Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 9


__ADS_3

Rara sebenarnya takut hanya berduaan dengan Reno, tapi mengingat Reno yang tidak memiliki pasangan membuat Rara berfikir pria di depannya tidak normal, jadi dia merasa aman, itu pikir Rara.


"Kamu ngga perlu takut, saya ngga akan nyakitin kamu," Rara hanya tersenyum kecut mendengar perkataan resto, 'kenapa dia sering berkata sesuatu yang sering ada di pikiranku' monolog batin Rara berbicara.


Tok tok tok, pintu kamar Reno di ketuk dari luar, Reno segera keluar dan mendapati Seno sedang berdiri dan membawa paperbag, "Tuan," sapa Seno sopan. Reno berdecak tidak suka, sahabatnya ini selalu saja formal.


Seno adalah sahabat Reno dari kecil, di antara semua sahabat Reno hanya Seno yang terbilang tidak mampu. Namun baik Reno, keluarga Reno dan para sahabat Reno yang lain tidak mempermasalahkan karena sikap Seno yang jujur.


"Nona," sapa Seno begitu dia masuk keruang tamu dan melihat Rara sedang duduk di sana.


"Eh, Pak Seno, em om Seno," Rara canggung harus memanggil pria itu dengan sebutan apa, padahal umurnya sama dengan Reno dan om Diky nya.

__ADS_1


"Panggil mas saja, terdengar lebih sopan dari pada om atau pak," ujar Seno yang lalu kemudian menyerahkan paperbag yang Reno pesan kepada Rara.


"Ini apa?" Rara menerimanya, lalu membuka dan membentangkan gaun yang dia pegang. Rara berdiri lalu mencoba menempelkan pada tubuhnya, dia berdecak karena menurutnya gaun itu terlalu pendek.


"Ngga ada gaun yang agak panjang, di bawah lutut gitu?" Rara menggigit bibir bawah menahan grogi, seumur-umur dia belum pernah memakai pakaian di atas lutut.


Pakaian kerja yang dia pakai adalah celana hitam, kadang jeans. Seingat Rara dia memakai rok terakhir saat masih sekolah menengah atas, lebih tepatnya tiga tahun lalu. Keseharian Rara juga memakai celana panjang dan baju agak kebesaran.


'Hish, kalau ngga butuh duitnya udah ku remes thu mulut,' geram Rara namun dia tahan dan hanya dia katakan dalam hati. 'Tenang, jika dia tidak jadi di jodohkan berarti kan kontrak ini selesai, dan kami ngga akan ketemu lagi trus ayah pasti sembuh setelah di operasi, semangat Rara,


' Rara menghibur diri sendiri.

__ADS_1


Seno berdiri dan melangkah menuju pintu, dan beberapa saat dia masuk bersama si Agus dan seorang wanita berumur empat puluh tahunan.


"Tuan Reno, ini Kamila istri saya," Agus memperkenalkan sang istri pada pemilik rumah, dengan senang hati Kamila, istri Agus mengulurkan tangan hendak berjabat tangan. Karena tidak mendapat sambutan akhirnya Kamila menurunkan tangan nya yang mengantung di udara.


'Sombonggg!' pekik Rara dalam hati, bagaimana tidak sombong di ajak sekedar bersalaman pria itu tidak mau, menatap pun tidak. Tuhan, ternyata ada makhluk seperti dia, semoga kami tidak berjodoh, doa Rara dalam hati. Kenapa dia berdoa agar. tidak berjodoh? Karena menurut Rara orang sombong tidak pantas menjadi temannya.


"Bantu kekasih saya memakai make up setelah dia mandi!" perintah Reno pada Kamila, Rara melonggo mendengar dia di kenalkan sebagai kekasih. Seketika dia ingat, dia kan memang kekasih pria tua ini, kekasih bayaran.


"Baik, Tuan," Kamila mengiyakan dan mengikuti Rara yang melangkah ke kamar setelah Reno menyuruhnya bersih-bersih. Sedang Agus kembali ke meja tugasnya, tinggal Reno dan Seno di ruang tamu.


"Mbak kok betah punya pacar dingin kaya tuan Reno?" Kamila bertanya setelah Raya selesai mandi dan mereka duduk bersebelahan di depan meja rias.

__ADS_1


__ADS_2