Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Part 12


__ADS_3

Waktu liburan kenaikan kelas dan kelulusan sudah usai, kini waktunya semua masuk ke sekolah masing-masing, masa orientasi pun selesai. Reno tersenyum menatap penampilan anak gadisnya, rambut panjangnya di kuncir kiri kanan dan masih memakai seragam bawahan biru dengan atasan putih.


"Papa tidak menyangka kalau tuan putri papa sudah besar, dan kini sudah SMP," Rea tersenyum mendengar ucapan sang ayah, "walau bagaimana pun, Rea tetap anak kecilnya papa kok," Rea menghibur Reno yang terlihat sedih, Reno mengangguk lalu memeluk putrinya.


"Sekolah yang bener, nanti papa yang jemput, bunda mu sedang ke dokter," ujar Reno mengingatkan, "Bunda Ria sakit apa, Pa?" Rea bertanya dengan nada khawatir dan cemas, Reno tersenyum lalu mengecup pipi Rea.


"Katanya Rea pengen punya adik," Reno tersenyum lalu berdiri dan membenahi penampilan rambut Rea, ya, setiap hari Reno selalu mengurus, menyiapkan seragam dan menguncir rambut Rea.


"Beneran?" netranya tampak berkaca kaca, Reno mencebik lalu mengangguk, "Rea pengen punya adik kembar, kaya teman Rea," gadis itu berujar, Reno mengangguk walau dalam hati merasa sedih karena mengingat putranya yang sudah hilang bertahun tahun dan sampai sekarang belum di temukan.


"Bukannya mama juga punya kembaran, dan kata kakek kembaran mama ada di deket buyut," gadis ini selalu mengingat apa yang orang ucapkan dan ceritakan, Reno kembali mengangguk.


"Jika kembar seperti itu, apa tidak takut tertukar?" Reno tertawa kecil mendengar pertanyaan polos putrinya, "mamamu dan tantemu memang wajahnya sama, tapi hatinya dan sikapnya berbeda," Reno mengambil tas milik Rea lalu menyerahkan, dan segera diterimanya tas itu kemudian diletakkan di punggungnya.

__ADS_1


"Maksud papa, kembaran mama jahat, sedang mama baik?" Reno berhenti di depan pintu saat mendengar pertanyaan Rea, memang Rea memiliki perasaan lebih peka dan itu membuat Reno terkadang sedikit kewalahan, apalagi dengan sifat ingin tahunya.


"Bukan begitu, Sayang. Hanya saja...sudahlah, ayo siap siap berangkat ke sekolah, nanti terlambat," Reno mengalihkan pembicaraan, takut jika putrinya ikut membenci saudari kembar Ara, mamanya.


"Hish, papa mah," gadis itu cemberut, Reno tertawa melihat wajah menggemaskan putrinya. Lalu keduanya keluar kamar Rea dan turun menuju ruang makan dan menyantap sarapan yang sudah asisten rumah tangga mereka siapkan.


"Non Rea mau bawa bekel?" tawar mbok Ima, Rea diam tampak sedang berpikir. Sesaat kemudian mengangguk, mungkin nanti bisa ia berikan pada anak itu, kemarin dia melihat ada anak sekolah lain yang menyendiri. Sedang teman temannya sedang menyantap jajanan yang mereka beli di kantin, sekolah Rea terbagi menjadi beberapa semacam kasta. Tinggi, sedang dan biasa. Sedang Rea berada di sekolah yang paling bagus dan mahal, hanya letak kantinnya saja yang sengaja tidak di pisah, hanya di buat seperti foodcourt. Jadi jika jam istirahat mulai, kantin tersebut akan penuh dengan anak anak yang mengantri makanan, dan beberapa orang sibuk mengantar makanan ke meja pemesan masing-masing.


***


Beberapa menit kemudian sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gerbang, senyum Rendra mengembang kala melihat sosok gadis berkuncir 2 dan memakai seragam sama seperti dirinya turun.


Terlihat sang ayah memeluk lalu mencium gadis itu, kemudian gadis itu berjalan memasuki gerbang itu dan ayah dari gadis itu masuk kedalam mobil lalu melesat pergi.

__ADS_1


"Hai," Rendra menyapa gadis itu, gadis berseragam biru putih itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya, "manggil aku?" tanya gadis itu sambil menunjuk dirinya, Rendra mengangguk sambil tersenyum.


"Masih ingat aku?" tanyanya mencoba mengingat kan, Rea mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di dagunya yang membuat Rendra gemas, 'kenapa dia lebih menggemaskan dari Diva?' gumam Rendra dalam hati.


"Hai Rea," gadis yang di panggil menoleh kemudian tersenyum, "Daffa," sapa gadis itu kembali. Sedang Daffa tersenyum senang, melihat Rea baginya seperti mood boster yang akan membawa kebaikan dalam seharian ini.


"Masuk yuk," ajak Daffa, Rea menoleh lalu menatap Rendra, "kamu sekolah di sini juga?" tanyanya yang langsung di angguki Rendra, "aku sekolah di sana," Rendra menujuk sekolah yang menempati tingkat nomer 2, Rea mengangguk lalu kembali tersenyum. Entah kenapa jika bertemu dengan anak lelaki ini dia begitu senang dan bahagia, ada rasa nyaman yang tumbuh.


"Rea, ayo," Daffa menarik tangan paksa tangan Rea, membuat langkah Rea terseok seok.


"Sampai ketemu lagi, Re!" Rea berteriak pada Rendra, dan anak lelaki itu tersenyum lalu mengangguk, "ternyata dia ingat namaku," gumamnya lirih.


***

__ADS_1


"Kenapa sih, kamu mau ngomong sama orang kaya dia?" tanya Daffa terdengar suka dengan sikap ramah Rea pada Rendra, "lalu aku harus bagaimana?" ketus Rea, Daffa mendelik kesal.


"Sama akuuu aja, ngomong nya judes, sok galak, dan nggak ada lembut lembutnya, tapi giliran ngomong sama anak miskin kaya orang tadi lembut," cibir Daffa yang kemudian mendesah kesal karena Rea meninggalkan dirinya, dan Rea berjalan ke kelasnya.


__ADS_2