
Pagi harinya setelah cukup alot meyakinkan Ara tentang sesuatu yang ingin wanita itu liat, akhirnya Reno memilih pergi dari kamar itu dan tidur di sofa ruang tengah.
"Lho, Eno. Kok tidur di luar?" Nenek bertanya heran, Reno yang baru saja membuka kedua matanya hanya tersenyum, bingung harus menjelaskan apa pada cucunya yang polos itu.
"Lho, Bu. Kok ini anak tidur di sini?" ganti Om Indra yang bertanya, Reno merubah posisi duduknya. Dan menatap sebal pada pria yang memiliki wajah sama dengan ayah Ara-nya, sedang pria itu melengos pura pura tidak tahu.
Om Indra tahu, Reno sedang menahan hasrat untuk tidak menyentuh keponakannya. Om Indra menyukai pria itu karena mampu mengontrol emosinya, dan berbicara apa adanya. Yang terpenting bisa menjaga dan melindungi Ara dari ayah sambungnya.
"Ya sudah sana masuk, lanjutkan tidurnya di dalam," usir sang bulek yang sepertinya tahu sesuatu. Reno mengangguk dan segera masuk kekamar Ara, di sana wanita itu tengah tidur dengan nyenyak tanpa merasa terganggu.
Reno tidur di belakang Ara karena wanita ini menghadap dinding, segera tangan itu melingkar di pinggang Ara. Menyelusupkan kepalanya di tengkuk wanita itu dan mengendus bau keringat serta parfum yang bercampur.
"Eeungh," Ara mengeliat lalu membuka mata dan terkejut kala ada tangan di pinggang nya, namun senyumnya mengembang kala ada bau parfum yang dia kenal. Refleks Ara membalik badannya dan berhadapan dengan Reno, menatap wajah Reno yang sedang pura pura tidur.
"Entah sejak kapan aku mencintaimu, tapi aku ngga mau jika berjauhan dengan dirimu. Kau begitu gigih mengejarku, dan meyakinkan bahwa kau yang terbaik dan semua terbukti. Walau kau sering menyebalkan, tapi aku sering rindu akan sikapmu itu. Aku mencintaimu, Kak Eno," bisik Ara yang kemudian mencuri kecupan di bibir tebal Reno, lalu Ara menyembunyikan wajahnya di dada Reno yang lebar karena malu. Bagaimana kalau pria ini melihat dia sedang menatap dan mencium bibirnya, padahal selama ini dirinya jual mahal. Walau sering menikmati apa yang pria itu berikan.
__ADS_1
"Aku tadi nggak bisa tidur karena kau marah," keluh Ara yang masih menyembunyikan wajahnya, ucapan wanita itu membuat senyum Reno mengembang, ternyata mereka sama. Tidak bisa tidur jika habis adu mulut, "dan aku bahagia saat baru membuka mata ada kau di sampingku," sambung Ara yang tiba tiba merasa sesak karena Reno memeluk tubuhnya erat, seperti hendak meremuk dan menjadikan tubuh mereka satu.
"Ah," Ara merintih kesakitan, "maaf, maaf, maaf," Reno segera merenggangkan pelukan itu, "kamu mau menbunuh aku!" ketus Ara yang kemudian merubah posisi nya menjadi duduk.
"Aku hanya terlalu senang, Ra, saat kau mengatakan kau mencintaiku," Reno ikut duduk, Ara melengos merasa malu.
"Akhirnya setelah bertahun tahun perasaan ini terbalaskan," katanya terdengar lega seraya meletakkan kepalanya di bahu Ara.
"Kalian belum resmi, jadi jangan macam macam ya!" Om Indra tiba tiba masuk membuat kedua insan itu terkejut, beruntung mereka tidak sedang melakukan yang tidak tidak.
"Ayah kenapa?" bocah lelaki berumur tujuh tahun tengah mendongak menatap wajah kesal ayahnya, Om Indra menarik nafas lalu menghembuskan kasar Kemudian menggeleng seraya mengusap kepala anak bungsunya.
Kini Om Indra menyadari, walau wajah mereka sama namun sifat dan perilaku mereka berbeda. Sama seperti dirinya dan Andri, ayah kandung Ara. Om Indra suka bertindak sesuka hati dan tidak memperdulikan orang lain, sedang ayah Ara selalu berpikir sebelum bertindak dan tidak tegaan.
Dan kini, Ara, keponakan itu menuruni sikap dan watak ayahnya yang pendiam dan penyabar, namun sekali di ganggu dia bisa menghancurkan hidup orang itu.
__ADS_1
Termasuk Kevin ini adalah tipekal seperti sang kakak, pendiam dan peka sekitar.
"Kevan mana?" Om Indra mencari putranya yang lain, "lagi sama ibu," jawab Kevin yang kemudian melangkah menuju kamar kakaknya, Om Indra hanya mendesah kesal. Lupa jika putranya yang pendiam ini juga pencemburu namun enggan mengatakan langsung. Om Indra langsung menuju keberadaan istri dan putranya yang lain.
Di kamar Ara, Reno tengah menyiapkan kejutan untuk calon mertuanya tanpa sepengetahuan Ara tentunya.
"Om, kakak mana?" Reno menatap kesal wajah pria kecil di depannya, sangat mirip dengan Om Indra, sikap menyebalkannya juga sama.
"Panggil aku kakak, bocil," desis Reno yang kemudian beranjak dan menghampiri Kevin.
"Namaku Kevin, Om," pria kecil itu tidak terima di panggil bocil, "ck aku juga nggak mau di panggil, Om," kata Reno sambil berdecak dan menarik tangan bocah itu.
"Panggil aku kak Reno atau kak Eno," perintah nya pada bocah itu, bocah itu mencebik lantas menggeleng. Ara yang tengah selesai mandi dan sedang memandang kedekatan mereka tersenyum, ternyata pria itu menyukai anak kecil.
"Ya sudah kalau nggak mau, aku juga bakal panggil kamu Bocil," Reno sedikit menekankan kata bocil yang membuat pria kecil itu tidak terima.
__ADS_1