
Reno menatap foto pernikahan dirinya dengan Ara, cukup lama ia memandang foto itu seakan tidak akan pernah bosan. Mengusap foto Ara, mengecup foto Ara, dan berkali-kali menggumamkan nama wanita itu juga seakan tidak lelah mulut itu menyebut nama wanita yang ia cintai.
"Apa dia mirip dengan dirimu, Ra? Pasti ia mirip denganmu, karena kau lihat sendiri bukan, Rea, putri kita sangat dingin dan keras kepala mirip dengan diriku," Reno terkekeh dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri.
Tadi, setelah memarahi dan menyidang Anton, Rea di bawa pergi ke rumah nyonya Wijaya, Reno sebenarnya tidak mengizinkan karena pasti ia akan kesepian. Namun, Rea membujuk papanya agar mengizinkan dirinya tinggal di sana semalam saja, dan mau tidak mau, boleh tidak boleh Rea pasti dan tetap akan kesana, karena putrinya itu mirip dirinya, keras kepala dan pemaksa.
"Padahal aku baru menggendong dirimu saat baru pertama kali keluar dari perut mamamu, tapi penjahat itu harus memisahkan kita. Kamu kemana, Nak. Papa rindu," bisiknya sembari memeluk foto pernikahan itu.
Hampir 7 tahun pelaku penculikan terhadap putranya belum juga ketemu, Reno pun cukup heran. Tidak sedikit detektif, polisi juga anak buah yang ia terjunkan untuk mencari putranya yang hilang. Reno memang belum memberi tahu jika Rea, putrinya itu memiliki kembaran, alasan utamanya karena ia tidak memiliki foto putranya tersebut.
Pernah ia berpikir jika dalang penculikan yang terjadi adalah Pak Gito, akan tetapi bukti belum mengarah padanya karena belum ditemukannya si pelaku. Dan Reno hanya tahu Pak Gito saja yang selama ini membenci dirinya.
__ADS_1
***
Di tempat lain, seorang wanita berjalan dengan pongah dan mengangkat dagunya setelah seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk dirinya, wanita itu berjalan sambil mencibir kearah anak lelaki yang gagal akan dia buat susah setelah menculiknya, dan malah di bawa mantan suaminya.
"Nenek," Sera yang melihat kedatangan Dita berjalan menghampiri, lalu memeluk penuh kasih sayang pada wanita yang telah melahirkan ibunya, Dita tidak membalas pelukan cucunya itu, tangannya hanya mengusap lembut kepala Sera lalu sedikit mendorong bahu Sera agar menjauh darinya.
Sera tidak suka dengan perilaku sang nenek seperti enggan mengakui dirinya cucu tersebut, "kakek kamu mana?" tanya Dita pada Sera yang kemudian melangkah? menuju sofa di mana ada dua anak lain sedang sibuk dengan buku mereka masing-masing.
"Siapa tahu dia mau menikah denganku setelah aku memberitahu keberadaan cucunya, dengan begitu aku bisa menikmati hartanya, lagi pula Andri sudah tidak menikah lagi setelah kematian perempuan desa itu kan, siapa tahu dia nanti terpesona dengan kecantikan yang aku miliki," gumam Dita sambil membayangkan jika dirinya menjadi nyonya Andri Widiyanto.
"Kenapa kau senyum senyum tak jelas seperti itu?" tanya lelaki yang baru saja sampai dan mengandeng jemari cucu sulungnya, Dita menoleh lalu mendongak.
__ADS_1
Sebenarnya mantan suaminya ini masih tampan walau sudah agak berumur, akan tetapi hartanya tidak sebanyak pria pria hidung belang yang memberinya uang dan kenikmatan.
"Mas Rudi sayang, mantan suamiku," seloroh Dita lalu berdiri dan menatap genit mantan suaminya, mencoba menggodanya.
Rudi tersenyum miring lalu berjalan melewati mantan istrinya, duduk di sofa di belakang kedua cucunya yang seperti tak terganggu dengan kedatangan Dita.
"Kenapa kau tidak juga menikah, apa kau tak bisa move dariku?" tanya Dita dengan percaya dirinya, Rudi terkekeh mendengar ucapan mantan istrinya.
"Aku, tidak bisa move on dari mu?" Rudi kembali terkekeh sambil menunjuk Dita dan menggeleng gelengkan kepalanya pelan, "aku hanya ingin tidak mengulangi kesalahan bodohku dulu, lagi pula hatiku sudah mati semenjak dia sudah pergi," Rudi menambahkan perkataan nya, Dita menatap nyalang wajah mantan suaminya, wanita itu tahu maksud lelaki itu.
"Apa kalau dia masih hidup, kau akan mengejarnya?" Rudi diam dan tidak mau memjawab pertanyaan yang sudah jelas Dita tahu jawabannya.
__ADS_1
Dita terkekeh, "lagipula jika wanita kampung itu masih hidup, tidak mungkin kau bisa memiliki dia," ucap Dita mirip ejekan, ketiga anak itu hanya menyimak pembicaraan kedua orang dewasa tersebut yang tidak mereka mengerti sama sekali.