
"Masuk sini, Nak," Pak Gito mempersilahkan Kak Fandi masuk, sedang Ara hanya diam dan menunduk. Kak Fandi mengangguk lalu melangkah masuk dan segera menutup pintu.
"Ayah kamu ngga ikut masuk?" tanya Pak Gito yang tidak melihat Om Ridwan masuk bersama Kak Fandi, "ayah ke kamar bunda, Om," jawab Kak Fandi ramah.
"Bunda kak Fandi di rawat di sini, sakit apa?" Ara bertanya karena mendengar penuturan kak Fandi, lelaki itu tersenyum hangat, senang rasanya mendengar suara wanita yang dia sukai.
"Bunda kemarin malam jatuh di kamar mandi, lalu semalam di bawa kesini. Saat tadi kak Fandi mau selesai mencari makan siang, Kak Fandi melihat om om itu sedang membopong kamu." Kak Fandi menjeda ceritanya, Ara sedikit bingung saat Kak Fandi mengatakan dirinya di bopong om om, pikiran Ara terarah pada Reno.
Ara hanya bisa tertawa dalam hati kala ada yang mengatakan calon suaminya adalah om om, walau tidak di pungkiri Reno dan dirinya terpaut usia yang sangat jauh. Akan tetapi banyak yang bilang untuk seumuran Reno termasuk pria yang matang, belum terlalu tua juga tidak terlalu muda.
__ADS_1
"Lalu kakak ngasih tahu ayah?" Kak Fandi mengangguk mendengar pertanyaan Ara, Pak Gito dalam hati tertawa senang. Usahanya kembali menyatukan Kak Fandi atau putra temannya dengan Ara sepertinya berhasil, buktinya Ara mau berbicara dan menyambut pemuda yang memakai kaos berwarna putih dan memakai celana berbahan kain berwarna hitam, dan memakai sepatu kets berwarna putih.
"Harusnya kamu berterima kasih pada nak Fandi karena dia mengabari ayah, sehingga ayah tahu kamu sedang sakit dan segera kesini. Jangan seperti orang yang katanya pacar kamu tapi ngga bisa menghargai ayah kamu ini," terdengar seperti nada teguran namun cara penyampaian Pak Gito sangat bagus seakan dirinya hutang budi pada Kak Fandi. Tangan Ara menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya, hatinya kesal bukan main saat Pak Gito menyalahkan Reno.
"Terima kasih sudah ngabari ayah Ara ya. Kak," Ara menatap sebentar wajah Kak Fandi, karena Ara melihat Reno tengah mengawasi dirinya melalui kaca yang terdapat di pintu kamar dia di rawat.
"Sama sama, Ra. Kamu itu calon istri kak Fandi, jadi sudah jadi tugas kak Fandi memperhatikan semua yang berhubungan dengan kamu," sahut Kak Fandi yang kemudian mengelus lembut kepala Ara penuh cinta, Reno yang melihat pemandangan itu dari luar kesal luar biasa.
Nenek dan tante Ara yang melihat tindakan Reno bingung bercampur heran.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, kok marah marah terus nendang nendang tembok dan marah marahin tembok yang ngga bersalah?" seloroh sang nenek, Reno melirik nenek Ara dengan sebal, apa neneknya ini tidak tahu jika saat ini dia cemburu, gumam Reno dalam hati.
Sedang sang tante malah tertawa mendengar seloroh an sang ibu dan sepertinya sukses membuat calon keponakannya kesal, Reno menyadari jika Ara terkadang menyebalkan ternyata menuruni sifat sang nenek.
"Kalau di tanya itu mbok ya di jawab, jangan hanya mendelik kaya gitu. Mau kamu saya colok?" nenek berpura pura galak, tangannya yang keriput membuat gerakan menusuk kedua mata dengan jari telunjuk dan jari tengah, Reno segera berjalan kearah nenek Ara dan bersimpuh di kakinya, meletakkan kepalanya di pangkuan wanita tua yang sudah dia anggap sebagai nenek kedua setelah sang oma.
"Calon istri Eno di pegang pegang pria lain, Nek. Gimana Eno ngga kesal!" gerutu Reno yang membuat kedua wanita itu mengerti alasan Reno menendang tembok tadi, dan dengan refleks keduanya tersenyum sambil menggeleng.
"Kamu sudah mendapatkan lebih dari lelaki itu yang berarti Ara sudah memilih dirimu, jadi sudah jangan marah dan jangan cemburu," hibur nenek, kulit tangannya yang sudah di penuhi keriput menepuk nepuk kepala Reno, sedang lelaki itu hanya mengangguk pasrah dan lemah, walau hatinya masih tidak rela.
__ADS_1
Ponsel Reno berbunyi dan segera Reno menarik kepalanya dari pangkuan nenek Ara, menggeser ikon berwarna hijau. Reno hanya diam mendengarkan orang di sana berbicara, dan sesekali Reno mengangguk sambil menjawab, "ya," "oke."