Si Tuan Bucin

Si Tuan Bucin
Si Bucin 42


__ADS_3

"Ya, Mbak Santi," sapa Rara begitu telepon tersambung.


"Maaf malam-malam ganggu," terdengar nada tidak enak di indra pendengaran Rara, seketika perasaan tidak enak menghinggapi perasaan nya.


"Aku izin libur dua hari, mertuaku mengadakan syukuran karena kehamilan adik suamiku," Rara membuang nafas kasar.


"Terserah, berarti jadwal minggu besok aku libur tiga hari langsung!" jawab Rara tegas, kesal rasanya. Ibarat sudah di kasih hati malah minta jantung.


"Kok gitu, Ra?" terdengar protes dari seberang, Rara mendengus kesal, lalu meloud speaker telepon tersebut.


"Ya bisa 'lah mbak, kan minggu ini jadwal liburku ilang, trus lembur lagi dua hari. Biar impas gitu," sahut Rara santai walau hatinya kesal bukan main.


Fajar memyimak percakapan itu, debat sengit tidak terelakkan, Rara sengaja meloud speaker agar Fajar ikut mendengar nya dan memberi saran.

__ADS_1


"Mbak Susi Susanti yang cantik, jangan egois dong jadi orang. Tadi aja bilangnya apa pas mau pulang sekarang bilang apa, seperti pepatah jawa mengatakan 'isuk dele sore tempe' " Fajar berujar membela Rara seperti keinginan Rara walau dalam hati.


"Heh, Fajar! Nggak usah ikut campur deh loe!" suara mbak Susi atau mbak Santi terdengar melengking.


"Ngga ikut campur gimana kalau ada temanku di rugikan, kalau mbak Susi Susanti nekat libur dua hari lihat aja, besoknya aku pastiin mbak udah nggak kerja di sana lagi dan sudah ada pengganti mbak langsung!" seru Fajar, Rara malah menyimak percakapan yang akan membuat tensi darahnya naik saja kalau berbicara dengan mbak Santi.


Terdengar helaan nafas berat dari seberang, Rara tahu mbak Santi atau mbak Susi sedang bimbang. Tapi kini dia tidak perduli, ada ayah yang menunggu dirinya.


Rara dan Fajar saling tatap saat sambungan telepon itu di matikan sepihak, "kok di matikan?" Fajar tersenyum mendengar pertanyaan Rara.


Fajar berdiri dan membayar pesanan yang tadi mereka makan juga pesanan Ria, sungguh Rara merasa tidak enak hati karena sikap Fajar. Mereka akhirnya menuju Rumah Sakit, setelah memarkirkan kendaraan roda duanya. Rara dan Fajar berjalan bersisihan menuju ruang rawat sang ayah.


Saat sampai di depan pintu kamar ayahnya, Rara mendengar Ria, adiknya sedang mengerutu. Akhirnya Rara dan Fajar masuk keruangan itu, ayah dan adik Rara menoleh bersamaan memastikan siapa yang datang.

__ADS_1


"Hah, untung kakak sudah datang," terdengar nada lega di sana, Ria menghempaskan bobotnya di sofa.


"Kalian kenapa?" Rara menyerahkan pesanan adiknya, dan di terima dengan senyum oleh si Ria.


"Tanya saja thu sama ayah, sudah di bilang kak Rara baru otw kesini, tanyaaa terus," ketus Ria menjawab. Fajar mendekat kepada ayah Rara, lalu mengambil tangannya dan menciumnya takzim. Ayah Rara mengusap lembut kepala Fajar dan melempar senyum.


"Siapa, Ra?" cecar sang ayah, Rara menggaruk hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Teman kerja, Yah. Kebetulan satu arah tadi sama dia, ya Rara numpang aja," bohong Rara, dia takut ayahnya akan marah. Entah kenapa fillingnya mengatakan ayahnya tidak setuju Rara dekat dengan Fajar.


"Oh, cuma temen," Ria menimpali, mulutnya sibuk mengunyah nasi goreng yang sudah agak dingin. Rara melirik sekilas kearah adiknya, memberi tahu supaya jangan ikut campur.


"Iya, Om. Saya Fajar, teman satu kerjaan sama Rara," Fajar berkata sebenarnya. Pak Amar mengangguk paham.

__ADS_1


"Aku kira kamu pacar kak Rara, soalnya baru kakak yang di ajak kak Rara menemui ayah," celetuk Ria yang membuat Rara semakin kesal.


"Sudah kamu makan dulu, habis itu pulang biar di anter teman kakak," Rara berujar seraya menepuk pelan pundak Fajar.


__ADS_2