
"Mbak kenapa nangis?" tangan Rara menghentikan pergerakan tangan mbak Kamila yang sudah mulai mencatok ujung rambutnya dan membuat ujung rambut itu menjadi curly.
"Aku terharu akan perjuanganmu," katanya dengan nada sendu, "semoga tuan Reno bisa membahagiakan kamu ya," sambung mbak Kamila tangannya terulur membelai rambut panjang Rara, dan kemudian melirik tuan Reno, entahlah Rara tidak berfikir soal pasangan saat ini.
Hanya uang, uang dan uang agar dia bisa menyembuhkan dan membuat ayahnya sembuh.
"Apa masih lama? Ini sudah cukup malam," Reno membuka suara, jenuh mendengar omong kosong wanita yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan antara dirinya dan Rara, gadis yang dia sewa menjadi pacar.
"Sebentar, Tuan Reno," mbak Kamila menghapus airmata yang sempat mengalir tadi dan melanjutkan mencatok rambut Rara.
Sepuluh menit kemudian, "nona sudah siap, Tuan," Reno yang tadi jenuh menunggu lalu bermain ponsel dan mendengar panggilan mbak Kamila, istri dari penjaga di lantai ini dia mendongak.
__ADS_1
Mata tajamnya menatap penampilan Rara yang baru, "lumayan," kata Reno kemudian berdiri dan melangkah menuju luar. Mbak Kamila yang merasa jerih payah nya seakan sia-sia hanya dengan kalimat 'lumayan' merasa tersinggung.
Mulutnya komat kamit sambil menatap punggung Reno yang ternyata berhenti di depan pintu, "Saya bilang lumayan karena itu kenyataan! Jadi jangan tersinggung," ketus Reno tanpa menoleh, dan mbak Kamila seketika menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, 'apa dia cenayang?' gumam mbak Kamila dalam hati.
Rara mengusap punggung mbak Kamila seraya berkata, "terima kasih mbak, ini sudah bagus kok," dan mbak Kamila tersenyum mendengar ucapan gadis itu.
'Semoga tuan Reno bucin sama kamu non, biar dia tahu rasanya seperti tidak dianggap' tentu itu mbak Kamila ucapkan dalam hati.
Rara memakai sepatu flatshoes yang diberikan Reno bersamaan dengan gaun itu tadi, lalu melangkah mengekori Reno yang masih menunggu dirinya. Keduanya berjalan beriringan menuju lantai bawah, di bawah sana Rara sempat melihat Seno, asisten pribadi Reno menatapnya tanpa berkedip, ingin sekali dia tertawa.
"I-iya," jawab Seno gugup kemudian dia membenahi cara duduknya dan beralih melihat Reno.
__ADS_1
"Saya harus ikut, Bos?" Reno menggeleng tanda tidak perlu, Rara menggigit bibir bawah, membuang rasa cemas dan yang perasaan yang tidak-tidak.
"Bos mau menyetir sendiri?" Reno mengangguk dan menengadahkan tangan, 'c'k irit sekali kata-kata nya' keluh Rara dalam hati.
Seno yang paham segera menyerahkan kunci mobil miliknya, dan dia sangat paham pasti dia di suruh memakai mobil milik Seno yang harganya fantastis wow. Namun ini bukan sekali dua kali dia di suruh memakai mobil mewah Reno.
Setelah menerima kunci Reno mengandeng dan sedikit menarik tangan Rara keluar dari apartemen miliknya, "kunci pintunya setelah mbak-mbak tadi sudah keluar," tanpa menoleh Reno berkata, Rara yang sengaja menoleh hanya melihat Seno mengangguk.
"Om, ketemu sama mama papanya kok jam segini?" Reno berhenti sebentar lalu menatap kesal pada gadis yang berjalan di belakang nya.
"Biasa'kan panggil apa?" wajah tampan Reno mendekat dan semakin maju, dengan sigap Rara mendorong tubuh kekar Reno.
__ADS_1
"M-m-maaf, m-m-mas," Rara berucap dengan terbata, "hmm," Reno hanya berdehem kemudian melangkah menuju basement.
"Selamat malam, Tuan Reno," sapa Agus yang di balas anggukan oleh Reno, dan segera berlalu meninggalkan penjaga itu.