
Di luar ruangan tempat Ara menginap, sang nenek dan sang tante menatap wajah Ria, senyum terulas dari bibir keduanya.
"Kamu tahu, Ara adalah cucu nenek, yang dalam arti ibunya adalah anak saya. Karena kamu adalah anak dari putri saya, maka kamu termasuk cucu saya. Panggil saya nenek sekarang," ucap nenek Ara lembut, Ria tidak menjawab dan hanya diam, otak cerdasnya mencoba menangkap ucapan demi ucapan yang wanita paruh baya ini katakan.
"Tidak usah terlalu berat, intinya, kamu cucu nenek dan kamu keponakan tante," tante Rani berujar sembari mengelus punggung Ria.
"Lalu dia?" Ria yang masih mencoba mencerna ucapan mereka langsung bertanya tentang pria yang menurutnya mirip sang kakak.
Mereka bertiga terdiam, bingung untuk memulai dari mana cerita itu.
"Saya, ayah kandung Ara. Kakak perempuan kamu yang sedang sakit di dalam, dan-" Ayah Andri kelepasan bicara, dan sang adik ipar memberikan kode melalui gerakan tangannya agar Ayah Andri diam.
__ADS_1
"Anda ayah kandung kak Rara? Lalu pria yang mengaku ayah yang saat ini bersama kami?" sepertinya otak Ria mulai bekerja dan bisa mencerna yang terjadi di sekitar.
"Kalian hanya satu ibu, akan tetapi berbeda ayah," sang tante menjelaskan, Ria mengangguk mengerti.
"Dan kak Rara sudah tahu?" walau Ria sudah tahu jawabannya akan tetapi hati nya ingin tahu lebih, ketiganya mengangguk bersamaan. Ria tersenyum lebar, tanpa orang tahu hatinya juga bahagia.
Ria membayangkan jika dirinya dan sang kakak hidup bersama nenek juga tante juga om yang mereka miliki, sebenarnya Ria sama dengan Ara. Sosok yang selalu rindu dan ingin memiliki keluarga terutama nenek yang akan selalu memanjakan dirinya. Ria segera menghambur kepelukan sang nenek
"Apa ayahmu Si Gito itu mengizinkan?" Ria menunduk tidak berani menatap netra sang tante, terdengar helaan nafas yang membuat ria mendongak dan menatap ayah Andri.
"Apa ayahmu menyakiti dirimu?" Ria tersentak kaget kala mendapati pertanyaan seperti itu, seakan akan pria di depannya ini sangat mengenal ayah kandungnya. Dengan ragu, Ria mengangguk tapi tanpa menatap mereka bertiga.
__ADS_1
Ketiga orang itu menarik nafas berat, ternyata walau dengan anak kandung saja Pak Gito berbuat tega, apalagi dengan yang bukan darah dagingnya.
"Apa yang sudah dia lakukan padamu?" sang nenek mengangkat dagu Ria agar mau menatap netra tuanya.
Bukankah segera menjawab, Ria. alah menangis dan membenamkan wajahnya di dada sang nenek, "dia menjadikan aku sebagai penebus hutang, Nek," lirih Ria yang membuat kedua perempuan itu tidak bisa berkata apapun.
"Sebenarnya, ayah hendak menukar Kakak, akan tetapi saat itu kakak tidak pulang, jadi aku yang kena imbasnya," tangan Ayah Andri mengepal kuat mendengar anak dari almrh mengatakan pria tidak tahu diri itu hendak menjual anak kandungnya.
"Apa Reno tahu?" Ria mengangguk, "makanya bang Reno sekarang menambah pengawasan untuk kak Rara, dan aku sekarang tinggal di apartemen Mas Seno, asisten bang Reno," tutur Ria setelah tangis nya mulai reda, dan hanya terdengar isakan dari bibirnya.
"Dan aku pernah mendengar jika bang Reno sedang menyusun rencana untuk menangkap ayah," imbuh Ria yang segera mendapat anggukan mengerti dari sang nenek.
__ADS_1