Bu?" Tante Rina menahan senyum dan menoleh meminta pendapat pada sang ibu, dan sang ibu mengangguk dengan cepat.
Anton tak sadar tersenyum mendengar jawaban itu, yang berarti ada lampu hijau dari keluarga perempuan yang dia sukai. Dan Anton berjanji akan berhenti bermain dan memainkan wanita jika Riana sudah menerima cintanya, dan dia akan seperti Reno yang hanya akan setia pada satu wanita.
"Ish, tante apa sih," gerutu Ria sebal, lalu semua kembali tertawa. Pintu di ketuk dan masuklah sosok lelaki, "eh kak dari mana?" Tante Rina bertanya pada kakak iparnya.
"Beli ini, hari ini Ara pulang 'kan?" Ayah Andri bertanya sambil menunjukkan bungkusan plastik yang sengaja dia beli saat perjalanan pulang. Tante Rina dan nenek mengangguk mengerti.
"Ara, nak kamu-" ucapan Ayah Andri menggantung kala melihat Reno dan Ara menatap ponsel yang di mana ada orang sedang bersuara di sana.
__ADS_1
Ara menoleh dan tersenyum, lalu telunjuknya ia letakkan di bibir bermaksud memberitahu agar lelaki yang ia anggap paman diam terlebih dahulu. Ayah Andri menurut, dengan jalan mengendap endap, lelaki itu melangkah mendekati putrinya dan calon memantunya.
"Ra, tolong, share lokasi rumah yang kamu tinggali ya. Biar nanti kak Fandi sama ayahmu kesana," ucap Kak Fandi dari seberang, Ara menoleh kearah Reno meminta pendapat, lelaki itu menggeleng tanda tak setuju.
"Ra, kita akan menikah. Ayahku sudah menentukan tanggalnya lho," Reno segera bangkit dan menatap tajam Ara, Reno hampir memekik saat Ayah Andri memukul kepalanya karena kesal putrinya dipelototi. Reno menoleh dan nyengir kuda memperlihatkan barisan gigi giginya yang putih, ia lupa jika ayah wanitanya juga ada di sana.
"Maaf," katanya setengah berbisik sambil menatap penuh iba pada calon ayah mertuanya, karena tak ingin lelaki di seberang sana mendengar suaranya, Ara tersenyum melihat Ayah Andri mengacungkan tinjunya kearah wajah Reno, sedang lelakinya menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Ra," Ara tersentak kaget saat suara Kak Fandi yang sedikit kencang karena Ara tak juga menyahut, "eh, iya, Kak," jawab Ara gelagapan.
__ADS_1
"Mana alamat rumah barumu, share lock ya. Biar aku sewaktu waktu kangen kamu bisa langsung kesana," Kak Fandi tidak menyerah membujuk wanita itu, karena saat di desak kenapa tadi tidak menunggu dirinya. Ara tidak mengatakan apa alasannya.